Halloween party ideas 2015

Al khusyu- Bulan Ramadhan adalah bulan mukasyafah yaitu bulan tersingkapnya dua bathin yang saling mencintai "bathinul mukasyif wal mukasyaf".Hal ini berdasarkan dalil : Al Baqara 2:152

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

"fadzkuruni adzkurkum" (maka ingatlah Aku, Aku pun ingat kamu).Keadaan ini tidak bisa terjadi antara keduanya jika tidak pernah mengadakan hubungan bathin yang sangat akrab atau dekat.
Rasulullah tidak pernah melepaskan ingatannya kepada Allah walau sedetik pun. Baginya, jika orang melupakan Allah dalam sekejap maka syetan akan menduduki hatinya, Az-Zukhruf 43:36 :

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ ٱلرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُۥ شَيْطَٰنًا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Jika demikian ilmu "mukasyafah" sulit tersingkap sebagai bentuk diterima dan tidaknya puasa kita. Karena puasa merupakan cara Allah mengantarkan ruhani untuk mencapai pertemuan dua bathin antara hamba dan Tuhannya.

Latihannya adalah seperti yang diajarkan Rasulullah SAW "Al inabatu ila daril khulud wa tajafi an daaril khulud wa ta'ahubu lil maut qabla nuzulil maut" Melakukan Perjalanan menuju kekampung abadi (akhirat) meninggalkan kampung penuh tipuan (dunia) ,merasakan mati sebelum mati. Lakukan menjelang buka.

Puasa adalah cara Allah memasukkan kita kedalam ruang ruhani dibalik hawa nafsu. Ia berada seperti dibalik tubuh kasar ini, seperti dibalik kulit ini. Ia sangat dekat tetapi terpisah. Jika puasa kita berhasil, maka kita akan faham siapa diri sejati ini. Jika berhasil, tidak mungkin kembali turun menjadi nafsu yang sangat bodoh, sebab ruhani merasakan bau busuknya hawa nafsu.

Saat saya puasa, langsung saya lepaskan jasad ini. Saya manfaakan keadaan tubuh yang melemas. Jika berhasil, insya Allah ada semacam keterpisahan antara jasad dan jiwa. Ruhani sangat mudah pergi meninggalkan keterikatannya. Seperti mudahnya kita menuju kantuk lalu menuju tidur, seperti orang ngantuk tapi tidak ngantuk.

Ada tanda yang bisa dijadikan pedoman sebagai pengalaman ruhani. Biasanya jika sudah terbuka ruhaninya, rasanya seperti melakukan perjalanan mati yang sangat tenang. Ruhani sangat terasa melakukan perjalanan pulang. Jika Anda pernah mengalami, pasti tidak akan pernah berani melepaskannya,karena diliputi rasa nikmat yang sangat luar biasa. Bukan sebuah ketenangan biasa, tetapi sebuah rasa yang tidak sama dengan rasa yang pernah dirasakan didunia ini. Oleh karena itu saya pernah bilang seandainya sekali saja pernah mengalami pasti tidak mungkin akan pernah berani meninggalkan dzikir kepada Allah walau sekejab.

Semua perjalanan ruhani baik melalui shalat dan dzikir harus berhubungan dengan ‘fadzkuruni adzkurkum’, yaitu memahami ilham sebagai tanda adanya respons antara dzikir hamba dengan dzikir Tuhannya.

Maka berjalanlah menuju Allah. Jika kamu berjalan satu jengkal, maka Allah berjalan menujumu satu hasta. Jika kamu datang dengan berjalan, maka Allah membalas datang dengan berlari sehingga Allah mencintai kita. Hadist qudsi ini menyiratkan makna pendalaman ‘fadzkuruni adzkurkum’. Semoga ilmu yang sangat gamblang dan terbuka tidak disia siakan oleh jamaah Shalat Center. Semoga tanda diterima puasa kita mampu melihat tersingkapnya hijab sehingga Allah tampakkan malam Lailatul Qadar.

Janji Rasulullah pasti, bahwa Lailatul Qadar itu ada. Janjinya pasti benar. Hanya dengan puasa yang benar dan bersih, alam yang dijanjikan Nabi pasti tersingkap.

( Ust. Abu Sangkan)



Al khusyu- Sahabat Sc yang saya hormati dan saya cintai...

Selama enam hari bersama beliau, banyak sekali yang saya dapatkan dari ilmu ibroh serta pengalaman-pengaaman yang beliau ceritakan langsung kepada saya secara pribadi maupun kepada halaqah juga kepada masyarakat umum.

Secara pribadi beliau mengajarkan bagaimana seseorang itu harus kuat tidak boleh lemah. Harus punya pandangan jauh kedepan. Sekali berjalan jangan tolah-toleh kebelakang. Harus mulai menjadi konseptor dalam rangka dakwah dan strateginya. Karena tugas kita adalah berdakwah meneruskan risalah para Rasul dan harus menjadi muslih. Bukan hanya sekedar sholeh untuk diri sendiri.

Dari sinilah saya selalu melihat kegelisahan beliau, selalu memikirkan ummat serta muridnya bahkan beliau tidak putus untuk mendoakan muridnya fardiyan maupun jamaiyan untuk sholat center serta ilmu khusyuk ini sampai kepada masyarakat yang luas. Engkau adalah pemimpin berskala dunia. Dunia ini milikmu, jadilah pemimpin benar dalam fiqih dakwahmu, yang harus ada candanya, seriusnya, bahkan tegas serta marah apabila diperlukan.


