Halloween party ideas 2015


AL Khusyu - Jika kita bekerja dalam kondisi tegang, stress akan menumpuk dan menyebabkan munculnya berbagai penyakit. Juga kanker. Sebuah eksperimen terkemuka meneliti penyakit kanker pada tikus. Dari data yang terkumpul, jelas terbukti bahwa persentase penyakit kanker yang diderita hewan-hewan percobaan tersebut bergantung pada intensitas stress yang mereka alami. Walaupun hanya 10% tikus diberi zat karsinogen ( penyebab kanker ), angka ini meningkatk menjadi 50% ketika para tikus didera stress hebat.

Orang yang tercerahkan tak akan bereaksi negative dalam situasi yang bagi manusia normal dianggap sebagai stres. Selain itu, dia mampu memicu sekresi hormon kebahagiaan, dan dengan itu, resiko terkena kanker menjadi jauh berkurang. Ini juga berlaku pada keluhan lainnya.

Banyak penyakit akibat gaya hidup dikenal sebagai gangguan metabolisme. Untuk lebih mudahnya dapat dikatakan bahwa penyakit timbul karena peredaran darah mengalami hambatan. Dalam kasus ini, hormon kebahagiaan dapat membantu kelancaran sirkulasi darah. Gangguan sirkulasi darah dan kerusakan pembuluh darah pada dasarnya diakibatkan oleh dua hal :

1. Stres. Saat kita merasa tertekan, noradrenalin dilepaskan, pembuluh darah menyempit, dan sirkulasi darah pun menjadi terhambat. Selain perubahan mekanisme negative ini, terjadi pula pembentukan oksigen aktif dalam jumlah signifikan. Akibatnya, gen rusak dan zat-zat pemicu penuaan semisal lipid peroksida* pun muncul. Oleh karena itu, bertambah pula resiko terkena penyakit akibat gaya hidup.

2. Kolesterol atau penyempitan pembuluh oleh lemak netral (tri­gliserida). Pada banyak kasus, penyem­pitan pembuluh darah mekanis seperti ini disebabkan oleh stres.

Dengan demikian, dapat disimpulkan hampir seluruh penyakit gaya hidup timbul karena adanya stress. Dalam hidup, kita tidak dapat menghindari ketegangan yang sesekali menguat, dan terkadang melemah. Stres hebat pasti membuat dilepaskannya kelompok hormon noradrenalin. Ini bermamfaat selama ia masih dalam jumlah cukup. Namun, ketika batasan jumlah itu terlampaui, dampak buruknya meningkat, salah satunya adalah tekanan yang jauh meninggi.

Sebagai contoh, saat seseorang mengalami syok, masalah hidup dan mati, dokter dapat memberi pasien suntikan noradrenalin secara intravena, langsung memasuki peredaran darah. Dengan cara itu, tekanan darah yang saat itu nyaris tidak terukur, seketika akan naik kembali. Dalam keadaan darurat, kita bisa memanfaatkan sifat noradrenalin ini. Namun, biasanya menaikkan tekanan darah tidak baik untuk kesehatan karena ketika tekanan darah meningkat, aliran darah menjadi kurang lancar. Demi kesehatan otak, darah harus mengalir dengan lancar agar zat-zat yang membawa oksigen dan energi dapat diantarkan ke setiap sel otak. Sirkulasi darah  yang buruk berarti terhambatnya pasokan ke sel-sel ini. Oleh karena itu, kondisi tubuh memburuk sejalan dengan meningkatnya tekanan darah akibat penyempitan dan penyumbatan pada vascular.

Jika oksigen tidak mencukupi, antara lain trombosit, salah satu komponen darah, akan rusak. Selanjutnya terjadi penggumpalan darah yang mengakibatkan pembekuan darah, dan memperburuk penyumbatan pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah pada otak juga tidak boleh terjadi. Penyebab utama keadaan yang tidak diinginkan ini adalah noradrenalin. Sekresi hormon ini dipe­ngaruhi oleh sikap diri dan kondisi perasa­an. Oleh sebab itu, kita harus mengetahui betapa pentingnya pikiran positif untuk kesehatan.

