Halloween party ideas 2015

Alkhusyu - Astrie Feizaty Ivo pada dekade 1980 namanya tidak asing sebagai artis dan memulai karirnya sebagai penyanyi cilik, karena ibunya Ivo Nila Kreshna juga seorang penyanyi ternama di era 1960-an. Wanita yang akrab di panggil dengan nama Aci ini, menikah dengan Dariola Yusharyahya dan melahirkan tiga putra, Arighi Yusharyahya, Adrio Faresi dan Riedo Devara.
Beberapa tahun terakhir ini Aci yang yang merupakan alumnus sebuah universitas di Jerman ini, lebih banyak menjadi presenter di berbagai acara acara keagamaan. Hal ini dilakoninya  seiring dengan kesadarannya yang kian mendalami ilmu agama Islam. “Jadi Sekarang waktu utama saya mendidik anak, menjadi ibu. Dan waktu luangnya saya gunakan dengan menjadi public speaker pendidikan anak, bagaimana supaya orang tua harus mendidik anak-anaknya dengan Al Qur’an.” Papar wanita berdarah Minang dan Aceh ini, saat ditemui di rumahnya di kawasan Bintaro, berikut petikan bincang bincang degan Astri Ivo:

Seperti apa mendidik anak sesuai dengan Al Qura’an?
Banyak orang tua mendidik anak-anak tidak seimbang, hanya konsen dengan tumbuh-kembang fisiknya, kecerdasan intelektualnya, tapi tidak terlalu konsen dengan kecerdasan spiritualnya. Anak-anak di didik bisa untuk shalat lalu selesai, bisa untuk puasa lalu selesai. Padahal sebenarnya intinya bagaimana anak-anak bisa mengenal penciptanya. Jadi saya mengajak orang tua, ayo kembali mendidik anak-anak sesuai dengan ajaran Rasulullah. Kurikulum pendidikan anak dalam Al Qur’an kan ada, seperti di surat Luqman misalnya. Orang tua itu sebenarnya tidak diwajibkan oleh Allah mendidik anaknya mahir di segala bidang, tapi diwajibkan oleh Allah untuk mendidik anak menjadi anak yang soleh dan soleha. Karena kalo anak-anak kita menjadi anak yang soleh dan soleha maka Allah akan mewariskan bumi beserta isinya.
Anak yang soleh-soleha itu bukan anak yang pintar ngaji, tapi anak yang kenal Allah, kenal dengan Nabinya, keluarganya, dengan para sahabat, dan ber­tingkah laku seperti yang Allah mau. Kan kalau sekarang fenomenanya yang kita lihat, mereka sekolah Islam, dari keluarga Islam, tapi kehidupannya jauh dari Islam.

Tapi kan jarang terdengar orang tua ingin anaknya bercita cita jadi orang sholeh?
Saya yakin orang tua ingin anaknya soleh dan soleha, cuma cara mendidiknya yang salah, paradigmanya salah. Begini kalau ditanya Anda sejak kapan menjadi manusia? Biasanya akan dijawab sejak saya lahir. Nah manusia itu dimensinya ada dua, manusia ambasyariah dan manusia ruhaniah, Manusia adalah ruh, tubuh hanya cangkang. Jadi informasi ini kita harus tahu, supaya kita punya paradigma yang jelas. Karena kalo kita menjawab diri kita manusia sejak kita lahir, itu paradigma materialistik jadi kita memikirkan cuma materi padahal ada dimensi yang lain yang lebih hakiki. Nah, ini yang harus di informasikan kembali.

Sementara pendidikan sekolah kita kan kiblatnya Barat yang pola berpikirnya matrealistik?
Barat itu ambil baiknya, barat itu kan Allah yang menciptakan, barat itu kalau pola hidupnya, bukan pola beragamanya ya, sangat Islami. Mereka punya etos kerja yang tinggi, sangat disiplin. Saya pernah diundang oleh HUMIA (Himpunan Masyarakat Islam di Auckland, New Zealand). Itu negara paling sedikit korupsinya, padahal sedikit sekali yang beragama Islam. Anak-anak kita kalau jalan ditengah jalan itu terlindungi keamanannya, orang kalau nyetir, ada zebra cross berhenti walaupun tidak ada yang menyeberang.

Terus apa yang salah di kita?
Mereka tidak kenal sama Allah nya, mereka tidak mengerti apa yang mereka baca. Qur’an hanya dibaca secara ritual, tapi tidak fungsional. Sehingga mereka tidak bisa ber-Qur’an dengan hidupnya, dia tidak punya furqon, tidak punya pembeda mana yang bathil mana yang haq. Dia pikir, kalau dia sudah shalat, sudah puasa dia boleh memakai baju seperti Lady Gaga misalnya, seperti banyak anak-anak remaja kita itu. Itu karena orang tuanya tidak mendidik dengan sungguh-sungguh, tidak mendidik dengan semestinya dan tidak percaya diri dengan Qur’annya.