Ketika bertemu dengan sahabat-sahabat  SC di tiga tempat tersebut Ustad Abu tak henti-hentinya,  terus menjelaskan kepada sahabat halaqah seputar bagaimana masing-masing orang  sudah mulai memperhatikan perjalanan ruh dan sholatnya. Kami diajari bagaimana nyambung ke Allah dalam setiap laku, khususnya didalam sholat. Anggota halaqah sudah harus merasakan, bagaimana ketika takbiratul ihram terasa benar dan nyata bahwa hijab itu terbuka sebagai mana dalam kitab alkhusyu fi sholat :
أن رفع اليدين في تكبيرة الإحرام فيه الإشارة إلى رفع حجاب الغفلة بينك وبين الله، وفي غير تكبيرة الإحرام إعظاماً لله.
وقال بعضهم: إنها استسلام لله وانقياد له تعالى، كالأسير المستسلم.
وقال بعضهم: نفي الكبرياء عن غير الله.

Sesungguhnya mengangkat kedua tangan dalam takbiratul ihram didalamnya ada isyarat terangkatnya hijab lalai antara dirimu dan Tuhanmu, sedangkan takbir selain takbiratul ihram adalah sebagai isyarat untuk mengagungkan Allah. Takbiratul ihram adalah bentuk ketundukan dan keyakinan hanya untuk Allah seperti tawanan yang menyerah. Takbiratul ihram  adalah sebagai bentuk penolakan sifat kesombongan selain Allah. Beliau juga tak henti-henti mengingatkan pada setiap pertemuan dengan murid-muridnya selalu untuk memahami bagaimana meraih jiwa yang muthmainnah sakinah dan istihgraq dalam sholatnya.

Dan seterusnya dalam mengerjakan sholat mengenai makna hakikatnya qiyam sampai salam. Pelajaran tafsir Arrazi yang menguatkan kerohanian serta perjalanannya. Dan dalam belajar seseorang harus merujuk kepada kitab almuktabarah yang berlandaskan Quran dan sunnah Rasulullah.

Adapun dalam tabligh akbar beliau selalu memberikan pelajaran dan pengajaran tentang sholat. Dimulai dari pembagian manusia yang khusyuk dalam sholatnya. Mulai dari wudhu waktu batasan serta bagaimana praktek dalam sholat dan memprioritaskan seseorang untuk tumakninah dalam sholat mereka.

Yang sangat terkesan adalah ketika beliau memberikan taujih di Pesantren Mambaul Ulum pada peringatan Haul Kyai Tugu, bagaimana beliau berbicara dihadapan bupati bondowoso dan wakil bupati yang juga putra Kyai tugu. Serta dihadapan para kiyai pondok serta semua santri. Beliau banyak menceritakan kenangan beliau selama berguru dengan kiyai tugu. Yang paling menusuk hati adalah beliau mengungkapkan perkataan kiyai "Aneka ria akhirat cong, Beni berek beni temor" bahwa kenikmatan syurga dapat dinikmati dirasakan didunia Ini, dan perkataan ini jauh sebelumnya telah diungkapkan juga oleh Imam ibnu qayyim dari perkataan guru beliau syeikh Ibnu taimiyah dalam kitab madariju salikin :

فإنه لا نعيم له ولا لذة، ولا ابتهاج، ولا كمال، إلا بمعرفة الله ومحبته، والطمأنينة بذكره، والفرح والابتهاج بقربه، والشوق إلى لقائه، فهذه جنته العاجلة، كما أنه لا نعيم له في الآخرة، ولا فوز إلا بجواره في دار النعيم في الجنة الآجلة، فله جنتان لا يدخل الثانية منهما إن لم يدخل الأولى. وسمعت شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه يقول: إن في الدنيا جنتان من لم يدخلها لم يدخل جنة الآخرة.

Tidak ada kenikmatan dan kelezatan, kesenangan dan kesempurnaan, kecuali makrifatullah dan mahabbah cinta padaNya. Ketenangan dalam berdzikir, bahagia senang ketika dekat denganNya, rindu untuk bertemu denganNya, inilah yang dimaksud dengan surga yang didahulukan. Bagi seorang mukmin surga itu ada dua, bagaimana seseorang akan masuk kepada surga yang kedua kalau dia tidak pernah memasuki surga yang pertama.

Ibnu taimiyah berkata : Surga itu ada dua siapa yang tidak masuk disurga dunia dia tidak akan masuk di surga akhirat. Ust. Abu menjelaskan panjang lebar kepada seluruh yang hadir tentang hakikat perkataan ini. Juga tentang kebalikan dari hakikat perkataan ini yang disampaikan  Allah dalam firmannya :

وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

Dan barangsiapa yang buta hatinya di dunia ini, niscaya di akhirat nanti ia akan lebih buta. Dia lebih tersesat dari jalan yang benar. (Al isra : 72).
Sampai-sampai suara beliau serak entah kenapa suara beliau tidak biasa dari suara yang sering saya dengar. Nadanya tinggi menggelegar namun terasa lembut dan menyentuh hati. Beliau juga menjelaskan tentang ciri wali wali Allah bahwa mereka adalah :

إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون

Sesungguhnya wali2 Allah tiada rasa takut dan sedih...

