Halloween party ideas 2015

Al khusyu-


Al Azhar Palembang mengundang Ibu/Bpk Orangtua Murid serta seluruh Masyarakat UMUM tuk menghadiri KAJIAN ALAZCHA bulan September yg akan mengusung Tema
'Shalat Khusyu dengan Iman, Ihsan dan Tuma'ninah'


Pelatihan Shalat Khusyu tersebut akan dibimbing langsung oleh Ustadz ABU SANGKAN dan akan dilaksanakan pada:

Hari : Sabtu
Tanggal : 3 september 2016
Jam : 08.00 - 12.00 wib

Bertempat di Al Azhar Convention Hall (SIAP).
Pendaftaran secara online dapat dilakukan dgn cara klik link berikut:

Sms/telp : 085769777001 (Wahyudi). GRATISSS!
Segera daftar yook agar tidak kehabisan tempat.




Al khusyu- Setiap manusia memiliki hati dan perasaan, baik rasa marah, rasa benci, rasa memiliki, rasa rindu, rasa cinta maupun rasa percaya (iman) dan rasa mengingkari (kufur) keberadaan Allah. Kalau kita menyadari, setiap apa yang kita lakukan dan kita ucapkan muncul dari sebuah perasaan. Dan dari perasaan (afeksi) inilah muncul sebuah tindakan (konasi). Namun selama ini hal yang menyangkut perasaan (hati) masih disangkut pautkan hanya pada persoalan agama dan Tuhan. Padahal segala bentuk tindakan pasti berasal dari apa yang dirasakan, apakah peasaan baik maupun perasaan buruk.

Ditegaskan oleh ahli agama, terutama yang memperhatikan masalah akhlak kepada Allah, berpendapat bahwa hati manusia merupakan kunci pokok pembahasan menuju pengetahuan tentang Allah (makrifatullah). Hati juga berperan sebagai pintu dan sarana Allah memperkenalkan kesempurnaann diri-Nya. Sebagaimana sabda Nabi mengatakan:

Tidak dapat memuat zat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali ‘hati’ hamba-Ku yang mukmin lunak dan tenang. (HR. Abu Dawud)


Hadist ini menyiratkan bahwa, pengetahuan tentang Allah tidak bisa sekedar difahami oleh pikiran dan pengetahuan yang berasal dari respons indrawi, akan tetapi hanya bisa dirasakan dan difahami oleh hatinya. Karena indrawi hanya bisa menangkap sesuatu yang terbatas. Baik penglihatan, pendengaran dan penciuman, hanya mampu ditangkap oleh indria dengan ukuran tertentu. Selebihnya dari ukuran tersebut tidak akan tertangkap. Sebaliknya hati mampu menangkap sesutu yang tersembunyi dibalik materi, seperti perasaan senang, rasa indah terhadap sebuah benda (art), rasa cinta terhadap sesama maupun kepada Tuhan. Sehingga Allah memberikan isyarat akan hal ini dalam Firmannya:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami dan mereka mempunuai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melhat dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raaf [7]:179).

Apakah mereka tidak pernah bepergian dimuka bumi ini supaya hatinya tersentak memikirkan kemusnahan itu, atau mengiang di telinganya untuk di dengarkan? Sebenarnya yang buta bukan mata melainkan ‘hati’ yang ada dalam dada. (QS. Al Hajj [22]:46).

Demikian juga rasa iman, tidaklah dikatakan orang beriman jika hanya sampai kepada pemahaman pengetahuan membaca kitab secara tertulis sebagaimana ahli kitab yang terdahulu yang telah tercabut rasa imannya. Kenyataan ini pernah terjadi pengakuan orang Arab Badui yang mendatangi Rasulullah, bahwa dirinya telah beriman kepada Allah. Namun pengakuan orang Badui tersebut dibantah oleh Allah yang disampaikan melalui Rasulullah.

Orang-orang Arab badui itu berkata: Kami telah beriman. Katakan (kepada mereka) kamu belum beriman, tetapi kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu (QS, Al Hujurat,49:14)

Dan Iman itu sesungguhhnya diturunkan oleh secara langsung dan dapat difahami dan dirasakan oleh yang menerimanya.

