Halloween party ideas 2015

Oleh Kiyai Syamsul Hadi

Suatu ketika Rasulullah SAW. Mengabarkan kepada para sahabat-sahabatnya, menggambarkan tentang sosok Abu Bakar Ash-shiddiq ra. Katanya: “ Barangsiapa yang ingin melihat orang mati yang berjalan diatas bumi, lihatlah Abu Bakar Shiddiq.”
Demikian diterangkan oleh Asy-Sya’roni dalam kitab “ al-Uhud al-Muhammadiyyah “  ( hal.230). Dan  dalam komentarnya dia mengatakan “ Rasulullah SAW, menyebutnya Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai orang mati karena dia sudah tidak ikut mengatur dan memilih bersama Allah­ SWT. Ia berserah diri kepada ketetapan taqdir  tanpa menunjukkan penentangan sedikitpun.

Jadi, kata asy-sya’roni, ada dua macam kematian yang bisa dialami manusia, yaitu kematian yang ditetapkan dan kematian sukarela. Kematian yang ditetapkan akan dialami oleh setiap makhluk, yaitu ketika ruh berpisah dengan jasad. Sementara kematian sukaraela adalah kematian yang banyak diperaktekan oleh  kalangan kaum ‘arifiin, yaitu  ketika mereka mematikan dan menafikan diri sendiri. Mereka melakukan hal ini karena mereka meyakini, bahwa orang yang bisa melihat Allah adalah orang yang sudah mati.

Kematian sukarela juga sering disebut “fana”, yaitu keluarnya seseorang dari sifat – sifat dasar manusia. Meninggalkan­nya  berbagai pilihan , kehendak, pengaturan dan keinginan. Orang yang yang telah meninggalkan kehendak, pengaturan , pilihan, dan kekuatannya sendiri berarti ia telah mematikan dirinya sendiri . Dalam kondisi keadaan seperti ini sesungguh­nya dia sedang menjadi makhluk yang paling dekat kepada Tuhan­nya. Ketika dia telah mematikan dirinya. Pada saat yang sama sesungguhnya dia telah masuk dalam kehendak, pengaturan , pilihan dan kekuatan Allah SWT. Inilah bentuk kebersatuan atau kebersambungan seorang hamba dengan Allah, yang dalam pengajaran tehnik shalat khusyuk oleh Ustadz Abu Sangkan dise­but sebagai “shilatun” (ketersambungan diri dengan Tuhan).

Hal ini mejadi mudah dimengerti ketika kita meneliti di dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an  yang menceritakan tentang sifat-sifat dasar manusia, yang banyak bertebaran didalam Al-Qur’an. Dari sekian banyak ayat – ayat Al-Qur’an  itu, Allah menjelaskan bahwa, manusia yang bersal dari bahan dasar tanah ini memang mempunyai watak yang sangat mengerikan. Diantaranya adalah :  sangat dhalim dan ingkar, banyak membantah, banyak keluh kesah, tergesa-gesa, kikir dan sangat bodoh (jahuula). Sebagai­mana firman Allah  diantaranya: “ sesungguhnya manusia itu sangat dholim dan ingkar (ladholuumun kaffaar) “ (Q :[14]:14
Dan dalam firman-Nya yang lain, “Dia (Allah) telah menciptakan manusia dari mani, ternyata dia menjadi pembantah yang nyata”,(Q, [16}: 4) dan “....adalah manusia itu paling banyak membantah “ (Q:[17]: 55). Jadi itulah watak dasar manusia itu, banyak membantah, dhalim, sangat ingkar, tergesa-gesa, kikir dan masih banyak lagi sifat negatif lainnya.
Hanya bentuknya saja yang Allah puji  baiknya seperti firman Allah berikut :“Sungguh Aku telah menciptakan manusia itu dalam bentuk yang sebaik-baiknya “ (ath-thiin ,[95]: 4). Itupun masih di sertai pernyataan Allah “kemudian akan Aku kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka bagi mereka mendapat pahala yang tidak terputus “ ( ath-thiin :5 )

Shalat Sebagai Solusi

Namun Allah yang Maha Tahu, telah menetapkan manusia ini menjadi khalifahnya. Oleh sebab itu agar manusia dapat melaksanakan fungsi tugasnya de­ngan baik dan untuk melawan sifat-sifat buruknya itu Allah memberi solusinya, yaitu dengan melaksanakan shalat daiim . “illal musholliin. alladzina hum ‘an shalaatihim daaimuun” (  kecuali merka yang mengerjakan shalat. Mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya) ( al-Ma ‘arij [80]:23).

