Halloween party ideas 2015

Bagi penikmat steak, nama Obong Steak bukan sesuatu yang baru. Gerainya mudah di temui di beberapa wilayah Jakarta dan beberapa puluh gerai Obong Steak lainnya di beberapa daerah di Indonesia. Boleh dibilang, eksistensi Obong Steak cukup berkibar di bisnis kuliner negeri ini. Semua itu tak lepas dari kepiawaian dan sentuhan Sugondo Djoyohadikusumo, yang dulu  sempat berkibar di jagad entertain, khususunya di Kota Sola, Jawa Tengah.
Sugondo bersyukur di ujung usianya ia masih punya kesempatan menata diri.  Sebab masih banyak teman teamnnya yang  tenggelam dalam racun jahanam narkoba. Padahal sudah banyak diantara mereka yang mati, atau ginjalnya rusak dan stroke. Padahal, kalau mau sadar itu pasti diberi pengampunan, diberi jalan dan petunjuk yang seluas-luasnya. Apa yang kita inginkan itu baik, pasti diberi asal keinginan itu kuat, kataya.
                Lalu apakah Sugondo sangat menyesali masa lalunya itu? “Saya nggak menyesali kenapa kok sampai seperti  ini. Mungkin sudah takdir saya  harus jadi orang jelek dulu, bukan jadi orang baik sejak dulu. Ini memang sudah jalannya. Kalau saya tidak usaha diskotik, saya kan  tidak ketemu penggusaha restoran itu. Kalau saya tidak ketemu pengusaha itu saya tidak akan mendirikan Obong Steak. Kalau tidak bikin Obong Steak mungkin saya tidak sadar. Kalau tidak dipenjara, mungkin saja saya tak dapat hidayah,” jelasnya penuh kemantapan.
                Menurut Sugondo, shalat itu ibadah yang paling pokok  Makanya disebut  tiang agama. Jadi kalau kita shalat  kualitasnya asal asalan, apa bisa jadi tiang agama?  “Kalau kata Ustadz Abu shalat itu adalah shilatun (hubungan), Sebenarnya kalau kita terima dengan ikhlas, ibadah itu nggak ada yang sulit kok. Asal pikirannya tenang, bersih hati, mau menghadap Allah ya sudah tinggal dipegang. Tapi kalau hati dan pikiran kita kemana-mana, pasti Allah  nggak mau dengar.”papar penikmat kuliner daerah ini.
                Menurut  Sugondo, dalam shalat yang sehari lima kali itu kalau khusyu’ nya hanya  mencapi 70% itu suatu hal yang  manusiawi. Tapi kalau cuma 10-20 % saja itu sudah nggak bener. Tidak ada perkembangan namanya. Kadang khusyu’ 90%. Tapi adakalanya cuma 60% karena banyak urusan. Mungkin  karena mikirin  utang-piutang atau apa, Makanya kalau kita baca Al Fatihah di awal khusyu’,  ditengah tidak khusyu’, terus diakhir khusyu’ lagi, ya terima saja. Tidak harus diulang baca Al Fatihah lagi kan?” tandas bapak kelahiran 31 Maret 1950 ini. .lengkapnya Dapatkan majalahnya di agen sirkulasi kami di kota anda atau toko buku Gramedia dan Gunung Agung)

 Atau berlangganan langsung disini

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.