Beliau juga mengutip sebuah hadits qudsi:

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها، فبي يسمع، وبي يبصر، وبي يبطش، وبي يمشي» ، وفي الحديث الصحيح «أقرب ما يكون الرب من عبده في جوف الليل الأخير» وفي الحديث أيضا «أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد»  «يا أيها الناس، اربعوا على أنفسكم، إنكم لا تدعون أصم ولا غائبا، إن الذي تدعونه سميع قريب، أقرب إلى أحدكم من عنق راحلته» .

Tudaklah ketika hambaku mengerjakan amalan sunnah sampai aku mencintainya, dan jika aku telah mencintainya maka aku akan menjadi telinganya ketika dia mendengar. Aku menjadi penglihatannya ketika dia melihat. Aku akan menjadi tangannya ketika dia memegang. Dan dia bersamaku ketika berjalan. Dan tiada suasana paling dekat antara aku dan hambaku kecuali diwaktu terakhir pada tengah malam. Sedekat-dekat aku dan hambaku adalah ketika dia sujud. Wahai manusia lirihkan doamu. Engkau tidak berdoa kepada yang bisu dan tuli. Sesungguhnya yang engkau panggil itu adalah yang maha dekat dan maha mendengar bahkan lebih dekat dari punuk hewan kendaraannya. (Madariju Salikin).

Demikianlah sahabat SC yang bisa saya sampaikan dan saya tulis. Kalau ada kata-kata dan sikap yang tak pantas  selama menemani perjalanan beliau saya mohon maaf dan mohon ampun kepada Allah.

Semoga hikmah ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Dan semoga Allah membimbing kita didalam mengarungi bahtera hidup dan kehidupan ini. Dan Insya Allah semoga kita dapat selamat bahagia fiddunya wal alhirah dalam liputan Rahmat dan maghfirahnya. Amiiinnn.

Wassalamualaikum wr wb.
Oleh : Nur Yasin Arlan Palembang

Al khusyu- Begini ceritanya, dulu saya setiap hari Minggu menga­jar tafsir Ibnu Abba­s di pesantren Al Ihya di Bogor, nah salah satu yang suka belajar tafsir itu Ustad Abu Sangkan. Ya, Alhamdulillah akhirnya sekarang bisa ketemu lagi, jadi bisa sa­ling mendo’akan. Saya juga bersyukur dan bangga punya ustad-ustad seperti Ustad Abu sangkan, Yusuf mansyur, Arifin Ilham, Ari Ginandjar juga. Ustad Arifin Ilham itu seti­ap lebaran kesini ngobrol, Yusuf Mansyur juga begitu, Ari Ginandjar juga. 

Saya memang senang sekali dengan merek­a anak muda yang maju, bukan justru membenci merek­a karena akan menyaingi, tapi justru ini adalah aset yang harus kita bangun bersama, yang harus kita majukan bersama dan harus kita ingat­kan juga kalau melakukan kesalahan. Begitu juga ustad Abu sangkan, saya jadi bagian dari mereka sekarang ustad-ustad muda ini, saya cinta sekali pada mereka- mereka para da’i muda ini.

Mengenai pengajaran shalat khusyu’­nya, Ya mudah mudahan saja akan berhasil baik. Namanya juga usaha untuk memperbaiki ibadah masyarakat, kan kalau shalat itu bagus, juga akan bagus perilaku orangnya. Sekarang saya juga punya santri yang hampir mirip dengan ustad Abu Sangkan, dan itu saya dorong saya bantu supaya maju, karena metode dakwah sekarang ini kan harus bervariasi.

Kalau ada yang mengatakan sesat atau bid’ah, Itu kadangkala karena orang yang bicara belum tahu saja, kalau dia sudah tahu betapa indahnya apa yang disampai­kan ustad Abu Sangkan, saya kira tidak akan ada masalah. Karena di kita ini ada kebiasaan menilai orang dalam waktu singkat tanpa dia mendalami apa yang disampaikan. Aliran sesat itu, adalah kalau gurunya tidak mau bersilaturah­mi, gurunya merasa benar sendiri, itu rata rata begitu. Tapi kalau gurunya mau mendengar, mau bersilahturahmi, kalau seandai­nya pun nanti ada kesalahan, bisa di hilangkan atau diperbaiki kesalahan itu.

Menurut saya Khusyu itu tidak tergesa-­gesa, tenang, dihayati, kecuali dalam berjamaah, ya lihat situasi dan kondisi tentunya. Rasulullah itu kalau shalat kan sampai bengkak kakinya ketika shalat, itu kan menggambarkan betapa shalatnya itu indah dan dihayati. Jadi saya kira kita terbiasa dengan pendekatan syah atau tidak. Yang penting syah shalat saya, apakah shalat saya lama atau cepat. 

Makanya banyak orang kalau shalat begitu cepatnya, yang penting syah, Allah kan tidak rewel kata mereka. Kalau begitu kan susah, siapa yang bilang Alla­h rewel, Cuma betul apa tidak? coba saja lihat kalau tarawihan, kadang satu nafas dari Bismillahi­romanirahim sampai waladdholim, apakah benar begitu shalat? Kalau syah, syah mungkin. Tapi kan hasilnya tidak membekas, kita tidak dapat merasakan indah dan nikmatnya shalat, ini kan harus dibangun.

