Halloween party ideas 2015

Al khusyu- Mengingat kesempurnaan manusia itu hanya tercapai dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih seperti yang terkandung di dalam surat Al-Ashr, maka Allah bersumpah bahwa setiap orang akan merugi, kecuali siapa yang mampu menyempurnakan kekuatan ilmiahnya dengan iman dan kekuatan amaliahnya dengan amal shalih serta menyempurnakan kekuatan selainnya dengan nasihat kepada kebenaran dan kesabaran menghadapinya. Yang paling penting adalah iman dan amal, yang tidak bisa berkembang kecuali dengan sabar dan nasihat.

Selayaknya bagi manusia untuk meluangkan sedikit waktunya, agar dia mendapatkan tuntutan yang bernilai tinggi dan membebaskan dirinya dari kerugian. Caranya ialah dengan memahami Al-Qur'an dan mengeluarkan kandungannya. Karena hanya inilah yang bisa mencukupi kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat serta yang bisa menghantarkan mereka ke jalan lurus.

Berkat pertolongan Allah, kami bisa menjabarkan makna Al-Fatihah, menjelaskan berbagai macam isi yang terkandung di dalam surat ini, berupa berbagai macam tuntutan, bantahan terhadap golongan-golongan yang sesat dan ahli bid'ah, etape orang-orang yang berjalan kepada Allah, kedudukan orang-orang yang berilmu, perbedaan antara sarana dan tujuan. Tidak ada sesuatu pun yang bisa mewakili kedudukan surat

Al-Fatihah ini. Karena itu Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil maupun Jabur, yang menyerupai Al-Fatihah.

Surat Al-Fatihah mencakup berbagai macam induk tuntutan yang tinggi. Ia mencakup pengenalan terhadap sesembahan yang memiliki tiga nama, yaitu Allah, Ar-Rabb dan Ar-Rahman. Tiga asma ini merupakan rujukan Asma'ul-Husna dan sifat-sifat yang tinggi serta menjadi poros- nya. Surat Al-Fatihah menjelaskan ilahiyah, Rububiyah dan Rahmah. Iyyaka na'budu merupakan bangunan di atas Ilahiyah, Iyyaka nasta'in di atas Rububiyah, dan mengharapkan petunjuk kepada jalan yang lurus merupakan sifat rahmat. Al-Hamdu mencakup tiga hal: Yang terpuji dalam Ilahiyah- Nya, yang terpuji dalam Rububiyah-Nya dan yang terpuji dalam rahmat- Nya.

Surat Al-Fatihah juga mencakup penetapan hari pembalasan, pem- balasan amal hamba, yang baik dan yang buruk, keesaan Allah dalam hukum, yang berlaku untuk semua makhluk, hikmah-Nya yang adil, yang semua ini terkandung dalam maliki yaumiddin.


Surat Al-Fatihah juga mencakup penetapan nubuwah, yang bisa dilihat dari beberapa segi:

1. Keberadaan Allah sebagai Rabbul-'alamin. Dengan kata lain, tidak layak bagi Allah untuk membiarkan hamba-hamba-Nya dalam keadaan sia-sia dan telantar, tidak memperkenalkan apa yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, serta apa yang mendatangkan mudharat di dunia dan di akhirat.

2. Bisa disimpulkan dari asma-Nya, Allah, yang berarti disembah dan dipertuhankan. Hamba tidak mempunyai cara untuk bisa mengenal sesembahannya kecuali lewat para rasul.

3. Bisa disimpulkan dari asma-Nya, Ar-Rahman. Rahmat Allah mencegah-Nya untuk menelantarkan hamba-Nya dan tidak memperkenalkan kesempurnaan yang harus mereka cari. Dzat yang diberi asma Ar- Rahman tentu memiliki tanggung jawab untuk mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Tanggung jawab ini lebih besar daripada tanggung jawab untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman dan mengeluarkan biji-bijian. Konsekuensi rahmat untuk menghidupkan hati dan ruh, lebih besar daripada konsekuensi menghidupkan badan.

4. Bisa disimpulkan dari penyebutan yaumid-din, yaitu hari di mana Allah akan memberikan pembalasan terhadap amal hamba. Dia memberikan pahala kepada mereka atas kebaikan, dan menyiksa mereka atas keburukan dan kedurhakaan. Tentu saja Allah tidak akan menyiksa seseorang sebelum ditegakkan hujjah atas dirinya. Hujjah ini tegak lewat para rasul dan kitab-kitab-Nya.

5. Bisa disimpulkan dari iyyaka na'budu. Beribadah kepada Allah tidak boleh dilakukan kecuali dengan cara yang diridhai dan dicintai-Nya. Beribadah kepada-Nya berarti bersyukur, mencintai dan takut kepada- Nya, berdasarkan fitrah, sejalan dengan akal yang sehat. Cara beribadah ini tidak bisa diketahui kecuali lewat para rasul dan berdasarkan penjelasan mereka.

6. Bisa disimpulkan dari ihdinash-shirathal-mustaqim. Hidayah adalah keterangan dan bukti, kemudian berupa taufik dan ilham. Bukti dan keterangan tidak diakui kecuali yang datang dari para rasul. Jika ada bukti dan keterangan serta pengakuan, tentu akan ada hidayah dan taufik, iman tumbuh di dalam hati, dicintai dan berpengaruh didalamnya.

Hidayah dan taufik berdiri sendiri, yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan bukti dan keterangan. Keduanya mencakup pengakuan kebe-naran yang belum kita ketahui, baik secara rinci maupun global. Dari sini dapat diketahui keterpaksaan hamba untuk memanjatkan permohonan ini jika dia dalam keadaan terdesak, serta menunjukkan kebatilan orang yang berkata, "Jika kita sudah mendapat petunjuk, lalu untuk apa kita memohon hidayah?"

Kebenaran yang belum kita ketahui jauh lebih banyak dari yang sudah diketahui. Apa yang tidak ingin kita kerjakan karena menganggapnya remeh atau malas, sebenarnya serupa dengan apa yang kita inginkan atau bahkan lebih banyak. Sementara kita membutuhkan hidayah yang sempurna. Siapa yang menganggap hal-hal ini sudah sempurna di dalam dirinya, maka permohonan hidayah ini merupakan permohonan yang bersifat peneguhan dan berkesinambungan. Memohon hidayah mencakup permohonan untuk mendapatkan segala kebaikan dan keselamatan dari kejahatan.