….tetapi Allah-lah yang menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci keada kekafiran dan kedurhakaan. Mereka itulah yang orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagaimana karunia dan nikmat dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi bijaksana. (QS. Al Hujuraat [49]:7-8).

Penggunaan istilah hati dalam Al Qur’an menandakan pentingnya hati sebagai tempat yang diperhatikan oleh Allah Swt. karena tempat perasaan baik maupun buruk.

Al Qur’an menggunakan istilah Qalb (hati) dan menyebutnya sebanyak 132 kali. Makna dasar kata qalb ialah membalik, kembali, pergi maju mundur, berubah, naik turun. Diambil dari latar belakangnya, hati mempunyai sifat yang selalu berubah. Sebab hati adalah tempat dari kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan. Hati adalah tempat dimana Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia. Kehadiran-Nya terasa didalam hati, dan wahyu maupun ilham diturunkan ke dalam hati para nabi maupun wali-Nya. Allah berfirman :

…ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membuat batasan antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-nyalah kamu sekalian akan dikumpulkan (QS. Al Anfal [8]:24).

….maka Jibril telah menurunkannya (Al qur’an) kedalam hati nuranimu dengan izin Allah, membenarkan wahyu sebelumnya, menjadi peunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman (QS. ,Al baqarah [2]:97).

Hati adalah pusat pandangan, pemahaman dan ingatan (dzikir). Penegasan pengertian tersebut jelas sekali difirmankan Allah dalam Al Qur’an :

Apakah mereka tidak pernah bepergian dimuka bumi ini supaya hatinya tersentak memikirkan kemusnahan itu, atau mengiang ditelinganya untuk didengarkan? Sebenarnya yang buta bukan mata, melainkan hati yang ada didalam dada (QS. Al Hajj [22]:46).

Janganlah kamu turutkan orang yang hatinya telah kami alpakan dari mengingat Kami (zikir), orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya saja,dan keadaan rang itu sudah keterlaluan (QS. Al Kahfi [18]:28).

Memang hati mereka telah kami tutup hingga mereka tidak dapat memahaminya, begitu pula liang telinganya telah tersumbat…. ( QS. Al Kahfi [18]:57).

Apakah mereka tidak merenungkan isi Al Al Qur’an? atau adakah hati mereka yang terkunci? (QS. Muhammad [47]:24).

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi,mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raaf,7:179).

Iman tumbuh dan bersemayam di dalam hati. dan didalam hati pula tumbuhnya kekafiran, kemungkaran serta penyelewengan dari jalan yang lurus. Oleh sebab itu Allah tetap menegaskan, bahwa perilaku ibadah seseorang tidak bisa hanya dilihat dari sekedar syarat sah rukun syariat saja, akan tetapi harus sampai kepada pusat iman, yaitu hati. Karena sering dan banyaknya ibadah yang kita lakukan, kerap kali kita bahkan peribadatan selalu menuntut pemurnian hati (keikhlasan). Padahal kemurnian hati inilah yang akan menghasilkan sesuatu yang haq, serta memberi dampak kepada iman seseorang secara langsung.

Iman yang benar mempunyai ciri tersendiri dan diakui oleh Al qur’an. Ia tertegun dan terharu tatkala nama Allah disebut. Sehingga terdorong ingin meluapkan kegembiraan dan kerinduannya seraya bersujud dan menangis. Hal ini disebabkan adanya kesadaran jiwa yang mampu menembus sinar ilahy yang selalu memancar kepada jiwa yang mau mendekat kepada Allah. Dengan hatilah seorang mukmin mampu menangkap petunjuk yang diturunkan oleh Allah Swt. Dan dengan hati pula Allah menurunkan kesesatan seseorang yang mengingkari Allah.