Jangan – jangan orang tua­nya sendiri juga tidak mengerti?
Karena itu saya mengajak para ibu, mengajak diri saya sendiri pertama-tama untuk kembali hidup seperti Al Qur’an tuntun. Hidup harus Islami, kita diminta Allah bukan hanya shalat dan puasa, kita harus  jujur, harus shiddiq, anak-anak harus cerdas, anak-anak harus fatonnah, harus tabligh, anak harus amanah, anak-anak harus punya budaya malu. Rasulullah itu sangat pemalu, tapi jadi anak yang handal. Jadi kecerdasan itu bukan hanya  secara spiritual, tapi intelektual, secara fisik, secara emosional, dan secara sosial. Kelima kecerdasan ini harus dimiliki setiap kita, kalo kita sebagai orang tua punya kecerdasan seperti ini, maka kita akan mendidik anak kita seperti itu.

Ok, apakah anda punya komunitas jamaah tersendiri?
Sekarang saya memang punya komunitas, tapi saya bukan ustadzah kalo al-ustadzah dalam Islam kan berarti professor, saya cuma ibu-ibu yang ingin berbagi ilmu karena saya melihat banyak sekali pola pengasuhan yang tidak sesuai dengan Qur’an. Saya pun belum 100% berhasil, saya pun masih belajar, masih terus memperbaiki diri, karena awal-awalnya saya tidak mendidik anak saya dengan Qur’an. Saya ingin anak saya cerdas, pintar, tumbuh-kembangnya baik. Itu yang saya ingin ajak bagi para umat khususnya para muslimah untuk mempersiapkan dirinya sebagai seorang ibu. Sedikit dari kita mempersiapkan anak-anak kita menjadi seorang ayah, seorang ibu, banyak dari kita mempersiapkan anak-anaknya jadi rektor, jadi dosen, jadi artis, jadi dokter tapi sedikit yang mempersiapkan mereka menjadi orang tua.

Tadi Anda bilang awalnya tidak mendidik anak dengan Al Quran, bagaimana kemudian timbul keinginan itu?
Bukan timbul keinginan, tapi baru paham. Kalau waktu remaja saya baca Qur’annya kejar setoran, artinya cari pahala yang banyak, kalau sekarang saya baca Qur’annya belajar memahami, supaya disayang oleh Allah, itu saja intinya. Kita kata Nabi 0-7 tahun main bersama anak-anak, akhirnya kita mendidik sambil bermain bersama anak-anak. Kalau 7-14 tahun harus diadab, adab anak-anak, sehingga ketika  dia baligh 14 tahun keatas itu mereka sudah menjadi Amir, orang kepercayaan kita. Jadi dulu saya mendidiknya bukannya salah, tapi tidak tepat.

Jadi dalam hal ini yang harus dirubah apanya?
Mindset dan pahami Qur’an. Qur’an itu bisa menjadi petunjuk, tapi petunjuk hanya untuk orang-orang yang bertakwa. Jadi intinya mari kita memahami Qur’an dan  sunnah. Intinya ya iqra, kalau kita rewind lagi kenapa perintahnya iqra? Iqra itu kan sering dipahami sebagai metode membaca Qur’an. Kenapa saya bilang anak pertama beda pengasuhan dengan sekarang? Karena dulu 20 tahun yang lalu saya baca Qur’annya, baru membaca. Tapi setelah anak pertama saya lahir, saya baru belajar tahsin, pemahaman Qur’an. Ketika saya paham, masya Allah, subhanallah. Ternyata hidup tak perlu dijalani dengan stress, karena kita yakin ada Allah yang memberikan mahraj, Allah berfirman; kalau engkau bertakwa, Aku beri selalu jalan keluar. Dan tidak hanya jalan keluar, tapi juga rezeki dari arah yang kamu tidak sangka. Ada sahabat saya anak petani di Sumbawa, orang tuanya sederhana, tapi S3-nya P.hd nya di ambil di Inggris. Siapa yang buat itu kalau bukan Allah? Jadi kita memang harus bersungguh-sungguh, ikhtiarnya harus full tapi jangan lupa do’a. Karena itu kita harus mendidik anak-anak harus kenal dengan penciptanya.  Kalau kita mendidik anak-anak hanya cerdas secara intelektual maka kita akan sedih kita cuma merawat monster-monster yang cerdas, dia pintar tapi tidak amanah.