7. Dengan cara mengetahui apa yang diminta, yaitu jalan yang lurus. Tapi jalan itu tidak bisa disebut jalan kecuali jika mencakup lima hal: Lurus, menghantarkan ke tujuan, dekat, cukup untuk dilalui dan merupakan satu- satunya jalan yang menghantarkan ke tujuan. Satu cirinya yang lurus, karena garis lurus merupakan jarak yang paling dekat di antara dua titik, sehingga ada jaminan untuk menghantarkan ke tujuan.

8. Bisa disimpulkan dari orang-orang yang diberi nikmat dan perbedaan mereka dari golongan yang mendapat murka dan golongan yang sesat. Ditilik dari pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, maka manusia bisa dibagi menjadi tiga golongan ini (golongan yang diberi nikmat, yang mendapat murka dan yang sesat). Hamba ada yang mengetahui kebenaran dan ada yang tidak mengetahuinya. Yang mengetahui kebenaran ada yang mengamalkan kewajibannya dan ada yang menentangnya. Inilah macam-macam orang mukallaf. Orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya adalah orang yang mendapat rahmat, dialah yang mensucikan dirinya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, dan dialah yang beruntung.

Orang yang mengetahui kebenaran namun mengikuti hawa nafsunya, maka dia adalah orang yang mendapat murka. Sedangkan orang yang tidak mengetahui kebenaran adalah orang yang sesat. Orang yang mendapat murka adalah orang yang tersesat dari hidayah amal. Orang yang tersesat mendapat murka karena kesesatannya dari ilmu yang harus diketahuinya dan amal yang harus dikerjakannya. Masing-masing di antara keduanya sesat dan mendapat murka. Tapi orang yang tidak beramal berdasarkan kebenaran setelah dia mengetahui kebenaran itu, jauh lebih layak mendapat murka. Karena itu orang-orang Yahudi lebih layak mendapat murka. Sedangkan orang yang tidak mengetahui kebenaran lebih pas disebut orang yang sesat, dan inilah sifat yang layak diberikan kepada orang-orang Nashara, sebagaimana firman- Nya,

"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus'. "(Al-Maidah: 77).

Penggal pertama tertuju kepada orang-orang Yahudi dan penggal kedua tertuju kepada orang-orang Nashara. Di dalam riwayat At-Tirmidzy dan Shahih Ibnu Hibban, dari hadits Ady bin Hatim, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,"Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang mendapat murka dan orang-orang Nashara adalah orang-orang yang sesat." Nikmat dikaitkan secara jelas kepada Allah.

Sedangkan pelaku kemurkaan disamarkan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa pertimbangan:

1. Nikmat itu merupakan gambaran kebaikan dan karunia, sedangkan kemurkaan berasal dari pintu pembalasan dan keadilan. Sementara rahmat mengalahkan kemurkaan.Tentang pengkhususan nikmat yang diberikan kepada orang-orang yang mengikuti jalan lurus, maka itu adalah nikmat yang mutlak dan yang mendatangkan keberuntungan yang abadi. Sedangkan nikmat itu secara tak terbatas diberikan kepa da orang Mukmin dan juga orang kafir. Jadi setiap makhluk ada dalam nikmat-Nya. Di sinilah letak rincian perselisihan tentang pertanyaan, "Apakah Allah memberikan kepada orang kafir ataukah tidak?" Nik mat yang tak terbatas hanya bagi orang yang beriman, dan ketidakterbatasan nikmat itu bagi orang Mukmin dan juga bagi orang kafir. Inilah makna firman-Nya,

"Dan, jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangatzhalim dan sa- ngat mengingkari (nikmat Allah)." (Ibrahim: 34).

2.. Allahlah satu-satunya yang memberikan nikmat,  sebagaimana firman- Nya,

"Dan, apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allahlah (datangnya)." (An-Nahl: 53).
Sedangkan kemurkaan kepada musuh-musuh-Nya, maka bukan Allah saja yang murka, tapi para malaikat, nabi, rasul dan para wali-Nya juga murka kepada musuh-musuh Allah.

3. Ditiadakannya pelaku kemurkaan menunjukkan keremehan orang yang mendapat murka dan kehinaan keadaannya. Hal ini berbeda dengan disebutkannya pemberi nikmat, yang menunjukkan kemuliaan orang yang mendapat nikmat.

Perhatikanlah secara seksama rahasia penyebutan sebab dan balasan bagi tiga golongan ini dengan lafazh yang ringkas. Pemberian nikmat kepada mereka mencakup nikmat hidayah, berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih atau petunjuk dan agama yang benar, di samping kesempurnaan nikmat pahala. Lafazh an'amta 'alaihim mencakup dua perkara ini.

Penyebutan murka Allah terhadap orang-orang yang dimurkai, juga mencakup dua perkara:
- Pembalasan dengan disertai kemurkaan, yang berarti ada siksa dan pelecehan. Sebab yang membuat mereka mendapat murka-Nya.

Allah terlalu pengasih untuk murka tanpa ada ke jahatan dan kesesatan yang dilakukan manusia. Seakan-akan murka Allah itu memang layak diberikan kepada mereka karena kesesatan mereka. Penyebutan orang- orang yang sesat juga mengharuskan murka Allah dan siksa-Nya terhadap mereka. Dengan kata lain, siapa yang sesat layak mendapat siksa, sebagai konsekuensi dari kesesatannya.

Perhatikanlah kontradiksi antara hidayah dan nikmat dengan murka dan kesesatan. Allah menyebutkan orang-orang yang mendapat murka dan yang sesat pada sisi yang berseberangan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk dan mendapat nikmat. Yang pertama seperti firman Allah,

"Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit".(Thaha: 124).

-Yang kedua seperti firman Allah,
"Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan merekalah orang-orang yang beruntung." (Al-Baqarah: 5).

Di Nukil dari kitab: Madarijus Salikin
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah



Al khusyu- Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Bagaimana kabar hatimu sahabatku?
Mudah-mudahan tetap diatas petunjuk dan keimanan.

