Halloween party ideas 2015

Pembawaan pria kelahiran Malang, 23 Desember 1960 ini tampak selalu ceria. Sukamto pernah mencicipi kuliah di Sekolah Tinggi Teknik Malang, tapi tidak tamat karena memutuskan untuk menimba ilmu langsung dari pengalaman di lapangan kerja. Pria yang suka merawat jenggot ini mulai bekerja dengan orang lain sejak tahun 1983.

Dan ia mulai bekerja secara mandiri tahun 1990-an dengan membuka jasa tenaga kerja, jasa pelayanan kebersihan dan juga jasa konstruksi rumah. Usaha­nya mulai berkembang pesat tahun 2000 di mana Sukamto dapat tersenyum telah mempunyai perusahaan sendiri PT. Cipta Pradita. Dia langsung mendapatkan proyek pembangunan kantor PLN di Malang dan di Surabaya. Selanjutnya, semakin banyak saja proyek yang dikerjakannya, baik itu kantor-kantor pemerintahan, Universitas Brawijaya, IKIP dan lainnya.

Manajemen Khusyu

Sejak mengikuti pelatihan shalat khusyu tahun 2006, hidup Sukamto berubah. Ia tidak mau lagi mengikuti proyek-proyek pemerintah. “Karena dalam proyek pemerintah banyak cara-cara yang bertentangan dengan nurani. Justru kini saya tidak lagi memikirkan keuntungan materi. Tolak ukur kerja saya, selama bisa menafkahi keluarga dengan baik, itu sudah keberhasilan,” terangnya.
Prinsip itu tak mempengaruhi etos kerjanya. “Saya seperti maniak kerja. Tapi begitu masuk Ramadhan, saya yang terkadang disertai istri bermukim di Mekah untuk ibadah umrah selama 17 hari hingga sebulan penuh,” ungkapnya.

Proyek-proyek swasta yang dikerjakannya sering berkaitan dengan pemba­ngunan perumahan, selain itu membangun sejumlah masjid dari Banyuwangi sampai Lasem. Sistim kerjanya membuat desain masjid lalu memberdayakan masyarakat sekitarnya dalam pekerjaan. Pembangunan masjid dengan sistim kerja bakti, dengan mengambil tukang-tukang dari sekitar pula. Cara ini sangat efektif membangun rasa memiliki. “Hanya tiga orang tukang ahli yang digaji, selebihnya kerja bakti. Saya pun dapat belajar keikhlasan dari orang-orang desa,” ujarnya.

Sukamto bersama teman-teman dokter sudah membangun Rumah Sakit Airlangga di Jombang dengan berlandaskan konsep Little Madinah. Lagi-lagi dengan memberdayakan tenaga orang-orang sekitarnya. “Toh kerja mereka juga bagus, saya pun selektif memilih antara tukang kasar dan tukang ahli bagian finishing. Jadi mutu kerja tetap terjaga.”

Kepada anak buah dia menekankan, “Kamu bekerja karena Allah, bagaimana kamu bekerja urusannya dengan Tuhan, yang penting rezekimu barokah.” Dari itu di setiap proyek, ia meniadakan pengawas.

Perumahan dengan konsep Little Madinah, sasaran yang dituju ingin membangun pemukiman yang benar-benar Islami. Di sana kegiatan ibadah dan pembinaan agama berjalan, penghuninya punya kepedulian sosial, dan semua itu teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Ini perumahan pertama yang dibangun dengan konsep Little Madinah, tiga pemodalnya adalah peserta jamaah shalat khusyu: dr. Bambang, dr. Parmin dan Sukamto. Perumahan model ini akan terus dikembangkan, kalau sekarang sasarannya kelas menengah atas, berikutnya kelas menengah bawah.

“Saya tertarik membangun perumahan karena jika sudah sinergi di lingkungan, mau apa saja enak. Ini cita-cita dari jamaah shalat center. Kalau pengembang lain sibuk mencari konsumen, kita malah memilih-milih pembeli, setidaknya mengetahui latar belakang lebih dulu. Karena visi misinya memberi manfaat bagi orang lain,” urainya.

Terbiasa Praktis

Saat membangun masjid di Gresik, teman-teman mengupayakan jodoh buatnya dari gadis setempat. Sebagai arsitek, dia terbiasa bicara yang pasti saja dan menantang kyai disana mencarikan jodoh secepatnya. Setelah seorang santriwati menghidangkan minuman lalu masuk ke dalam rumah, kyai itu bertanya, “Bagaimana?”

Sukamto langsung menjawab, “Ya.” Prinsip dirinya, menikah dengan siapa pun sama saja, tergantung kitanya. Begitulah orang teknik, berpikir yang praktis-praktis saja.
Alhasil, cukup dengan tiga kali pertemuan kedua insan setuju ke pelaminan. Kejutan terjadi saat Sukamto pertama kali menyerahkan nafkah belanja, istri bukannya langsung menerima tapi bertanya, “Dari mana uang ini didapat?”
Kontan Sukamto meledak, “Masak dari mencuri?” Kemudian hari dia paham betapa tawadhunya sang istri.

Terhadap istri dan 4 orang anaknya ia mengajarkan untuk menerima keputusan Allah. Konsep Little Madinah diterapkannya lebih dulu di rumah tangga. Seluruh anak istrinya mengikuti pelatihan shalat khusyu bahkan kalau termasuk sanak keluarga lainnya sekitar 15 orang sudah turut serta dalam halaqah shalat khusyu. Sukamto adalah salah satu sosok penting yang mendirikan Shalat Center di Jombang dan pertama kali turut menggelar pelatihan shalat khusyu gratis di Jombang, tepatnya di pesantren Tebu Ireng.

Sukamto pun pernah dicurangi orang hingga bisnisnya jatuh bangkrut dan habis harta bendanya. Dalam kondisi terpuruk, dia tetap yakin ada bantuan Allah dan ternyata teman-teman berdatangan mengulurkan tangan. Intinya, kita harus percaya dengan takdir. Kenyataan harus diterima dan tidak boleh sakit hati. “Alhamdulillah bisa bangkit lagi. Itu pengalaman yang luar biasa. Rencananya ke depan, saya hanya akan mengikuti apa saja kehendak Allah,” kenangnya.

Baginya modal silaturahmi itu penting sekali. Allah memberi rezeki melalui silaturahmi. Mulai dengan ngobrol-ngobrol saja menanyakan kabar, nantinya menjadi teman, dari satu orang menjadi banyak. Dari itu ia pun berharap perumahan berkonsep Little Madinah membuat silaturahmi warganya erat. (Yoli/foto Yoli)

Tip-tip sukses dengan konsep Little Madinah:

1. Jangan pernah ragu disebabkan pikiran sendiri. Kita tidak tahu akan berhasil atau gagal, jadi maju sajalah.
2. Tidak perlu berpikir gagal atau berhasil. Karena kita harus melakukan sesuatu.
3. Menerima apapun hasilnya, karena itu sudah ketentuan Allah. Kalau tidak diterima secara ikhlas kita bisa sakit.
4. Nikmati apa pun yang terjadi. Kalau ada keyakinan pasti akan tercapai tujuan.
5. Orang sering kecewa dalam berbisnis karena terlalu menghitung untung rugi berdasarkan uang. Itu hanya akan membuat kecewa. Kegagalan atau keberhasilan sama-sama pelajaran dari Allah. 

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.