Saya kira ustad Abu Sangkan dan ustad yang lain itu, menghadirkan kenikmat­an dalam beribadah, ustad Yusuf mansyur, menghadirkan kenikmatan dalam berinfaq, ustad Arifin menghadirkan kenikmatan dalam berzikir, pak Ari Ginandjar menghadirkan kenikmatan ketika kita beriman kepada Allah. Saya kira dengan jumlah yang bervariasi ini kalau disatukan akan dahsyat, luar biasa. 

Makanya saya tidak pernah melihat perbedaan, selama orang dengan para kiyai mau bersilahturahmi dan bisa diajak bicara, itu berarti ajarannya benar. Karena kalau aliran sesat itu, gurunya susah di koreksi tidak mau bergaul. (Rafles)


Al khusyu- Bagi seorang mukmin yang menghayati sholatnya dan menghidupkannya dakwah berhasil atau tidak berhasil itu bukan urusannya. Yang namanya Yasroh sodrohu itu memang benar-benar  ada sebagaimana sakit hati itu juga ada dan selalu menempel kemanapun kita pergi dan dimanapun dia berada.

Sebagaimana firman Allah :
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) fujur dan ketakwaannya. (Assyams : 7 - 8).

Kata Fujur itu bisa diartikan kefasikan atau kejahatan. Dan jahat itu adalah Ilham. Sebagaimana ayat Quran diatas. Ilham itu tidak muncul dari pikirannya dan tidak muncul dari perasaanya (Alhissi wal Aqli) tapi muncul dari Allah langsung karena sayangnya Allah atau kemarahan Allah. Sebagaimana Allah marah kepada Iblis dan itu energi langsung dari Allah. Kenapa? Karena dia tidak beriman kepada Allah.


Sebagaimana firman Allah :
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Al An'am : 126).

Begitu juga takwa juga Ilham. Makanya Allah juga berfirman :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Assyams : 10,11).

Ketika seseorang yang tidak dikasih AllaH Ilham taqwa kemudian bersedekah akan sakit rasanya. Begitu juga ketika dia melaksanakan amal kebaikan yang lain termasuk sholat dia akan tersiksa rasanya.

Makanya Allah menasehati orang-orang  yang beriman dengan firmannya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran : 132).
Setiap jumat kita diingatkan akan ayat ini. Kemudian apa balasan bagi orang yang bertakwa?

Firman Allah :
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (Attalaq : 2 - 3).

Takwa juga sangat berkaitan dengan rezeki dan sekali-kali Alquran tidak pernah salah dalam hal ini... marilah selalu kita dengarkan Al Quran kita ikuti kita patuhi nasehat Alquran.
الخشوع لين القلب والفاجر قسوة القب

Orang yang khusyu itu hatinya akan lembut. Sedangkan orang yang fajir selalu mengikuti Ilham fujur tidak khusyu hatinya dan keras. Bagaimana caranya supaya kita tetap dalam kekhusyu'an?

Firman Allah :
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia syirik dalam beribadat kepada Tuhannya". (Alkahfi : 110).

Contoh Syirik kecil adalah kecewa dengan pekerjaan kita. Adapun syirik besar adalah tidak beriman kepada Allah. Tidak percaya terhadap pertolongan Allah padahal Allah menasehati kita ketika kita sedang bermasalah. Dengan firmannya:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Jikalau kamu tidak mampu menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka seketika itu Allah menurunkan sakinahNya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat 
Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
صدق الله العظيم

Ketika seseorang sholat hendaknya orang itu berdialog dan isthgrraq tenggelam dalam sholatnya.
Karena hatinya diletakkan dihadapan tuhannya.
Ya Rabb... inilah takbirku..
Inilah alfatihahku aku bacakan kepadamu...
Inilah rukukku. Inilah sujudku...
Inilah penghormatanku dalam tahiyyatku...
Lamakan hayati dan dalami maknanya. Rabbighfirli... diamlah... rasakan ampunan Allah....
Warzuqni... rasakan akan pengabulan Allah dalam permintaanmu...

Carilah nikmatnya rasakan kelezatannya. Carilah kelapangannya merasuk halus kedalam dadamu...
Doakan ummatmu jangan engkau pelit dengan hanya berdoa hanya untukmu dan keluargamu.
Tetapi ketika engkau berjamaah hanya cukup tumakninah saja dan ikutilah imam bagaimanapun keadaannya.

Karena Rasulullah pernah marah kepada Sayyidina Muadz Bin Jabal ketika beliau mengimami jamaah. Karena rukuknya dan panjangnya bacaannya. Tumakninahlah sesuai bacaan yang engkau baca.

Di Shalat Center sekarang tidak ada lagi malam Jumatan. Hanya sholat Hajat dan sholat. Sholat dan sholat.

Lihatlah Tuhanmu dengan hatimu, dalam sujudmu itulah engkau sedekat2 nya dengan tuhanmu.
سجدة لا يرفع رأسه عنها حتى يلقاه
Sajdatan la yarfau raksuhu hatta yalqahu

Disanalah ada liqa ada perjumpaan disana ada musyahadah saling menyaksikan. Syahadatmu dalam kesaksianmu.

Akan hilang was2mu karena hatimu telah dipenuhi dengan cahayaNya karena engkau telah terbuka dadamu.

Sebaliknya jika hatimu dipenuhi oleh kegelisahan maka disanalah engkau akan merasakan tersiksa dalam sholatmu maupun dalam keseharianmu.