Tulisan dibawah ini membuatku lesu dan takut penuh tunduk kepada Allah, karena perjuangan dalam ibadah shalat ini akan selalu dilihat dan dipantau oleh Allah sampai menentukan akhir hidup kita. Apakah termasuk husnul khatimah (akhir yang baik) ataukah su-ul khatimah (akhir yang buruk)?
Semoga Yang Maha Pengasih selalu mengasihi kita untuk tetap diatas petunjuk-Nya sampai kematian datang menjemput.


Allah berfirman;

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ

Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat),

وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS. Asy-syu'ara : 218 - 220)

Maka bagaimana mungkin aku melamun dan bermain-main dengan shalatku, sementara Tuhanku selalu melihat gerakan-gerakanku dan mengawasiku.
Bagaimana mungkin aku mencari ketenangan diluar shalat, sementara dalam shalat aku berjumpa dan dekat dengan Tuhanku.

Sungguh mulia dan benar sekali sabda Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- ketika memerintahkan kepada sayyidina Bilal dengan kalimat;

يا بلال أرحنا بالصلاة
(Ya bilal arihna bis-sholah)
"Wahai bilal, rehatkan kami dengan shalat".

Dan dalam hadits yang lain beliau bersabda;
وجعلت قرة عيني في الصلاة
(Wa ju'ilat qurratu 'aini fis-sholah)
"Dan dijadikan sejuk hatiku didalam shalat"

Sahabat-ku..
Shalat ini merupakan dzikir tertinggi dalam islam, posisi paling dekat antara hamba dengan Tuhannya. Rasulullah tidak pernah keluar dari shalatnya, beliau selalu bersegera untuk shalat jika menemukan keraguan dan kerancuan dalam masalah, sehingga beliau merasakan bahwa shalatnya adalah syurganya (sholaty jannaty) -shalatku syurgaku-

Temukanlah syurga dan tempat rehat jiwamu dalam shalat, jangan mencari ketenangan diluarnya karena pasti engkau akan tersesat !

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam : 59)
Semoga Allah menuntun-mu



Al khusyu- Tentu kita pernah berada dalam kesulitan hidup, lalu kita berdo’a. Amatilah apa yang kita rasakan saat kita berada dalam kesulitan itu kemudian kita berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Apakah kemudian kita langsung merasakan ada jawaban Allah kepada kita, sehingga kita mendapatkan jalan keluar dari kesulitan kita itu?. Bahkan ketika kita membutuhkan rizki yang kita inginkan, apakah kita bisa mendapatkan rizki itu dari arah yang tidak kita sangka-sangka sama sekali?.


Jika kita malah semakin menghadapi jalan buntu dan tidak ada pula jalan keluar dari permasalahan kita sesudah kita berdoa, bolehlah kita pertanyakan kualitas jiwa kita saat itu juga. Apakah jiwa kita benar-benar sudah bening saat kita berkomunikasi dengan Allah Yang Maha mengetahui segala urusan? Sudahkah kita menundukkan jiwa kita, berserah total?. Sehingga dengan begitu kita akan bisa memahami apa-apa yang diturunkan Allah kedalam jiwa kita.

Sebab Allah PASTI akan memberikan jawaban-Nya langsung kedalam hati orang beriman. Jika tidak ada jawaban, pasti ada yang salah dalam hal ini. Karena Allah tidak mungkin akan mengingkari janji-Nya (laa tukhliful mi’aad).


Untuk itu, perlulah kiranya kita memahami lebih dalam lagi tentang kadar atau tingkat kepercayaan kita kepada Allah, terutama tentang bagaimana caranya agar kita bisa menangkap signal atau getaran jawaban Allah terhadap setiap seruan dan do’a kita. Kemudian barulah signal itu kita terjemahkan dalam bentuk bahasa ataupun tindakan kita.

Namun disini pulalah biasanya muncul sebuah pertanyaan klasik didalam pikiran kita sendiri ataupun dari orang lain. Bahwa: Mungkinkah orang biasa seperti kita ini bisa menerima petunjuk Allah secara langsung? Lalu seperti apakah keadaan yang akan kita rasakan saat itu?.

Inilah dua bentuk pertanyaan yang bisanya muncul dibenak kita maupun benak orang lain. Pertanyaan yang penuh keragu-raguan yang merupakan buah dari pengajaran yang diterima umat Islam sejak dari dulu sampai sekarang. Kita memang hampir selalu dididik dengan citra rasa keragu-raguan terhadap kemampuan kita untuk saling berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Bahwa Allah, setelah masa kerasulan Nabi Muhammad, sudah tidak pernah lagi berkomunikasi langsung dengan orang biasa seperti kita. Seakan-akan Allah sudah pensiun dan duduk manis di singasana-Nya menunggu terjadinya Hari Pembalasan.

Saat kita mengatakan bahwa kita bisa berkomunikasi langsung dengan Allah sekarang ini, dan kita bisa menangkap jawaban Allah terhadap do’a-do’a kita, maka banyak orang yang akan bertanya kepada kita:

“Hei…, atas kewenangan dari siapakah anda berbicara seperti itu? Bukankah anda hanya orang biasa saja, bukan nabi, bukan seseorang yang resmi punya hak untuk berkata begitu?”.
Sebenarnya untuk menjawabnya, kita bisa saja balik bertanya kepada mereka: “atas kewenangan siapa pulakah anda bertanya seperti itu kepada saya?.

Sebab kewenangan untuk bertanya dan untuk berbicara sebenarnya adalah dua hak yang sama-sama hakikinya didalam diri kita masing-masing. Bahwa kita berani berbicara tentang sesuatu karena kita memang bisa dan mengerti tentang apa yang kita bicarakan itu.

Rasanya sudah sejak lama sekali, tidak ada lagi orang yang berani berbicara tentang hal-hal yang yang sebenarnya ada didalam jiwa kita. Karena kita tidak punya lagi kepercayaan terhadap diri kita sendiri. Kita jadi begitu takut dengan reaksi orang lain atas apa-apa yang kita katakan. Kita jadi terbiasa untuk tidak selaras dengan jiwa kita. Jadilah kita berkata-kata tentang sesuatu yang sebenarnya sedang tidak terjadi didalam jiwa kita.