Allah menilai segala perbuatan manusia ditentukan oleh niat yang ada dalam hati. Rasulullah menuntun kita untuk bekerja dengan hati. Karena Allah hanya mau menerima segala perbuatan yang diniatkan dengan sungguh-sungguh, dan menolak perbuatan orang-orang yang hatinya munafiq. 
Seperti diungkapkan dalam Al Qur’an : Innal munafiqiini yukhadi’uunallah,wa hua yakhidi’uhum ….. (QS An Nisaa’ [4]:142)

Abu Sangkan



Al khusyu-


Untuk Sahabat Khusyu Wilayah Bandung Dan Sekitarnya,jangan sampai terlewatkan Pengajian Akbar Majelis Al - Khusyu

"Bermunajat dalam Shalat" Bersama Ustadz Abu Sangkan (Pembina SC Pusat),yg Akan diadakan Pada :

Waktu : Sabtu 27 Agustus 2016 Pk.12:30 -Selesai
Tempat : Masjid Agung Trans Studio 
Bandung Jl.Gatot Subroto Bandung.

GRATISSSSSS UNTUK UMUM

Sekretariat : Jl.Senam V No.1 Arcamanik  Bandung.

Telp. : (022) 720 1312
WA. :0823 1717 2017



Al khusyu- Bismillahirahmannirahim,
Satu prinsip utamanya adalah jangan ‘mencari’ khusyu’, cukup siapkan diri untuk ‘menerima’ khusyu’ itu, karena khusyu’ bukan kita ciptakan tapi ‘diberi langsung’ oleh Allah sebagai hadiah nikmat kita menemuiNya.

Rileks

Maka saya bersikap rileks. Kepala hingga pinggang dikendorkan, jatuh laksana kain basah yang dipegang ujungnya dari atas. Berat badan mengumpul di kaki yang kemudian serasa keluar akarnya, mengakar ke bumi. Berdiri santai, senyaman kita berdiri. Abu Sangkan (1) menggambarkan laksana pohon cemara, meluruh atasnya, kukuh akarnya sehingga luwes tertiup angin namun tak roboh. Bersikap rileks menyiapkan diri kita untuk siap ‘menerima’ kurnia khusyu’, karena khusyu’ itu diberi bukan kita ciptakan.

Lalu saya mulai bertakbir, Allahu Akbar. Dan selanjutnya saya baca dengan pelan-pelan. Karena bacaan subuh harus diucapkan agak keras, maka saya rendahkan suara saya. Pelan (Perlahan) sesuai tips buku itu, rendah suara karena – jujur - saya agak malu kalau suara saya terdengar isteri saya yang sedang tiduran. Rasanya seperti baru belajar solat lagi.

Saya berdiri lama, banyak berhenti kalau memang sedang tidak ingin baca. Saya meresapi kesendirian dan berusaha menangkap kehadiran Tuhan yang sesungguhnya amat dekat dengan kita, namun kita tumpul untuk merasakannya. Saya sedang menemui-Nya sekarang. Saya, roh saya tepatnya. Badan fisik ini hanyalah alat yang mengantar roh ini berjumpa kembali dengan yang dicintainya, ialah Allah yang meniupkan roh ini dahulu ke dalam badan fisik.

Ketika kita solat, selain badan fisik kita ini solat pula roh kita. Roh inilah yang benar-benar ingin solat - kembali menemui Tuhannya- sementara badan fisik ini sarana kita mengantarnya dengan gerakan dan bacaan. Roh kita ini sesungguhnya ingin solat dengan tenang, santai, tuma’ninah. 

Sayangnya badan kita ‘ngebut’ (suka berebut, lekas, cepat, terburu-buru) jadilah roh kita itu jengkel. sejengkel-jengkelnya kerana selalu ketinggalan gerakan badan. Maka tips sederhana dari buku itu adalah jika ruku’, tunggu, tunggu hingga roh ikut mantap dalam ruku’ itu. Saat I’tidal, tunggu, tunggu hingga roh mu ikut mantap I’tidal. Demikian pula saat sujud, duduk antara dua sujud, juga duduk tasyahud. Tunggu, tunggu hingga roh mu ikut sujud, ikut duduk, ikut tasyahud.

Berikan Kesempatan Pada Roh Kita

Berikan kesempatan roh kita - sebut saja “aku” yang sejati - untuk mengambil sikap solatnya. Dia agak lamban, namun sholat ini utamanya untuk ‘aku” kita itu, bukan untuk badan fisik kita.