Jagalah sholat ini sampai diangkat hijabmu antara engkau dengan tuhanmu. Engkau akan saling menyaksikan.
لا تدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار وهو اللطيف الخبير

Allah itu hidup alhayyul qayyum makanya terasa tersingkap lah hijab melalui fi qulubikum.
Engkau akan merasakan ketinggiannya tersungkur menangis dalam keagungannya.
Sibukkanlah hatimu dengan sholat yang engkau kerjakan Allah pasti melihat sholatmu merespon segala Hajat dan keperluanmu.

Hatimu akan menjadi sejuk tidak panas. Kita selama ini sejuk karena air sebagaimana kita panas karena api namun disini Allah memakai kata yang sama antara sejuknya air dan panasnya api.

Pernahkah engkau mengalami sejuk dalam sholatmu?
Apakah engkau merasa panas dalam sholatmu?

Sejuk karena nur Allah atau panas karena naar Allah yang diberikan padamu.
Insyaha Wan fasaha adalah simbol kesejukan dan kenikmatan.
Allah juga menyebut kata binatang bagi orang yang dipenuhi nar Allah. Bahkan mereka lebih sesat lagi.

Begitulah gambaran Alquran yang harus kita perhatikan.

Sholat adalah qurrata ain Permata hati. Dan inilah dzikir tertinggi walaupun aku pernah berdzikir sampai semalam suntuk namun belum apa2 dibanding dengan kenikmatanku dalam sholatku.
Sdh berbagi pengalaman dalam dzikir ini aku ajarkan kepada muridku seperti Pak Mardianto adalah muridku yang terakhir begitupula dr. Hadi saya bersyukur dia tidak gila.

Dan inilah kesesatanku dan kesesatan murid2ku. Kenapa? Karena disana tidak ada adzkurkumnya Allah.

Keadaanmu didunia inilah keadaamu di akhirat nanti. Bahagianya engkau karena pertemuanmu Allah didalam sholatmu begitu juga lebih nikmat lagi ketika engkau bertemu dengaNya di surganya.
Saya tanya kalian terasakah didalam dadamu dinginnya ketika engkau bertakbir? Sampai merasuk tembus kepada sekujur tubuhmu? Dan bekasnya sampai engkau rasakan dalam kehidupanmu.

Bagaimana engkau tahu bahwa Allah menyambut sholatmu?

هو الذي أنزل السكينة في قلوب المؤمنين
Melalui ketenangan inilah engkau mampu menangkap khabar dari Allah dan petunjuk yang sangat jelas dariNya.

Aku akan menunggu ketenangan ini dari hati kalian. Kalau tidak ada harus ada.
Belajarlah terus sampai Allah membuka dadamu. Mari kembali kepada Alquran. Latihanlah amalkan ilmu ini.

Oleh : Yasin Arlan Al Jawi 

Al khusyu- Allah menyebutkan Ash-Shiratul-mustaqim dalam bentuk tunggal dan diketahui secara jelas, karena ada lam ta'rif dan karena ada keterang-an tambahan, yang menunjukkan kejelasan dan kekhususannya, yang berarti jalan itu hanya satu. Sedangkan jalan orang-orang yang mendapat murka dan sesat dibuat banyak. Firman-Nya,


"Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya." (Al-An'am: 153).

Allah menunggalkan lafazh ash-shirath dan sabilihi, membanyakkan lafazh as-subula, sehingga jelas perbedaan di antara keduanya. Ibnu Mas'ud berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menorehkan satu garis di hadapan kami, seraya bersabda, 'Ini adalah jalan Allah'. Kemudian be-liau menorehkan beberapa garis lain di kiri kanan beliau, seraya bersabda, 'Ini adalah jalan-jalan yang lain. Pada masing-masing jalan ini ada syetan yang mengajak kepadanya'. Kemudian beliau membaca ayat, 'Dan bahwa...'."

Pasalnya, jalan yang menghantarkan kepada Allah hanya ada satu, yaitu jalan yang karenanya Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Tak seorang pun bisa sampai kepada Allah kecuali lewat jalan ini. Andaikan manusia melalui berbagai macam jalan dan membuka ber- bagai macam pintu, maka jalan itu adalah jalan buntu dan pintu. itu terkunci.


Ash-Shirathul-mustaqim adalah jalan Allah. Sebagaimana yang per- nah kami singgung, Allah mengabarkan bahwa ash-shirath itu ada pada Allah dan Allah ada pada ash-shirathul-mustaqim. Yang demikian ini dise- butkan di dua tempat dalam Al-Qur'an:

͉ "Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus." (Hud: 56).

"Dan Allah membuat perumpamaan: Dua orang lelaki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban ataspe- nanggungnya, kemana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia beradapula di atas jalan yang lurus?" (An-Nahl: 76).

Inilah perumpamaan yang diberikan Allah terhadap para berhala yang tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara dan tidak berakal, yang justru menjadi beban bagi penyembahnya. Berhala membutuhkan penyembahnya agar dia membawa, memindahkan dan meletakkannya di tempat tertentu serta mengabdi kepadanya. Bagaimana mungkin mereka mempersamakan berhala ini dengan Allah yang menyuruh kepada keadilan dan tauhid, Allah yang berkuasa dan berbicara, yang Maha-kaya, yang ada di atas ash-shirathul-mustaqim dalam perkataan dan perbuatan-Nya? Perkataan Allah benar, lurus, berisi nasihat dan petunjuk, perbuatan-Nya penuh hikmah, rahmat, bermaslahat dan adil.
Inilah pendapat yang paling benar tentang hal ini, dan sayangnya jarang disebutkan para mufassir atau pun ulama lainnya. Biasanya mereka lebih mem-prioritaskan pendapat pribadi, baru kemudian menyebutkan dua ayat ini, seperti yang dilakukan Al-Baghawy. Sementara Al-Kalby berpendapat, "Artinya Dia menunjukkan kalian kepada jalan yang lurus."