Jadi shalat adalah solusi yang bisa merubah watak dasar manusia itu. Pro­blemnya sekarang adalah shalat yang bagaimanakah yang bisa merubah sifat-sifat  dasar itu? Sementara masih banyak juga orang-orang yang sudah shalat tapi sifat –sifat dasarnya masih sangat lekat dan masih  di ancam dengan api neraka.

Inilah masalah yang sesungguhnya, bahwa manusia dengan asal kejadiannya yang terbuat dari tanah,  sangat berpotensi dengan watak-watak negatifnya. Maka  kemudian Allah meletakan-Nya di situ “jiwa yang disempurnakan” , Inilah “diri” manusia itu. Lalu didalam “diri” itu Allah tiupkan “ruh” Nya. “fa idzaa SAW waituhu wanafahtu fiihi  min ruuhii “ ( kemudian setelah Aku sempurnakan (jiwa) itu dan Aku tiupkan padanya dari Ruh-Ku) ( Q: [15]:29).

Dari  ruh inilah kemudian Allah telah meletakkan  naluri fitrah-Nya kedalam “diri” (jiwa) manusia. Sehingga dengan tiupan ruh yang sekaligus menjadi sumber hidupnya itu, maka di dalam diri (jiwa) manusia itu akan terimbas oleh derifasi atau mendapat tularan  dari sifat-sifat Allah.­ Dengan kata lain dari tiupan Ruh itu maka sifat-sifat Allah yang terangkum dalam asmaul Husna itu muncul dan tertular dalam “diri” manusia dalam kadar kemanusia-annya. Sebagaimana firman-Nya “Fithratallohillati fathoron-naasa ‘alaiha “ ( yaitu “fithrah” Allah, yang telah Dia fithrahkan atas diri manusia).( Ar-Ruum :30 ).
Jadi sesungguhnya “jiwa” itu bersifat netral, namun karena keberadaanya dalam kungkungan bahan dasar yang berpotensi negatif  yaitu tanah, maka  diantara keduanya ada ruang yang disebut “HAWA” . Dan dari hawa inilah  potensi watak dasar manusia akan mempengaruhi “ jiwa” yang disebut syahwat  di satu sisi , dan derifasi (tularan) dari sifat ketuhanan yang lekat dalam “ruh” di sisi yang lain. Maka  dari dua sisi itulah terjadi daya tarik menarik yang saling mempengaruhi­nya. Dan dari  dua kekuatan itu pula kemudian. Allah jadikan jalan untuk mengirimkan ilham-Nya.

Jika yang  lebih kuat pengaruh ajakan “hawa”nya, maka dengan sangat cepat Allah kirimkan “ilham fujur” melalui sye­tan. Tetapi jika ajakan “hawa” itu dia tahan, dan dia masuk  kedalam  kesadaran derifasi ketuhanannya, maka dengan cepat pula Allah kirimkan “Ilham taqwa”  berupa “Nur” yang di delegasikan kepada Malaikat-Nya. Seperti yang di firmankan-Nya: “demi jiwa dan penyempurnaanya. sungguh Aku akan meng-ilhamkan kepada jiwa itu, ke ingkaran dan ketaqwaannya, sungguh beruntunglah orang yang menyucikannya ( jiwa) itu. Dan merugilah orang yang mengotorinya (jiwa) itu) (Q: [91]; 7-10) .