Maka saya solat dengan sangat perlahan. Santai. kalau sedang malas baca, saya diam saja. menikmati kepasrahan saya hadir menemui Tuhan. Saya baca bacaan solat dengan pelan .. Saya mencoba berdialog, dan itulah memang esensi sholat.

Esensi Solat Adalah Do'a, Berdialaog Dengan Allah Secara Langsung
Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rezki, kesehatan, cinta, dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Roh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu.

Saat ruku’ saya ruku’ lama, sambil menarik regang kaki dan punggung saya. Nikmati saja seperti menikmati peregangan bila senam. Saat sujud, saya tumpukan kepala sebagai tumpuan utama. Nikmat rasanya ‘terpijat’ dahi ini oleh gerak sujud. Saat roh telah ikut sujud, saya baca dengan penghayatan, “Subhana robbiyal a’laa wa bi hamdih” (Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji). Rasanya nikmat sekali sujud lama.

Lalu, lalu saya duduk setelah sujud. Saya baca sepotong-sepotong bacaannya, sesuai tips buku itu. Robbighfirlii (Ya Tuhan ampunilah aku). Lalu saya diam. Tiba-tiba keluar sendiri air mata, saya menangis karena menyadari betapa dalam makna kalimat pengaduan ini. Kita minta secara langsung untuk dimaafkan. Roh kita meminta secara langsung, dan Allah menjawabnya.

Saya menangis. Roh saya, kita yang sejati, menangis.
# War hamnii (dan sayangilah aku), air mata itupun tumpah.
# Wajburnii. Diam.
# War fa’nii. Diam. Saya tak terlalu yakin arti yang saya baca. Tapi saya makin menangis.
# Warzuqnii (beri rizki padaku -Ya Allah), air mata saya tumpah, betul-betul saya tiba-tiba sadar bahwa selama ini saya mengejar-ngejar rezeki tapi tidak serius mengakui itu dariNya, lalu saat ini saya sedang memintanya langsung!
# Wahdinii (tunjukilah aku -karena aku sedang bingung dan tak tahu). Diam, saya menangis.
# Wa’aafinii (dan sihatkan aku -aku yang sedang sakit pelik).
# Wa’fuannii (dan maafkan aku- yang banyak dosa ini). Saya duduk lama sekali. Sambil mengusap air mata yang bercucuran.

Saya Mengangkat Tangan Seperti Seorang Pengemis
Solat Subuh dua rakaat ini panjang. Ditutup dengan tasyahud yang menggetarkan. Apalagi ketika membaca “Assalaamu’alainaa wa ‘alaa ibaadillahisshoolihiin” (keselamatan mohon dikaruniakan kepada kami - para roh yang sedang menemuiMu - dan atas roh-roh ahli-ahli ibadah yang soleh). Saya menangis terus-menerus, sehingga berulang kali mengusap hingus yang keluar dari hidung.

Setelah solat, sesuai dengan tips buku itu, saya mulai berdoa dengan meratap. Saya ucapkan hanya, “Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”, sambil mengangkat tangan setinggi wajah seperti seorang pengemis yang meminta-minta. Berkali-kali, hingga hati saya siap berdoa.

Saya ingat buku Al Ghazali dulu saya baca, sekitar 15 tahun lalu, yang berjudul Rahasia Solat. Salah satu point yang saya ingat adalah, kalau kita ingin dekat Allah maka kita harus sungguh-sungguh memanggilnya laksana seorang anak kecil yang ketakutan karena ada ular atau bahaya, lalu memanggil-manggil ayahnya, “Ayah… Ayah… Ayah…”, maka ayahnya pasti datang dengan seruan itu dan melindungi anak tersebut. 

Demikianlah kalau kita ingin bebas dari maksiat, kata Al Ghazali, maka kita harus panggil dengan betul-betul ketakutan akan maksiat tersebut, kita panggil pelindung kita dengan sungguh-sungguh seakan anak kecil memanggil-manggil ayahnya, maka akan dilindungi kita dari maksiat tersebut.