Kami katakan, petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus merupakan keharusan keberadaan Allah di atas ash-shirathul-mustaqim. Petunjuk-Nya dengan perbuatan dan perkataan-Nya, dan Dia berada di atas ash-shirathul- mustaqim dalam perbuatan dan perkataan-Nya. Jadi pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa Dia berada di atas ash-shirathul-mustaqim.

Jika ada yang mengatakan, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal-lam menyuruh kepada keadilan", berarti beliau berada di atas ash-shirathul- mustaqim. Hal ini dapat kami tanggapi sebagai berikut: Inilah yang memang sebenarnya dan tidak bertentangan dengan pendapat di atas. Allah berada di atas ash-shirathul-mustaqim, begitu pula Rasul-Nya. Beliau tidak menyuruh dan tidak berbuat kecuali menurut ketentuan dari Allah. Berdasarkan pengertian inilah perumpamaan dibuat untuk meng- gambarkan pemimpin orang-orang kafir, yaitu berhala yang bisu, yang tidak mampu berbuat apa pun untuk menunjukkan kepada hidayah dan kebaikan. Sedangkan pemimpin orang-orang yang baik, Rasulullah Shal-

lallahu Alaihi wa Sallam menyuruh kepada keadilan, yang berarti beliau berada di atas ash-shirathul-mustaqim.

Karena orang yang mencari ash-shirathul-mustaqim masih mencari sesuatu yang lain, maka banyak orang yang justru menyimpang dari jalan lurus itu. Karena jiwa manusia diciptakan dalam keadaan takut jika sendiri-an dan lebih suka mempunyai teman karib, maka Allah juga mengingat-kan tentang teman karib saat melewati jalan ini. Orang-orang yang layak dijadikan teman karib adalah para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Mereka inilah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah. Dengan begitu rasa takut dari gangguan orang-orang di sekitarnya karena dia sendirian saat meniti jalan, menjadi sirna. 

Dia tidak risau karena harus berbeda dengan orang-orang yang menyimpang dari jalan tersebut. Mereka adalah golongan minoritas dari segi kualitas, sekalipun mereka merupakan golongan mayoritas dari segi kuantitas, seperti yang dikatakan se-bagian salaf, "Ikutilah jalan kebenaran dan jangan takut karena minimnya orang- orang yang mengikuti jalan ini. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu karena banyaknya orang-orang yang mengikutinya." Jika engkau meniti jalan kebenaran, teguhkan hatimu dan tegarkan langkah kakimu, jangan menoleh ke arah mereka sekalipun mereka memanggil-manggilmu, karena jika sekali saja engkau menoleh, tentu mereka akan menghambat perjalananmu.

Karena memohon petunjuk jalan yang lurus merupakan permo- honan yang paling tinggi nilainya, maka Allah mengajarkan kepada hamba- hamba-Nya bagaimana cara berdoa kepada-Nya dan memerintahkan agar mereka mengawalinya dengan pujian dan pengagungan kepada-Nya, kemudian menyebutkan ibadah dan pengesaan-Nya. Jadi ada dua macam tawassul dalam doa:

1. Tawassul dengan asma' dan sifat-sifat-Nya serta memuji-Nya. 
2. Tawassul dengan beribadah dan mengesakan-Nya.

Surat Al-Fatihah juga memadukan dua tawassul ini. Setelah dua ta- wassul ini digunakan, bisa disusul dengan permohonan yang paling pen- ting, yaitu hidayah. Siapa pun yang berdoa dengan cara ini, maka doanya layak dikabulkan.

Di Nukil dari kitab: Madarijus Salikin
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Al khusyu- Mengingat kesempurnaan manusia itu hanya tercapai dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih seperti yang terkandung di dalam surat Al-Ashr, maka Allah bersumpah bahwa setiap orang akan merugi, kecuali siapa yang mampu menyempurnakan kekuatan ilmiahnya dengan iman dan kekuatan amaliahnya dengan amal shalih serta menyempurnakan kekuatan selainnya dengan nasihat kepada kebenaran dan kesabaran menghadapinya. Yang paling penting adalah iman dan amal, yang tidak bisa berkembang kecuali dengan sabar dan nasihat.

Selayaknya bagi manusia untuk meluangkan sedikit waktunya, agar dia mendapatkan tuntutan yang bernilai tinggi dan membebaskan dirinya dari kerugian. Caranya ialah dengan memahami Al-Qur'an dan mengeluarkan kandungannya. Karena hanya inilah yang bisa mencukupi kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat serta yang bisa menghantarkan mereka ke jalan lurus.

Berkat pertolongan Allah, kami bisa menjabarkan makna Al-Fatihah, menjelaskan berbagai macam isi yang terkandung di dalam surat ini, berupa berbagai macam tuntutan, bantahan terhadap golongan-golongan yang sesat dan ahli bid'ah, etape orang-orang yang berjalan kepada Allah, kedudukan orang-orang yang berilmu, perbedaan antara sarana dan tujuan. Tidak ada sesuatu pun yang bisa mewakili kedudukan surat

Al-Fatihah ini. Karena itu Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil maupun Jabur, yang menyerupai Al-Fatihah.