Ya, kita tidak lagi mengatakan hal-hal yang selaras dengan jiwa kita sendiri, sehingga kita merasa membutuhkan dunia luar atau lembaga resmi yang memberi tahu kita bahwa kita telah berada dijalur yang benar dan tepat. Stempel resmi ini kita butuhkan untuk mengesahkan posisi sipiritualitas kita didepan orang banyak. Tanpa stempel resmi itu, kita seperti tidak punya kewenangan dan keberanian untuk berbicara tentang posisi kejiwaan kita sendiri. Sementara dilain pihak kita diperintahkan untuk menyampaikan kebaikan demi kebaikan. Akan tetapi saat itu jiwa kita sendiri sedang tidak berada dalam suasana kebaikan. Tentulah itu sulit sekali…

Itulah sebabnya Allah didalam Al Qur’an berkata bahwa sangat besar kemurkaan-Nya kepada kita saat kita berkata-kata terhadap keadaan atau suasana yang tidak seirama dengan keadaan atau suasana yang ada didalam jiwa kita. Karena kalau saat berkata-kata, sementara suasana jiwa kita sendiri tidak seirama dengan perkataan kita, maka jiwa kita sendiri akan menolaknya dari dalam. “ah sayakan sedang berbohong!”

Ya, Jiwa kita sendiri mengatakan bahwa kita tengah berbohong, sehingga yang muncul adalah keragu-raguan kita terhadap apa-apa yang kita katakan. Dan pastilah itu tidak punya power apa-apa terhadap diri kita sendiri, apalagi terhadap orang lain. Kalau sudah begini, maka kita berarti menghalangi kematangan diri kita secara ruhani, dan sekaligus menghambat perkembangan diri kita menjadi diri yang terbaik.

Padahal, tatkala kita berhasil menjadi matang secara ruhani, maka sikap dan perkataan kita akan jadi selaras dan seirama dengan jiwa kita sendiri. Kita menjadi diri yang bisa FOKUS kepada sasaran hidup kita yang tak lain dan tak bukan adalah sebagai hamba sahaya Allah. Hamba yang siap untuk disuruh-suruh oleh Allah menjalankan tugas-tugas tertentu sebagai penyebab hadirnya kita ke dunia ini. Kita akan menjadi diri yang mampu berpartisipasi untuk membangun peradaban manusia.

Karena memang dunia ini adalah seperti sebuah layar besar tempat dimana kita bisa memproyeksikan diri kita keatasnya. Ketika kita tahu bahwa proyeksi diri kita yang muncul dilayar dunia itu kurang sempurna, kurang bagus, atau kurang berhasil, maka dengan serta merta kitapun berusaha merubah diri kita sendiri terlebih dahulu tanpa kita bermaksud ingin merubah, menyalahkan, atau mengalahkan orang lain.

Kita sendirilah yang dengan tekad yang kuat berusaha meraih kesempurnaan atau ketuntasan dalam proses perjalanan hidup kita. Dengan begitu proyeksi diri kita diatas layar panggung dunia akan menjadi seirama dengan tekad kita yang tertinggi, yaitu sebagai hamba Allah. Kita menjadi begitu terbuka dan tidak menutup diri terhadap dunia dengan segala persoalannya. Kita tidak berusaha untuk mengendalikan dunia dengan segala isi dan problematikanya. Tidak. Tetapi kita berusaha untuk menerima dunia ini apa adanya, as it is, sembari kita terus menerus mencari bimbingan langsung kepada Allah, yang telah menghadirkan kita kemuka bumi ini, agar kita bisa memberikan respon yang selaras dengan fungsi kehambaan kita.

Sebab kita tugas kita didunia ini bukanlah untuk mengalahkan dan menaklukkan apa-apa yang mungkin dianggap musuh oleh sementara kebanyakan orang. Kita juga tidak ditugaskan Allah untuk membuat orang lain takluk dan berada dalam kendali kita. Tidak. Tugas kita yang sejati adalah untuk selalu masuk kekedalaman jiwa kita sendiri. Masuk kedalam pusat batin kita sendiri untuk kemudian menemukan kesejatian kita. Bahwa ternyata sebenarnya kita ini adalah RUH Milik Allah yang diturunkan dan diutus oleh Allah kemuka bumi untuk mewakili Allah membentuk peradaban umat manusia. Peradaban yang mampu memberikan peluang sebesar-besarnya bagi siapapun juga untuk bisa belajar, bisa tumbuh dan berkembang, serta bisa berbagi dengan sesama.


Dalam posisi kehambaan seperti inilah kita akan bisa menjalani kehidupan dengan spontan seraya terus-menerus mencoba merelakan apapun yang terjadi. Kita akan bisa menerima segala keadaan, bekerja sama dengan segala keadaan, memahami segala keadaan, bersemangat terhadap segala keadaan, dan berempati atas segala keadaan. Karena jiwa kita sendiri telah mengembangkan sebuah kecerdasan untuk menyikapi segala keadaan. Sebuah hadist berikut sangat pas untuk menggambarkan keadaan ini.

Ittaquu firasatal mukmin, fa innahu yandhuru binurillah : Percayalah dengan Firasat orang beriman, karena Ia melihat dengan Cahaya Allah. ( Al hadist )

Untuk mengaktifkan jiwa itu, sebenarnya tidak perlu melakukan teknik yang sulit-sulit. Dengan langkah sesederhana berikut ini saja, jiwa kita sudah bisa kita aktifkan menghadap kepada Cahaya diatas cahaya, Allah:
• Duduklah dalam keadaan bersih lahir maupun bathin.
•Tinggalkan kegiatan lahir yang berasal dari nafsu.
• Aktifkan ruhani anda, bukan pikiran dan mata anda. Karena Allah tidak bisa dijangkau oleh pikiran dan penglihatan anda.
• Duduklah dengan penuh taqwa dan percaya serta mewakilkan (menggantungkan) segala hidup anda kepada Allah saja.
• Hadirlah dihadapan-Nya dengan tunduk dan hormat, hilangkan keraguan dalam hati.
• Sebutlah Nama Allah dengan penuh harap, sehingga terasa hening didalam jiwa anda.
• Rasakan keheningan yang diturunkan didalam hati anda, semakin lama akan terasa bening dan menenangkan.
• Tundukkan jiwa anda semakin dalam, biarkan lintasan pikiran yang sesekali muncul menggangu. Jangan perdulikan, tetaplah anda mengamati keheningan jiwa anda.
• Dan berusahalah tetap menyebut Nama Allah sampai pada tahapan anda mampu membedakan pikiran, emosi, perasaan atau ilham yang datang dengan sangat cepat dan jelas.