Lalu saya berdoa, dengan masih terus menangis. Saya merasa mengadu dan masih mengadu di depan Tuhan secara langsung. Saya mengikhlaskan apapun jawaban dari doa saya tersebut.
Saya bahagia bisa merasakan solat seperti itu. Tidak akan tergantikan dengan uang dan kemewahan dunia lainnya.

Sungguh Pengalaman Yang Menakjubkan

Sungguh pengalaman yang menakjubkan. Cerita berhalaman-halaman tidak akan mampu melukiskan hal itu. Silakan coba sendiri, rasakan sendiri, menangislah bermohon kepada Allah.

Khusyu’ dalam solat adalah cermin kekhusyu’an seseorang di luar solat.

Khusyu’ dalam solat adalah sebuah ketundukan hati dalam zikir dan kosentrasi hati untuk taat, maka ia menentukan nata’ij (hasil-hasil) di luar solat. Oleh kerana itulah Allah memberi jaminan kebahagiaan bagi mu’min yang khusyu’ dalam solatnya.

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam solatnya selalu khusyu” (Al-Mu’minun:1-3).

Begitu juga iqamatush-shalah yang sebenarnya akan menjadi kendali diri sehingga jauh dari tindakan keji dan munkar. Allah berfirman; “Dan tegakkanlah solat, sesungguhnya solat itu mencegah tindakan keji dan munkar” (Al-Ankabut:45).

Sebaliknya, orang yang melaksanakan solat sekadar untuk menanggalkan kewajiban dari dirinya dan tidak megambil berat kualitas solatnya, apa lagi waktunya, maka Allah dan Rasul-Nya mengecam pelaksanaan solat yang semacam itu. Allah berfirman; “Maka celakalah orang-orang solat, ia itu orang-orang yang lalai dari solatnya” (Al-Maun: 4-5)

Solat yang tidak khusyu’ merupakan ciri solat orang-orang munafik. Seperti yang Allah firmankan; “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, padahal Allah (balas) menipu mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk solat mereka berdiri malas-malasan, mereka memamerkan ibadahnya kepada banyak orang dan tidak mengingat Allah kecuali sangat sedikit” (An-Nisa’:142).

Rasulullah saw. Bersabda; “Itulah solat orang munafiq, ia duduk-duduk menunggu matahari sampai ketika berada di antara dua tanduk syetan, ia berdiri kemudian mematok empat kali, ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (Diriwayatkan Al-Jama’ah kecuali Imam Bukhari).
Semoga Allah memberi karunia dan rahmat , khusyu ni'mat dalam solat bagi kita bersama aamiin

Wallahua'lam bishawab,
Semoga bermanfaat (Harisman: Pembina SC Pusat).



Al khusyu- Seluruh Nabi mengajak manusia mengenal Allah dan bergantung kepada -Nya. Ajaran yang sangat sederhana, tetapi menjadi tidak sederhana. Kita menjadi penat dalam berkeTuhanan. Kita menjadi bingung karena uraian tentang Tuhan terlalu berliku-liku. Seharusnya kita ber-Tuhan seperti para Sahabat :Bilal ra, seperti Umar bin Khattab ra,seperti Khalid bin Walid ra atau seperti tukang sihir Fir'aun yang berkata "amantu bi rabbi Musa wa Harun" :" Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun ".

Mengapa mereka sangat sederhana dalam percaya kepada Allah. Dimana perbedaan mereka dengan kita ? Sebab mereka berasal dari kalangan musyrikin yang menyaksikan Tuhan-Tuhan mereka telah terkalahkan oleh kekuatan para Rasul yang ber-Tuhankan  Allah, kemudian mereka menyaksikan secara langsung kekuatan Tuhan-Tuhan yang dianggap paling hebat ternyata tidak mampu berbuat apa-apa dan dapat dihancurkan oleh para utusan Allah ini.

Nah, disaat mereka goyah dan ragu atas Tuhan yang selama ini mereka puja dan sembah, hatinya berpindah kepada Tuhan-nya Musa as,Harun as,dan Muhammad SAW. "amantu bi rabbi musa wa harun" ( kalimat ini disampaikan oleh tukang sihir Fir'aun karena sihirnya dikalahkan oleh kekuatan Allah-nya Musa dan Harun) tanpa ia sadari hatinya sudah lepas dan menolak kekuatan sihir yang ia 
miliki yang berasal dari kekuatan iblis.