Surat Al-Fatihah mencakup berbagai macam induk tuntutan yang tinggi. Ia mencakup pengenalan terhadap sesembahan yang memiliki tiga nama, yaitu Allah, Ar-Rabb dan Ar-Rahman. Tiga asma ini merupakan rujukan Asma'ul-Husna dan sifat-sifat yang tinggi serta menjadi poros- nya. Surat Al-Fatihah menjelaskan ilahiyah, Rububiyah dan Rahmah. Iyyaka na'budu merupakan bangunan di atas Ilahiyah, Iyyaka nasta'in di atas Rububiyah, dan mengharapkan petunjuk kepada jalan yang lurus merupakan sifat rahmat. Al-Hamdu mencakup tiga hal: Yang terpuji dalam Ilahiyah- Nya, yang terpuji dalam Rububiyah-Nya dan yang terpuji dalam rahmat- Nya.

Surat Al-Fatihah juga mencakup penetapan hari pembalasan, pem- balasan amal hamba, yang baik dan yang buruk, keesaan Allah dalam hukum, yang berlaku untuk semua makhluk, hikmah-Nya yang adil, yang semua ini terkandung dalam maliki yaumiddin.


Surat Al-Fatihah juga mencakup penetapan nubuwah, yang bisa dilihat dari beberapa segi:

1. Keberadaan Allah sebagai Rabbul-'alamin. Dengan kata lain, tidak layak bagi Allah untuk membiarkan hamba-hamba-Nya dalam keadaan sia-sia dan telantar, tidak memperkenalkan apa yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, serta apa yang mendatangkan mudharat di dunia dan di akhirat.

2. Bisa disimpulkan dari asma-Nya, Allah, yang berarti disembah dan dipertuhankan. Hamba tidak mempunyai cara untuk bisa mengenal sesembahannya kecuali lewat para rasul.

3. Bisa disimpulkan dari asma-Nya, Ar-Rahman. Rahmat Allah mencegah-Nya untuk menelantarkan hamba-Nya dan tidak memperkenalkan kesempurnaan yang harus mereka cari. Dzat yang diberi asma Ar- Rahman tentu memiliki tanggung jawab untuk mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Tanggung jawab ini lebih besar daripada tanggung jawab untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman dan mengeluarkan biji-bijian. Konsekuensi rahmat untuk menghidupkan hati dan ruh, lebih besar daripada konsekuensi menghidupkan badan.

4. Bisa disimpulkan dari penyebutan yaumid-din, yaitu hari di mana Allah akan memberikan pembalasan terhadap amal hamba. Dia memberikan pahala kepada mereka atas kebaikan, dan menyiksa mereka atas keburukan dan kedurhakaan. Tentu saja Allah tidak akan menyiksa seseorang sebelum ditegakkan hujjah atas dirinya. Hujjah ini tegak lewat para rasul dan kitab-kitab-Nya.

5. Bisa disimpulkan dari iyyaka na'budu. Beribadah kepada Allah tidak boleh dilakukan kecuali dengan cara yang diridhai dan dicintai-Nya. Beribadah kepada-Nya berarti bersyukur, mencintai dan takut kepada- Nya, berdasarkan fitrah, sejalan dengan akal yang sehat. Cara beribadah ini tidak bisa diketahui kecuali lewat para rasul dan berdasarkan penjelasan mereka.

6. Bisa disimpulkan dari ihdinash-shirathal-mustaqim. Hidayah adalah keterangan dan bukti, kemudian berupa taufik dan ilham. Bukti dan keterangan tidak diakui kecuali yang datang dari para rasul. Jika ada bukti dan keterangan serta pengakuan, tentu akan ada hidayah dan taufik, iman tumbuh di dalam hati, dicintai dan berpengaruh didalamnya.

Hidayah dan taufik berdiri sendiri, yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan bukti dan keterangan. Keduanya mencakup pengakuan kebe-naran yang belum kita ketahui, baik secara rinci maupun global. Dari sini dapat diketahui keterpaksaan hamba untuk memanjatkan permohonan ini jika dia dalam keadaan terdesak, serta menunjukkan kebatilan orang yang berkata, "Jika kita sudah mendapat petunjuk, lalu untuk apa kita memohon hidayah?"

Kebenaran yang belum kita ketahui jauh lebih banyak dari yang sudah diketahui. Apa yang tidak ingin kita kerjakan karena menganggapnya remeh atau malas, sebenarnya serupa dengan apa yang kita inginkan atau bahkan lebih banyak. Sementara kita membutuhkan hidayah yang sempurna. Siapa yang menganggap hal-hal ini sudah sempurna di dalam dirinya, maka permohonan hidayah ini merupakan permohonan yang bersifat peneguhan dan berkesinambungan. Memohon hidayah mencakup permohonan untuk mendapatkan segala kebaikan dan keselamatan dari kejahatan.

7. Dengan cara mengetahui apa yang diminta, yaitu jalan yang lurus. Tapi jalan itu tidak bisa disebut jalan kecuali jika mencakup lima hal: Lurus, menghantarkan ke tujuan, dekat, cukup untuk dilalui dan merupakan satu- satunya jalan yang menghantarkan ke tujuan. Satu cirinya yang lurus, karena garis lurus merupakan jarak yang paling dekat di antara dua titik, sehingga ada jaminan untuk menghantarkan ke tujuan.