Biasanya petunjuk dari Allah akan muncul pada saat pikiran anda tidak terlibat, nafsu dan emosi anda tersapih. Petunjuk Allah itu datang bukan dari hasil rekayasa pikiran dan khayalan, bukan dari rangkaian peristiwa memorisasi di dalam otak. Petunjuk Allah itu menyusup sangat cepat dan jelas kedalam jiwa anda. Rasanya anda seperti sudah berada pada keadaan yang akan terjadi. Anda diberi kepahaman langsung kedalam jiwa anda. Ciri-cirinya adalah bahwa saat itu anda tidak ada keraguan sedikitpun. Sebab petunjuk itu datang berupa keadaan seperti sebuah keadaan yang akan terjadi sebelum terjadi.

Mengapa bisa demikian?. Karena saat itu anda sedang berada pada orbit jiwa yang tidak terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Saat itu tidak ada lagi masa lampau dan masa yang akan datang. Yang ada adalah saat ini. Anda telah terlepas dari ikatan tubuh anda yang memiliki arah dan jarak. Sebab Jiwa anda bukanlah badan ini. Karena badan akan terikat oleh putaran bumi dan orbit matahari, sehingga dengan begitu terjadilah adanya waktu. Ada rentang waktu masa lalu dan masa yang akan datang. Sedang jiwa anda tidak begitu.

Demikianlah sekilas celah pemaknaan alternatif. Tujuannya tidak lain adalah agar kita bisa masuk kedalam keadaan jiwa orang-orang yang bertaqwa seperti juga yang dirasakan oleh orang-orang terdahulu.

Marilah kita berada didalam jiwa kita masing-masing. Mari kita berjalan mendekat kepada Allah, sehingga kita akan bisa merasakan petunjuk Allah dengan semakin jelas.

Tak lupa terantar terima kasih saya kepada Bapak H. Slamet Utomo dan Ustadz H. Abu Sangkan, yang dari dada-dada Beliaulah saya sekarang bisa hidup dengan lebih berarti.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad…

Wassalam,
Oleh: Yusdeka
Cilegon, Banten.





Al khusyu- Hadiri Tabligh Akbar Meraih KHUSYU dengan IMAN, IHSAN & THUMA`NINAH
Bersama Ustadz Abu Sangkan (Jakarta) Penulis Buku Best Seller :
"Menemukan Khusyu Yang Hilang"


Insyaallah acara akan dilaksanakan pada :
Hari Ahad 18 September 2016.
Pkl 08,00 - 15,00.
Tempat Masjid AL KAUTSAR.
Jl Pisang Agung 49A ( desa sumberejo, selatan kantor kementerian agama kab Lumajang)
GRATIS untuk umum.

Buruan daftar krn tempat terbatas.
Hubungi : (sms)
1. Widodo 0811,3507,13
2. Arham 0852,3273,6475
3. In`am 0856,3310,853

Acara ini diselenggarakan oleh Takmir Masjid AL KAUTSAR & Shalat Center lumajang.
Kitab yg akan dikaji dalam acara :
1. Kitab KHUSYU FI SHOLAH
2. Kitab MADARIJUS SALIKIN
3. Kitab tafsir AL BAGHOWI

Mohon bantuannya membagikan informasi ini, insyaallah menjadi shodaqah berbagi informasi kebaikan - Jazakumullah khoiron katsiro


Al khusyu- Jika shalat tidak ada rasanya, pasti seseorang akan lari dari shalat, lalu ia akan belajar dzikir diluar shalat, jika dzikir diluar shalat itu lebih enak, berarti ia telah berhasil disesatkan Allah.
Saat shalat Isya semalam, saya menangisi shalat, mengapa banyak orang tidak tahu bahwa shalat adalah sarana mengingat Allah, mengapa mencari cara dzikir yang lain, padahal inilah puncak dzikir yang paling sempurna, Rasulullah tidak pernah mengajarkan makrifatullah kecuali dengan shalat,

Seharusnya shalat merupakan puncaknya dzikir dan akan berpengaruh diluar shalat, Allah menciptakan dzikir di dalam sholat dengan syarat yang sangat sempurna dimulai dengan berwudhu terlebih dahulu dengan menyambungkan hatinya kepada Allah sehingga dosa-dosa kecil diampuni oleh Allah. Dari proses ini hati menjadi lapang disebabkan iman kepada Allah.


Ketika mulai takbir aku merasakan dilihat Allah, sehingga hatiku menjadi tunduk dan takut karena dosa-dosaku semakin terlihat ketika kita mengagungkan Allahu akbar! Jika diungkapkan dengan kesadaran iman maka bergetarlah sekujur tubuhku. Sehingga meluluh lantakkan kepongahan hati yang sombong . Berganti dengan kelunakan hati yang sangat lembut.

Ketika kuucapkan Alfatehah hancur hatiku ketika Allah mengatakan hamidani 'abdi ,majjadani 'abdi ...... hingga Allah menjawab adzkurkum……jawaban ini menyebabkan hati makin lunglai dan melunak sehingga guyuran rahmat membuat air mata meleleh…...tanda kesambungan fadzkuruni adzkurkum. Memuaskan dahaga jiwa orang yang mencariNya ternyata Ia tidak jauh Ia sangat dekat Ia bersama kita Ia Maha Meliputi dengan kasih sayang ,aku tidak bisa keluar dari sholat. 

Sehingga pantaslah Rasulullah bersabda "ya bilaaal arihna bissholati.." Tidak ada zikir yg paling sempurna kecuali sholat ,wala dzikrullahi Akbar. Wala dzikrullahi akbar .wala dzikrullahi akbar...
ketika aku rukuk Allah mengajariku tentang ihsan didalam ruku'. *“Allahumma laka raka’tu, wa bika aaman-tu, wa laka aslamtu, wa ‘alaika tawakkal-tu, anta rabbii, khasya’a sam’ii wa basharii, wa damii wa lahmii, wa adzmii wa ‘ashabii, lillaahi rabbil ‘aalamiin. Ungkapan ini tidak ada batas karena aku ucapkan antara diriku dengan Tuhanku.

Ketika aku menuju sujud semakin batas itu lenyap, kata nabi disaat inilah antara diriku dengan Allah tidak ada batas. Dan perbanyaklah doa disaat kau bersujud tempat yang sangat dekat ini. Syeh Al Qahtani berkata jangan kau angkat kepalamu disaat sujud sehingga engkau menemui Tuhanmu.