Kadang yang terjadi anak di rumah sudah diajar benar, tapi lingkungan tidak mendukung
Kalau mereka kenal dengan Allah, mau lingkungan seperti apa akan ada remnya. Saya di didik orang tua saya, dari keluarga seniman dengan pendidikan agama yang baik, orang tua saya mengajarkan ihsan. Dulu saya kuliah di Jerman, kata ibu saya; kamu mau mengerjakan apapun terserah, tapi kamu mesti tanggung sendiri. You must pay the risk. Kalau kamu sanggup, go ahead. Tapi kalau kamu tidak sanggup, kamu pikirkan kembali. Saya kuliah di Jerman, saya tidak berani meninggalkan puasa Ramadhan padahal orang tua saya tidak ada, cuma karena saya tahu saya punya informasi; satu hari kamu tinggalkan puasa Ramadhan tanpa uzur, seluruh hari dalam hidupmu kamu bayar untuk Ramadhan itu tidak akan bisa. Meski saya tidak alim, karena tahu informasi seperti itu, saya remaja, kuliah di Jerman saya tidak berani meninggalkan hak-hak Allah dan juga hak-hak hambanya. Di Jerman itu kurang bagaimana liberalnya, tapi kan tetap ada Allah.

Kenapa Anda sangat Fokus pada masalah anak dan keluarga?
Karena negara yang maju itu datang dari keluarga yang maju, keluarga yang taat. Jadi saya ingin setiap rumah kaum muslimah dan muslimin itu rumah yang ada internalisasi rukun-rukun Islam, tegak rukun-rukun Islam dalam rumah itu, ada futuh hassanah disitu, kita sangat memahami bahwa hidup kita ini berpusat kepada Allah. Kalau dalam satu rumah tangga, seorang muslimah bisa me­negakkan hukum Islam maka tidak perlu ada negara Islam, karena hidupnya pasti Islami. Jadi semua datang dari keluarga, pembentukkan, ketahanan keluarga itu sangan penting. Dan keluarga itu sangat strategis di kehidupan kita. Itu sebabnya saya tidak mengajarkan fikih, saya bukan ahlinya tapi saya mengajak para ibu khususnya dan perempuan umumnya untuk mempersiapkan diri menjadi istri, menjadi ibu.

Jadi agama tidak hanya retorika saja?
Tidak retorika dan ritual, akibatnya lihat  saja yang tawuran,  geng motor, dan korupsi itu banyak orang Islam. Tapi kalau mereka mengenal Allah-nya, saya yakin mereka tidak akan melakukan itu, dan negara ini tidak akan seburuk itu. Negara akan lebih maju. Saya ingin Indonesia ini, negara yang benar-benar mendapat ampunan, mendapat keberkahan. Jadi kalau negara kita mau maju, sumber daya manusianya dulu yang harus di perbaiki. Dengan pendidikan gama yang baik, ilmu apapun, kecerdasan apapun yang mere­ka miliki akan muncul potensinya. Dan saya tidak putus asa, saya yakin Indonesia suatu saat akan seperti itu. Kalau perempuan Indonesia ini memahami bahwa kewajiban utama kita adalah menjaga diri kita dan anggota keluarga kita semua.

Kenapa Anda tidak mendirikan sekolah saja?
Kalau mendirikan sendiri memang belum ada dana yang cukup dan sumber daya yang cukup. Jadi bersinergi dengan para guru. Misal, guru-guru kita punya pesantren, pembangunannya kita support, anak-anaknya kita jadikan anak asuh. Atau ustad asuh, ustad asuh ini mereka berdakwah di tempat-tempat terpencil di pulau Jawa, itu mereka harus naik turun gunung jadi kita support, kita urunan sama seluruh ibu-ibu belikan mereka motor. Atau kita urunan, supaya tetap tinggal di desa, tapi karena dia punya istri dan punya anak, orang-orang desa tidak bisa membayar dia, kita yang support dia dari Jakarta untuk kebutuhan hidupnya, misalnya.

Atau sekarang ini ada seorang kiyai besar mengajak saya, anaknya baru lulus dari Yaman untuk mendirikan muslimah center. Jadi kalau tentang pendidikan saya sangat semangat. Sekarang ini kyai Nur Muhammad Iskandar itu, anaknya baru lulus dari Yaman dia bilang, “ummi, ayo bikin sama anakku sekolahan. Ummi itu termasuk potensi ummat buat muslimah. Kamu itu ilmunya tidak boleh untuk segelintir orang. Kamu harus buat suatu lembaga pendidikan.” Saya mengiyakan, tapi belum tahu kapan realisasinya. Tapi kalau untuk pendidikan yang umum ada tapi bukan milik saya milik ummat, selain itu kita juga bekerja sama dengan yayasan-yayasan. Rafles Rasyidin

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.