8. Bisa disimpulkan dari orang-orang yang diberi nikmat dan perbedaan mereka dari golongan yang mendapat murka dan golongan yang sesat. Ditilik dari pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, maka manusia bisa dibagi menjadi tiga golongan ini (golongan yang diberi nikmat, yang mendapat murka dan yang sesat). Hamba ada yang mengetahui kebenaran dan ada yang tidak mengetahuinya. Yang mengetahui kebenaran ada yang mengamalkan kewajibannya dan ada yang menentangnya. Inilah macam-macam orang mukallaf. Orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya adalah orang yang mendapat rahmat, dialah yang mensucikan dirinya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, dan dialah yang beruntung.

Orang yang mengetahui kebenaran namun mengikuti hawa nafsunya, maka dia adalah orang yang mendapat murka. Sedangkan orang yang tidak mengetahui kebenaran adalah orang yang sesat. Orang yang mendapat murka adalah orang yang tersesat dari hidayah amal. Orang yang tersesat mendapat murka karena kesesatannya dari ilmu yang harus diketahuinya dan amal yang harus dikerjakannya. Masing-masing di antara keduanya sesat dan mendapat murka. Tapi orang yang tidak beramal berdasarkan kebenaran setelah dia mengetahui kebenaran itu, jauh lebih layak mendapat murka. Karena itu orang-orang Yahudi lebih layak mendapat murka. Sedangkan orang yang tidak mengetahui kebenaran lebih pas disebut orang yang sesat, dan inilah sifat yang layak diberikan kepada orang-orang Nashara, sebagaimana firman- Nya,

"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus'. "(Al-Maidah: 77).

Penggal pertama tertuju kepada orang-orang Yahudi dan penggal kedua tertuju kepada orang-orang Nashara. Di dalam riwayat At-Tirmidzy dan Shahih Ibnu Hibban, dari hadits Ady bin Hatim, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,"Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang mendapat murka dan orang-orang Nashara adalah orang-orang yang sesat." Nikmat dikaitkan secara jelas kepada Allah.

Sedangkan pelaku kemurkaan disamarkan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa pertimbangan:

1. Nikmat itu merupakan gambaran kebaikan dan karunia, sedangkan kemurkaan berasal dari pintu pembalasan dan keadilan. Sementara rahmat mengalahkan kemurkaan.Tentang pengkhususan nikmat yang diberikan kepada orang-orang yang mengikuti jalan lurus, maka itu adalah nikmat yang mutlak dan yang mendatangkan keberuntungan yang abadi. Sedangkan nikmat itu secara tak terbatas diberikan kepa da orang Mukmin dan juga orang kafir. Jadi setiap makhluk ada dalam nikmat-Nya. Di sinilah letak rincian perselisihan tentang pertanyaan, "Apakah Allah memberikan kepada orang kafir ataukah tidak?" Nik mat yang tak terbatas hanya bagi orang yang beriman, dan ketidakterbatasan nikmat itu bagi orang Mukmin dan juga bagi orang kafir. Inilah makna firman-Nya,

"Dan, jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangatzhalim dan sa- ngat mengingkari (nikmat Allah)." (Ibrahim: 34).

2.. Allahlah satu-satunya yang memberikan nikmat,  sebagaimana firman- Nya,

"Dan, apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allahlah (datangnya)." (An-Nahl: 53).
Sedangkan kemurkaan kepada musuh-musuh-Nya, maka bukan Allah saja yang murka, tapi para malaikat, nabi, rasul dan para wali-Nya juga murka kepada musuh-musuh Allah.

3. Ditiadakannya pelaku kemurkaan menunjukkan keremehan orang yang mendapat murka dan kehinaan keadaannya. Hal ini berbeda dengan disebutkannya pemberi nikmat, yang menunjukkan kemuliaan orang yang mendapat nikmat.

Perhatikanlah secara seksama rahasia penyebutan sebab dan balasan bagi tiga golongan ini dengan lafazh yang ringkas. Pemberian nikmat kepada mereka mencakup nikmat hidayah, berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih atau petunjuk dan agama yang benar, di samping kesempurnaan nikmat pahala. Lafazh an'amta 'alaihim mencakup dua perkara ini.

Penyebutan murka Allah terhadap orang-orang yang dimurkai, juga mencakup dua perkara:
- Pembalasan dengan disertai kemurkaan, yang berarti ada siksa dan pelecehan. Sebab yang membuat mereka mendapat murka-Nya.

Allah terlalu pengasih untuk murka tanpa ada ke jahatan dan kesesatan yang dilakukan manusia. Seakan-akan murka Allah itu memang layak diberikan kepada mereka karena kesesatan mereka. Penyebutan orang- orang yang sesat juga mengharuskan murka Allah dan siksa-Nya terhadap mereka. Dengan kata lain, siapa yang sesat layak mendapat siksa, sebagai konsekuensi dari kesesatannya.

Perhatikanlah kontradiksi antara hidayah dan nikmat dengan murka dan kesesatan. Allah menyebutkan orang-orang yang mendapat murka dan yang sesat pada sisi yang berseberangan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk dan mendapat nikmat. Yang pertama seperti firman Allah,

"Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit".(Thaha: 124).

-Yang kedua seperti firman Allah,
"Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan merekalah orang-orang yang beruntung." (Al-Baqarah: 5).

Di Nukil dari kitab: Madarijus Salikin
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah



Diberdayakan oleh Blogger.