(Abu Sangkan)

*)“Allahumma laka raka’tu, wa bika aaman-tu, wa laka aslamtu, wa ‘alaika tawakkal-tu, anta rabbii, khasya’a sam’ii wa basharii, wa damii wa lahmii, wa adzmii wa ‘ashabii, lillaahi rabbil ‘aalamiin.
Ya Allah hanya karenaMu aku ruku, hanya kepadaMu aku beriman, tunduk (khusyu’), pendengarankau, pandanganku, pikiranku, tulang-tulangku, dan syaraf-syarafku (HR. Nasai dan dishahihkan Al-Albani).[adm]



Al khusyu- Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia mengilham¬kan kepada jiwa itu tentang kejahatan dan ketaq¬waan. Sungguh beruntung¬lah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (As Syam 7-10).


Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langi¬t dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.( QS. An Nur, 24: 35)

Rangkaian ayat-ayat diatas merupakan dasar-dasar sederhana tentang proses pengajaran spiritual atau perjalanan ruhani yang sesungguhnya. Sebuah proses dimana digambarkan adanya Cahaya Allah Sendiri yang menyinari jiwa kita terlebih dahulu sehingga kemudian barulah kita bisa berada pada keadaan atau suasana ketaqwaan. Disini kelihatan sekali bahwa pengajaran spiritual atau ruhaniah itu bukanlah dalam bentuk kajian¬kajian ilmiah di Sekolah, di Universitas atau di Pondok Pesantren 
(Ma’hat) sebagaimana yang dikira oleh kebanyakan orang selama ini.


Dalam ayat-ayat tersebut, Allah menjelaskan proses pengajaran dan bimbinganNya kepada kita melalui bentuk perumpamaan berupa Myskat (ceruk) yang didalamnya terletak sebuah pelita yang tertutup kaca. Cahaya-Nya yang dilambangkan sebagai cahaya pelita besar yang terkumpul didalam cerukan dinding yang berlubang, sebagai perumpamaan atas dada manusia yang telah dipenuhi oleh Cahaya Allah. Dengan Cahaya Allah itulah manusia akan mampu menangkap dengan jelas bimbingan Allah didalam setiap langkah kehidupannya.

Cahaya Allah itu tidak dapat diperoleh hanya dari proses mendengarkan pengajian, ceramah, atau mengumpulkan data-data ilmu pengetahuan dari berbagai kitab terkenal. Semua kajian itu perlu memang, tapi tetaplah itu belum cukup. Sebab pengetahuan dari ceramah, pengajian, dan kitab-kitab itu barulah hanya berupa petunjuk awal untuk memahami bagaimana kita seharusnya bersikap dan belajar menerima bimbingan langsung dari Allah secara ruhani. Itupan kalau dipahami. Sebab sudah berbilang zaman kita umat Islam ini seperti berada pada masa-masa traumatis untuk belajar olah ruhani atau spiritualitas gara-gara ada Al Halaj dan Siti Jenar yang dianggap oleh mayoritas ulama Islam mainstream sebagai simbol dari kesesatan berspiritual. Sehingga akhirnya sampai sekarang, Agama Islam yang begitu indah itu telah dipecah-pecah oleh umatnya sendiri, paling tidak, menjadi Islam syariat disatu sisi, dan Islam hakekat dan atau ma’rifat disisi lainnya.

Padahal Kitab Suci Al Qur’an yang merupakan “Peta Ruhani” dan petunjuk bagi pejalan menuju Allah menjelaskan tentang keutuhan (kekaffahan) Islam itu sendiri. Sebuah Islam yang tidak bisa dipecah-pecah dan dipisah-pisahkan menjadi hanya berupa Islam syariat saja, atau Islam hakekat dan ma’rifat saja. Keutuhan Islam itu oleh Al Qur’an dijelaskan bahwa saat Islam itu dijalankan dengan sikap yang tepat, maka akan ada pengajaran dari Allah yang dapat diterima secara langsung oleh jiwa manusia. Pengajaran itu langsung diturunkan Allah kedalam jiwa manusia yang telah dibersihkan oleh Allah karena sikap manusia itu sendiri kepada Allah.

Sikap ini dikenal dengan istilah IHSAN, yaitu sikap yang menyadari bahwa Allah melihat sikap dan tindak tanduk hati kita setiap saat. Allah tidak hanya terbatas mengamati perilaku dan aktifitas fisik kita saja, lalu setelah itu Allah hanya tinggal berdiam diri dan memerintah-merintahkan para malaikat-Nya untuk melakukan aktifitas selanjutnya.

Tidak begitu. Allah Yang Maha Hidup selalu sangat SIBUK setiap saat memberikan pengajaran kepada jiwa manusia yang percaya dan yakin atas keberadaan-Nya. Sehingga dengan pengajaran dari Allah itu kita umat manusia ini bisa menyikapi setiap problematika kehidupan kita dengan jiwa yang lapang dan tenang.

Disebutkan juga didalam Al Qur’an bahwa Allah ADA. Namun keberadaan-Nya itu tidak bisa ditangkap oleh penglihatan dan pikiran kita. Dia ada dan sangat dekat dengan jiwa kita, sehingga apa-apa yang terlintas di dalam hati kita akan terdengar, terlihat dan diketahui dengan sangat jelas oleh-Nya. Karena DIA memang Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui. Tidak hanya begitu, dengan tegas Al Qur’an juga mengatakan bahwa Allah akan merespons setiap do’a hamba-hamba-Nya yang berdo’a kepada-Nya. Dan kita sebagai objek dari respon Allah itu akan dapat menangkap jawaban Allah itu seketika itu juga. Inilah yang dinamakan sikap ihsan yang utuh atas keberadaan dan kegiatan Allah terhadap manusia.

Maka dengan demikian, pemahaman atas Allah dengan segala keberandaan dan kegiatan-Nya dapat disederhanakan dalam bentuk sikap tadzkiyatunnafs berikut ini:

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (SUDUR, DADA, JIWA, RUHANI) untuk (menerima) agama Islam lalu ia (DADA ITU) MENDAPAT CAHAYA dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Alla¬h. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az Zumar 22).

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. (Az Zumar 23).

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Al Fath 4).