Ketika ia menolak itulah iman yang sesungguhnya menjadi keadaan jiwa mereka. Demikian pula para sahabat ketika masuk Islam, mereka telah menyaksikan kekuatan Tuhan yang selama ini disembah dan dipuja telah runtuh oleh kekuatan Tuhannya muhammad SAW !! Setelah mereka sadar atas kekalahan para Tuhan mereka, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah, bagaimana caranya Aku ber-Tuhan kepada Allah padahal aku tidak mampu melihat-Nya. 

Allah berfirman : 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Kemudian Allah berfirman : 
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS. Qaaf : 16].

“Dari Abi Musa Radhiallahu ‘anhu ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan, kemudian orang-orang mengeraskan suara takbir mereka, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Wahai para manusia, kasihanilah dirimu dan rendahkanlah suaramu! sesungguhnya kamu tidak sedang menyeru Zat yang tuli (pekak) dan tidak juga yang jauh. Sesungguhnya kamu sedang menyeru Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat.” (Riwayat al-Bukhori, 3/1091, hadis no: 2830. DanMuslim, 4/2076, hadis no: 2704). Dia ada sangat dekat bersama kita, innallaha ma'ana !! Wahuwa ma'akum ainama kuntum .

Dimana perbedaan mereka dengan kita. Mereka beriman kepada Allah disebabkan hatinya telah hancur dan kecewa terhadap Tuhan-Tuhan yang selama ini mereka puja dan sembah."

Sedangkan kita masuk Islam bukan alasan kekecewaan terhadap apa-apa yang kita puja dan sembah, kita masih mengagumi berhala-berhala dalam hati kita. Hati kita masih berisi kemusyrikan baik kecil maupun besar. Kita belum masuk Islam dengan sesungguhnya. Kita hanya terpaksa harus ber-islam akibat orang tua yang sudah Islam. Kita keturunan islam bukan islam yang sebenarnya. 

Mari kita tengok hati kita pagi ini, sudahkan kita kecewa dengan apa yang kita kagumi selain Allah. Sudahkah kita goyah dengan apa yang kita bergantung kepadanya. Sudahkah kita berpindah hati secara tuntas kepada Allah sehingga kita berkata :Amantu bi rabbi Musa wa Harun !!

Atau kita berkata Aku menyaksikan kebenaran Allah dan Muhammad !! Seperti disaat Hushain bin Mudzir Al Khaza'I masuk islam karena ia telah kecewa dengan Tuhan-Tuhan yang selama ini ia puja, kemudian ia bersimpuh dihadapan Rasulullah SAW dan ia ucapkan dua kalimat syahadat.

Ketika ia percaya secara tuntas tanpa kemusyrikan sama sekali ia berhak mendapatkan ilmu ilham !! Ia boleh “berbicara” dengan Allah, ia akan mendapatkan bimbingan langsung dari Allah berupa hidayah melalui al himni rusydi wa qinii syarran nafsi : (“Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku kecerdasan dan lindungilah aku dari kejahatan nafsuku.”(Abu Sangkan).



Al khusyu- Bismillaahirrohmaanirrahiim
Dua minggu lalu menyempatkan untuk hadir kajian bulanan minggu ke- 3 di Shalat Center. Kajian dilaksanakan pukul 10.00 dan selesai sebelum masuk adzan dzuhur. Alhamdulillah ada banyak ilmu yang masuk, sehingga sepanjang jalan pulang dan sampai sekarang pun ilmunya masih terus terngiang. Jika disingkat jadi kata, maka apa yang diperoleh kemarin dapat disimpulkan menjadi dua kata, yaitu, iman dan shalat. Cukup sederhana, tapi dua hal itu yang membuat selalu introspeksi diri. 


_1. Iman_

Saat kajian ini, Ust. Mardiyanto mengatakan kalimat yang sederhana, akan tetapi mampu membuat kita berpikir. Beliau cuma bilang, "Tidak ada khusyuk tanpa iman (keyakinan)". Sederhana, bukan?