Dalam firman-Nya yang lain Allah menyatakan: “Dan barang siapa berpaling dari dzikir (pengajaran ) Allah Yang Maha Rahman, maka Kami biarkan setan menyesatkannya dan menjadi teman karibnya” (Q:[43]: 36).
“Dan adapun orang yang takut kepada kedudukan Tuhannya, dan menahan diri (jiwa) dari (keinginan ) hawa nafsunya. Maka sungguh surgalah tempat tinggalnya” (an-Nazi’aat [79]: 40-41).

Oleh sebab itu, ketika Rasulullah SAW, membacakan ayat : “ Maka apakah orang-orang yang dibukakan dadanya oleh Allah untuk (menerima) agama islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya ( sama dengan orang yang hatinya keras membatu?).maka celakalah mereka yang hatinya keras membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (az-Zumar: [39]:22).

Maka para sahabat bertanya:” Wahai Nabi Allah, bagaimanakah Allah membuka dada seseorang itu?” .  Rasul SAW. Menjawab “Allah memasukkan cahaya kedalam hati, maka terasa terbuka lalu terasa lapanglah dada itu”.

Sahabatpun kembali bertanya “  la­lu apa tanda-tandanya ya Rasulullah “, Nabi SAW pun menjawab “ Dia kembali ke kampung akhirat, dan berpaling dari kempung penuh tipuan (dunia) dan dia bersiap-siap (berlatih) mati sebelum datangnya kematian “. Hadits ini di takhrij oleh Ibnu Mardawieh dari Ibnu mas’ud, di dalam kitab tafsir “ al-Maroghi”  jilid 8 hal:170.

Dalam kontek ini , Syeh Abu Madyan al-Maghribi , didalam kitab “ al-Hikam” nya mengatakan: “Almautu karomatun, wal fautu hasrotun wa nadamatun. Almautu inqitho’un  ‘anil kholqi. Wal fautu inqitho’un ‘anil haqqi “.  (kematian adalah KAROMAH (kemulyaan), Sedangkan kehilangan adalah penderitaan dan penyesalan.  Kematian adalah terputus dari makhluk, sedangkan kehilangan adalah terputus dari khaliq (Allah sang Pencipta).

Pernyataan Syeh Abu Madyan ini lebih memperjelas keadaan , dimana mati suka rela yang banyak di lakukan oleh para ‘arifin billah , ternyata menjadi suatu keniscayaan yang mesti kita lakukan dalam pelaksanaan shalat kita, jika dengan shalat itu, kita kepingin bertemu dengan  Allah azza wa jalla, jika kita tidak ingin kehilangan nikmatnya rasa sambung dan berkomunikasi dengan Allah  subhanahu wa ta ‘ala.

Mati dalam arti memutuskan keterikatan –keterikatan jiwa kita dengan makhluk termasuk dengan jasad wadaq tempat jiwa kita sendiri, itulah yang di sebut “TAZKIYYATUNNAFSI”, yang saat ini menjadi titik fokus  pengajaran oleh  Ustadz Abu Sangkan.  Berawal dari  pengajaran ‘ SILATUN” yang kita masih sering putus nyambung, putus nyambung, maka Ustadz Abu tingkatkan ke pembelajaran “MUROQOBAH”  dan berlanjut ke  “TAZKIYATUNNAFS “ sesungguhnya adalah proses pembelajaran, belajar (bersiap-siap) mati sebelum datangnya mati sebenarnya .  Karena  dari  sinilah proses lalu lalangnya ilham taqwa itu akan mengalami kelancaran dan kestabilan,  yang memungkinkan kita untuk memasuki kejenjang tingkat “TAMAKKUN” dan berlanjut ke tingkat ‘MUSYAHADAH”.

Kalau seandainya , kebanyakan atau umumnya dari umat Islam keimanannya bisa sampai tingkatan MUSYAHADAH ini, tidak usah sampai ketingkat MUKASYAFAH apalagi MU’AYANAH, Subhanallah, tidak terbayang sudah seperti apa kejayaan umat Islam. Yang  pasti BALDATUN THOYYIBATUN WA ROBBUN GHOFUUR, akan terwujud, sesuai dengan janjinya.Maka beruntunglah kita, dipertemukan dengan Ustadz Abu Sangkan, dengan metode shalat khusyunya. 

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.