Disinilah diperlukan sebuah alat komunikasi antara Allah dengan manusia. Yaitu Jiwa, dada, ruhani, atau sudur tempat dimana Allah berhubungan langsung dengan manusia. Bahwa setiap manusia pasti memiliki jiwa, melalui jiwa inilah manusia dapat berkomunikasi dengan Allah. Dan kepada jiwa manusia pulalah Allah menuntun kegiatan Ruhani menuju pengetahuan-Nya berupa ilham tentang ketaqwaan. Pengetahuan ruhani itu dapat kita rasakan secara langsung tanpa hijab. Kita akan merasakan setiap tuntunan itu akan mengarah kepada kebaikan dan kebahagiaan sejati.

Hasil yang kita dapatkan, bisa kita kalibarasi ulang dengan memakai ayat Al Qur’an yang merupakan penjelasan mengenai pengalaman pengajaran spiritual didalam jiwa Para Nabi Allah, Para Wali Allah, dan orang-orang shaleh sepanjang masa. Kita akan diajak oleh ayat Al Qur’an itu untuk berada dalam keadaan, suasana, realitas dari dunia spiritual itu yang bukan lagi dalam bentuk pengetahuan spiritual. Kita akan berada (being experience) dalam pengalam¬an spiritual sebenarnya yang tidak bisa diungkapkan dalam bentuk kata-kata dan artikulasi bunyi. Keadaanya sama sebagaimana kita pernah merasakan rasa cinta yang sejati kepada kekasih kita ataupun kepada orang-orang lain yang kita cintai.

Allah berkata bahwa : Jika kita menyebut nama-Nya didalam jiwa kita dengan merendahkan diri dan penuh hormat (tadarru), maka Allah akan menurunkan rasa tenang yang mengalir kedalam jiwa kita. Jika kita mengalami keadaan ini, berarti kita bisa memahami keadaan itu secara nyata didalam jiwa kita. Jadi bukan memahami keadaan itu didalam pikiran kita. Karena keadaan itu bukanlah sesuatu yang bisa diberitahu melalui proses olah otak oleh orang lain kepada kita. Bukan…!. Itu adalah respon atau tanggapan Allah sendiri kepada kita secara langsung. Sebab Allah Yang Maha Hidup pasti akan selalu merespons apa yang kita lakukan dihadapan-Nya. Jika kita hadir, Allah juga akan hadir. Jika kita berkata, Allahpun berkata dalam bahasa-Nya yang hanya bisa dipahami oleh Jiwa kita.

Allah berfirman :
…..barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan bagi¬nya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukup¬kan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.( QS. Ath Thalaq,65:2-3).

Ayat Al Qur’an ini adalah sebuah peta ruhani yang suasananya hanya bisa dimiliki oleh orang yang bertaqwa. Artinya orang yang belum berada pada posisi orang yang bertaqwa tidak akan dapat menangkap suasana dari proses yang sedang berlangsung seperti yang diterangkan oleh ayat ini. Oleh sebab itu, untuk mengetahui posisi kita, apakah kita ini sudah termasuk kedalam kualitas orang yang bertaqwa atau bukan, kita tinggal membandingkan keadaan jiwa kita dengan ayat Al Qur’an tersebut diatas.

Tentu kita pernah berada dalam kesulitan hidup, lalu kita berdo’a. Amatilah apa yang kita rasakan saat kita berada dalam kesulitan itu kemudian kita berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Apakah kemudian kita langsung merasakan ada jawaban Allah kepada kita, sehingga kita mendapatkan jalan keluar dari kesulitan kita itu?. Bahkan ketika kita membutuhkan rizki yang kita inginkan, apakah kita bisa mendapatkan rizki itu dari arah yang tidak kita sangka-sangka sama sekali?.

Jika kita malah semakin menghadapi jalan buntu dan tidak ada pula jalan keluar dari permasalahan kita sesudah kita berdo’a, bolehlah kita pertanyakan kualitas jiwa kita saat itu juga. Apakah jiwa kita benar-benar sudah bening saat kita berkomunikasi dengan Allah Yang Maha mengetahui segala urusan? Sudahkah kita menundukkan jiwa kita, berserah total? Sehingga dengan begitu kita akan bisa memahami apa-apa yang diturunkan Allah kedalam jiwa kita.

Sebab Allah PASTI akan memberikan jawaban-Nya langsung kedalam hati orang beriman. Jika tidak ada jawaban, pasti ada yang salah dalam hal ini. Karena Allah tidak mungkin akan mengingkari janji-Nya (laa tukhliful mi’aad).

Untuk itu, perlulah kiranya kita memahami lebih dalam lagi tentang kadar atau tingkat kepercayaan kita kepada Allah, terutama tentang bagaimana caranya agar kita bisa menangkap signal atau getaran jawaban Allah terhadap setiap seruan dan do’a kita. Kemudian barulah signal itu kita terjemahkan dalam bentuk bahasa ataupun tindakan kita.


Namun disini pulalah biasanya muncul sebuah pertanyaan klasik didalam pikiran kita sendiri ataupun dari orang lain. Bahwa: “mungkinkah orang biasa seperti kita ini bisa menerima petunjuk Allah secara langsung? Lalu seperti apakah keadaan yang akan kita rasakan saat itu?”

Inilah dua bentuk pertanyaan yang biasanya muncul dibenak kita maupun benak orang lain. Pertanyaan yang penuh keragu-raguan yang merupakan buah dari pengajaran yang diterima umat Islam sejak dari dulu sampai sekarang. Kita memang hampir selalu dididik dengan citra rasa keragu-raguan terhadap kemampuan kita untuk saling berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Bahwa Allah, setelah masa kerasulan Nabi Muhammad, sudah tidak pernah lagi berkomunikasi langsung dengan orang biasa seperti kita. Seakan-akan Allah sudah pensiun dan duduk manis di singasana-Nya menunggu terjadinya Hari Pembalasan.

Saat kita mengatakan bahwa kita bisa berkomunikasi langsung dengan Allah sekarang ini, dan kita bisa menangkap jawaban Allah terhadap do’a-do’a kita, maka banyak orang yang akan bertanya kepada kita:

“Hei…, atas kewenangan dari siapakah Anda berbicara seperti itu? Bukankah Anda hanya orang biasa saja, bukan nabi, bukan seseorang yang resmi punya hak untuk berkata begitu?”.
Sebenarnya untuk menjawabnya, kita bisa saja balik bertanya kepada mereka: “atas kewenangan siapa pulakah Anda bertanya seperti itu kepada saya?.

