Halloween party ideas 2015

Islam adalah jalan menuju sukses di dunia dan akhirat. Jika hal ini diyakini dengan benar maka kita akan menjadi orang yang kaya harta dan hati. Akan tetapi  melihat kenyataan ummat Islam pada jaman modern sekarang  terkesan tidak demikian. Ummat Islam identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Pandangan ini tidak bisa kita bantah kalau dilihat dari kenyataan yang terjadi pada masyarakat Islam.
Harus dibedakan antara umat Islam dan ajaran Islam. Jika kita mengacu kepada Al Qur’an dan bimbingan sunnah Nabi tidaklah demikian yang terjadi. Islam mengajarkan menjadi orang kaya sehingga mampu memenuhi perintah-perintah Allah. Kalau boleh berkata agak kurang patut, sebenarnya umat Islam dilarang miskin. Justeru Islam harus kaya, karena lebih mendahulukan berjihad dengan harta kemudian dengan jiwa. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.( QS. As saff, 61: 11 )

Tidak ditemukan satu ayat ataupun hadist yang mengajarkan untuk memin­ta-minta kepada orang kaya. Kita hanya disuruh menafkahkan sebagian harta yang telah kita miliki dari rizki yang berasal  dari Allah. Bahkan diancam Neraka  dan disebut pendusta agama yang tidak memikirkan kaum miskin dan anak yatim. 

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik anak yatim,. dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,. orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.( QS. Al Ma’un,107: 1-7)
Saya kira cukup banyak penjelasan mengenai perintah menafkahkan sebagaian harta yang dikaruniakan oleh Allah kepada ummat Islam. Akan tetapi ajaran ini dianggap yang paling berat. Sehingga umat Islam berusaha menghindari bahkan menutup telinga begitu mendengar ada perintah zakat dan infak. Malah ada yang menuduh mengada-ada dan penuh curiga atas dianjurkannya perintah tersebut. Hal ini karena mereka tidak memahami perkara rahasia kehendak Allah dibalik hikmah perintah tersebut.
Ada  cara untuk memperoleh datangnya Rizki dalam Al Qur’an. Yaitu  kita diperintahkan untuk mencari dengan jalan merubah Nasib dengan kekuatan Allah. Disebutkan dalam Al qur’an :
Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mere­ka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghen­daki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mere­ka selain Dia. ( QS. Ar Ra’d, 13:11)
Ayat ini menjelaskan, kita diperintah merubah nasib dengan kekuatan Allah bukan dengan kekuatan diri. Sebab jika Allah meghendaki keburukan terhadap suatu kaum maka tidak ada yang dapat melawannya. Dengan demikian kita harus bersandar dan berlindung kepada Allah agar tidak terjadi keburukan yang menghancurkan usaha kita. Sehebat apapun ia sebagai pebisnis, tidak selamanya ia bernasib baik atau beruntung. Kenyataannya kita tidak bisa menentukan pasar untuk membeli barang jualan kita. Ada keterlibatan yang Maha Ghaib yang menentukan rizki yaitu Allah.

Selama ini kita salah memahami terhadap ayat ini seolah Allah menyerahkan penuh terhadap manusia dalam merubah nasibnya sendiri. Dikira Allah tidak perlu terlibat atas perubahan nasib manusia. Seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Rusydi dalam kitabnya “at tahafut attahafut”. Bahwa manusia diberi kekuasaan penuh atas perubahan nasibnya oleh Allah. Sementara Imam Al ghazali mengkritik balik dalam kitabnya At tahafut Al falasifah, sesatnya pemikiran filsafat. Bahwa merupakan kesombongan dan kufur bagi yang tidak melibatkan nasibnya kepada Allah. 

Kedua kitab ini menjadi landasan pemikiran ummat Islam sehingga terpecah menjadi dua paham yaitu paham rasionalis­me dan spiritualisme.  Masing-masing berkembang dan berjalan dengan kondisi masyarakat yang memahaminya. Pemikiran Ghazalian berkembang ke wilayah Asia termasuk Indonesia. Sedang­kan Rusydian berkembang ke Eropah yang dikenal dengan nama Averos. 

Pada prinsipnya Ibnu Rusydi bukan melepaskan nasibnya terhadap dirinya secara murni sebagaimana pemikiran sekuler. Akan tetapi Ia memahami bahwa sikapnya terhadap merubah nasibnya termasuk menjalankan perintah Allah.

Untuk lengkapnya, dapatkan majalah Al Khusyu' disini (Isi Formulir Belanja) atau hubungi agen sirkulasi terdekat atau telpon langsung ke:  Jln Kemang Sari IV No 5 Jatibening Baru Pondok Gede Bekasi Telp 021-849 78843 / 021-849 78836

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.