Sikap kita ini sebenarnya dibentuk oleh keyakinan kita. Coba saja kita ambil contoh yang sederhana. Kita percaya jika Retorika Cafe itu sudah buka dan mudah diakses. Karena keyakinan itu lah, akhirnya kita punya sikap untuk menuju ke sana. Padahal cafe itu masih belum buka dan tempatnya belum diketahui.

Seperti itu juga, khusyuk atau tunduk kepada Allah. Jika percaya akan menemui dan selalu merasa ada Allah, maka sikap kita pun Insya Allah pasti khusyuk.
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ  ؕ  وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ ۙ 
Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
[QS. Al-Baqarah: Ayat 45]
الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ  اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
(yaitu) mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
[QS. Al-Baqarah: Ayat 46]
_2. Shalat_

Dalam penjelasan di kajian Shalat Khusyuk, Ust. Mardiyanto menyampaikan tingkatan kualitas shalat menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tingkatan kualitas shalat tersebut dibagi 5 :

*(a) Mu'aqqab*
Artinya disiksa. Jadi, pada tingkatan ini orang melakukan shalat hanya sebagai formalitas saja. Banyak mengabaikan hal-hal seputar shalat, dari mulai wudhu, waktu shalat hingga rukun shalat.

*(b) Muhasab*
Artinya dihisab. Syarat sah shalat dan rukunnya sudah hampir terpenuhi, tapi sayang masih sering melamun dalam shalatnya sehingga tidak sadar jika shalatnya sedang menemui Allah.

*(c) Mukaffar 'Anhu*
Artinya diampuni dosanya dan kesalahannya. Pada tingkatan ini, mereka mampu menjaga shalat dan segala ruang lingkupnya, kemudian ia bersungguh-sungguh untuk  melawan intervensi setan. Ia berusaha menghalau lamunan dan pikiran yang terlintas.

*(d) Mutsabun*
Tingkatan mutsabun atau yang diberi pahala memiliki ciri-ciri seperti tingkatan Mukaffar ‘Anhu. Lebihnya adalah ia benar-benar iqamah (mendirikan shalat). Ia hanyut dan tenggelam dalam shalat dan penghambaan kepada Allah.

*(d) Muqarab Min Rabbihi*
Yang terakhir adalah tingkatan yang paling hebat. Mereka yang menempati tingkatan ini adalah orang yang ketika shalat, hatinya langsung tertuju kepada Allah. Ia benar-benar merasakan kehadiran Allah. Tingkatan ini adalah Muqarrab min Rabbihi (didekatkan dari Allah).

Orang yang berada di tingkatan ini bukan hanya mendapat pahala dan ampunan, tetapi ia pun dekat dengan Allah karena shalat dijadikannya sebagai penyejuk mata dan penentram jiwa.
Dari kelima tingkatan tersebut, tingkatan (a) dan (b) dikategorikan shalatnya orang yang munafik.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ ۙ 
Maka celakalah orang yang salat,
[QS. Al-Ma'un: Ayat 4]

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ  صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ ۙ 
(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,
[QS. Al-Ma'un: Ayat 5]

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُوْنَ ۙ 
yang berbuat riya',
[QS. Al-Ma'un: Ayat 6]

فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا  ۙ 
Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.
[QS. Maryam: Ayat 59]

*Iman dan shalat.*
Dua kata sederhana, tapi memiliki makna yang dalam hingga mempengaruhi kehidupan. Perlu kita renungi bersama dua pertanyaan ini. Sudahkah kita beriman kepada Allah, sehingga mau menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? Apakah kita termasuk golongan orang-orang munafik terhadap Allah?

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰٮهَا  ۖ 
Sesungguhnya beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),
[QS. Asy-Syams: Ayat 9]

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰٮهَا   ؕ 
dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.
[QS. Asy-Syams: Ayat 10]

Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Aamiin. Mudah2an bermanfaat tulisannya.
Wintang (Jamaah SCI) 



Diberdayakan oleh Blogger.