Sebab kewenangan untuk bertanya dan untuk berbicara sebenarnya adalah dua hak yang sama-sama hakikinya didalam diri kita masing-masing. Bahwa kita berani berbicara tentang sesuatu karena kita memang bisa dan mengerti tentang apa yang kita bicarakan itu.

Rasanya sudah sejak lama sekali, tidak ada lagi orang yang berani berbicara tentang hal-hal yang sebenarnya ada didalam jiwa kita. Karena kita tidak punya lagi kepercayaan terhadap diri kita sendiri. Kita jadi begitu takut dengan reaksi orang lain atas apa-apa yang kita katakan. Kita jadi terbiasa untuk tidak selaras dengan jiwa kita. Jadilah kita berkata-kata tentang sesuatu yang sebenarnya sedang tidak terjadi didalam jiwa kita.

Ya…, kita tidak lagi mengatakan hal-hal yang selaras dengan jiwa kita sendiri, sehingga kita merasa membutuhkan dunia luar atau lembaga resmi yang memberi tahu kita bahwa kita telah berada dijalur yang benar dan tepat. Stempel resmi ini kita butuhkan untuk mengesahkan posisi sipiritualitas kita didepan orang banyak. Tanpa stempel resmi itu, kita seperti tidak punya kewenangan dan keberanian untuk berbicara tentang posisi kejiwaan kita sendiri. Sementara dilain pihak kita diperintahkan untuk menyampaikan kebaikan demi kebaikan. Akan tetapi saat itu jiwa kita sendiri sedang tidak berada dalam suasana kebaikan. Tentulah itu sulit sekali…

Itulah sebabnya Allah didalam Al Qur’an berkata bahwa sangat besar kemurkaan-Nya kepada kita saat kita berkata-kata terhadap keadaan atau suasana yang tidak seirama dengan keadaan atau suasana yang ada didalam jiwa kita. Karena kalau saat berkata-kata, sementara suasana jiwa kita sendiri tidak seirama dengan perkataan kita, maka jiwa kita sendiri akan menolaknya dari dalam. “ah saya kan sedang berbohong…!”

Ya…, Jiwa kita sendiri mengatakan bahwa kita tengah berbohong, sehingga yang muncul adalah keragu-raguan kita terhadap apa-apa yang kita katakan. Dan pastilah itu tidak punya power apa-apa terhadap diri kita sendiri, apalagi terhadap orang lain. Kalau sudah begini, maka kita berarti menghalangi kematangan diri kita secara ruhani, dan sekaligus menghambat perkembangan diri kita menjadi diri yang terbaik.

Padahal, tatkala kita berhasil menjadi matang secara ruhani, maka sikap dan perkataan kita akan jadi selaras dan seirama dengan jiwa kita sendiri. Kita menjadi diri yang bisa FOKUS kepada sasaran hidup kita yang tak lain dan tak bukan adalah sebagai hamba sahaya Allah. Hamba yang siap untuk disuruh-¬suruh oleh Allah menjalankan tugas-tugas tertentu sebagai penyebab hadir¬nya kita ke dunia ini. Kita akan menjadi diri yang mampu berpartisipasi untuk membangun peradaban manusia.
Karena memang dunia ini adalah seperti sebuah layar besar tempat dimana kita bisa memproyeksikan diri kita keatasnya. Ketika kita tahu bahwa proyeksi diri kita yang muncul dilayar dunia itu kurang sempurna, kurang bagus, atau kurang berhasil, maka dengan serta merta kitapun berusaha merubah diri kita sendiri terlebih dahulu tanpa kita bermaksud ingin merubah, menyalahkan, atau mengalahkan orang lain.

Kita sendirilah yang dengan tekad yang kuat berusaha meraih kesempurnaan atau ketuntasan dalam proses perjalanan hidup kita. Dengan begitu proyeksi diri kita diatas layar panggung dunia akan menjadi seirama dengan tekad kita yang tertinggi, yaitu sebagai hamba Allah. Kita menjadi begitu terbuka dan tidak menutup diri terhadap dunia dengan segala persoalannya. Kita tidak berusaha untuk mengendalikan dunia dengan segala isi dan problematikanya. Tidak. Tetapi kita berusaha untuk menerima dunia ini apa adanya, as it is, sembari kita terus menerus mencari bimbingan langsung kepada Allah, yang telah menghadirkan kita kemuka bumi ini, agar kita bisa memberikan respon yang selaras dengan fungsi kehambaan kita.

Sebab tugas kita didunia ini bukanlah untuk mengalahkan dan menaklukkan apa-apa yang mungkin dianggap musuh oleh sementara kebanyakan orang. Kita juga tidak ditugaskan Allah untuk membuat orang lain takluk dan berada dalam kendali kita. Tidak. Tugas kita yang sejati adalah untuk selalu masuk kekedalaman jiwa kita sendiri. Masuk kedalam pusat batin kita sendiri untuk kemudian mene¬mukan kesejatian kita. Bahwa ternyata sebenarnya kita ini adalah RUH Milik Alla¬h yang diturunkan dan diutus oleh Allah kemuka bumi untuk mewakili Allah membentuk peradaban umat manusia. Peradaban yang mampu memberikan peluang sebesar-besarnya bagi siapapun juga untuk bisa belajar, bisa tumbuh dan berkembang, serta bisa berbagi dengan sesama.

Dalam posisi kehambaan seperti inilah kita akan bisa menjalani kehidupan dengan spontan seraya terus-menerus mencoba merelakan apapun yang terjadi. Kita akan bisa menerima segala keadaan, bekerja sama dengan segala keadaan, memahami segala keadaan, bersemangat terhadap segala keadaan, dan berempati atas segala keadaan. Karena jiwa kita sendiri telah mengembangkan sebuah kecerdasan untuk menyikapi segala keadaan. Sebuah hadis berikut sangat pas untuk menggambarkan keadaan ini.

Ittaquu firasatal mukmin, fa innahu yandhuru binurillah : Percayalah dengan Firasat orang beriman, karena Ia melihat dengan Cahaya Allah. ( Al hadist )

Bersambung



Diberdayakan oleh Blogger.