Di tempat kerja, seorang bawahan tentu tidak senang jika dimarahi atasan. Seseorang akan sedih jika melakukan kesalahan. Seorang suami menjadi marah ketika bertengkar dengan istrinya. Seorang ayah / ibu syok melihat nilai rapor sekolah anaknya buruk. Semua ini bisa menyebabkan stress hebat. Jika orang yang bersangkutan menghadapi kondisi semacam itu dengan pikiran negative, noradrenalin dilepaskan. Selama 15 sampai 16 jam dalam sehari, kita berada dalam keadaan jaga. Bagaimana jika dalam rentang waktu tersebut zat-zat ini terus-menerus diproduksi? Yang terjadi adalah tekanan darah terus meningkat dan penyumbatan aliran darah pun mulai terjadi. Ini tidak hanya berlaku pada otak, juga pada seluruh organ dalam  tubuh, dan memicu munculnya penyakit-penyakit kronis serta mempercepat proses penuaan.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Tak ada yang dapat kita lakukan selain memanfaatkan fungsi otak secara tepat. Sebenarnya, apa pun yang terjadi dalam hidup kita terekam di otak sebagai hal yang pernah  dialami. Jika pengalaman yang sama terulang kembali, memori serupa pada masa lalu akan dipanggil, lalu kita pun  akan memberikan reaksi yang sama.

Sebagai contoh, seorang karyawan dipanggil menghadap pemimpinnya. Karena pernah diomeli, dia pun berpikir, “Pasti bos akan memarahiku,” Karena pikiran tadi, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Padahal kenyataannya, hal itu sama sekali belum terjadi. Pada saat yang sama, otaknya seketika melepas noradrenalin dalam jumlah banyak.

Sebenarnya, dalam situasi seperti itu, tidak ada jalan keluar lain kecuali berusaha mengalihkan pikiran ke arah berlawanan. Karyawan itu seharusnya berpikir, “Kali ini aku akan mendapat pujian.” Pada saat dia berpikir demikian, hormon kebahagiaan akan mengalir dan menetralisasi pikiran negative. Dengan cara itu, pembuluh darah dapat dikembalikan ke kondisi normal, dan darah pun mengalir lagi dengan lancar.

Walaupun ketika menemui sang pemimpin ternyata karyawan itu kembali disambut omelan, akan lebih baik baginya memandang masalah itu dari sisi positif dan berterima kasih kepada sang pemimpin karena beliau melakukan hal itu untuk kebaikan karyawan. Andai si karyawan dianggap tidak berguna sama sekali, dia tak akan diperhatikan, apalagi diomeli. Tentunya, Anda dapat memahami bahwa dilepaskan atau tidaknya hormon kebahagiaan bergantung pada pikiran dan perasaan kita. Dari contoh sederhana ini, kita dapat mengetahui reaksi kita terhadap stimulus, juga berbeda-beda, bergantung pada pemahaman atau ingatan kita pada keadaan serupa.

Saat saya, misalnya, yang pemelihara dan penyayang anjing, berjalan-jalan dan melihat anjing, saya pasti ingin mende­kati hewan itu dan menyapanya dengan ramah. Di sini, hormon kebahagiaan yang positif mendominasi. Jika dulu pernah digigit anjing, saya tentu bereaksi de­ngan hati-hati, dan system saraf simpatis membuat saya dalam keadaan tegang. Hipofisi ( kelenjar pitutari ) mengeluarkan hormon stress, yang pada gilirannya mempengaruhi system kekebalan. Selanjutnya, denyut nadi semakin cepat dan pupil melebar. Untuk bisa bernapas lebih baik, trakhea juga melebar. Darah mengalir deras ke otot, dan dalam rangka mempersiapkan reaksi “lawan atau lari”, hormon noradrenlin dilepaskan dalam jumlah besar ke dalam darah.

Terhadap satu stimulus eksternal yang sama, misalnya melihat seekor anjing, akan dihasilkan hormon-hormon yang sama sekali berbeda-beda, bergantung pada kenangan atau pengalaman yang dimiliki seseorang terhadap anjing di masa lalunya. Reaksi-reaksi tersebut bisa jadi sangat berlawanan satu sama lain . Namun, dalam hal ini pun kita seharusnya tidak begitu saja membiarkan kenangan. Reaksi negative akan hilang jika otak kita secara sadar selalu menanamkan bahwa semua anjing baik dan tidak akan menggigit.

Oleh sebab itu, yang lebih penting adalah cara kita bereaksi terhadap situasi tertentu, ketimbang kenyataan keadaan sebenarnya. Di dunia-otak, fenomena dan stimulus eksternal tidaklah terlalu penting. Jika secara sadar menerima fenomena luar yang tak menyenangkan dengan sikap positif, kita dapat memprogram ulang reaksi kita agar jiwa dan raga menjadi tenteram. Dr.Shigeo Haruyama, Spesialis Bedah Saluran Pencernaan

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.