Halloween party ideas 2015

Oleh: Yusdeka Putra

Dalam menyambut ramadhan 2012 ini, dengan sebuah kerendahan hati, saya mencoba untuk merangkai sebuah celah pemaknaan alternatif tentang hakikat puasa yang akan kita lakukan dalam beberapa minggu lagi. Harapan saya, hanya satu, semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Hitung-hitung, anggaplah ini sebagai salah satu bentuk sedekah yang bisa saya sampaikan kepada para sahabat saya dan para pembaca semua.

Puasa adalah proses tadzkiyatunnafs untuk mengantarkan nafs (diri kita) agar bisa kembali menemukan jati diri kita yang hakiki, yaitu ar ruh. Sebab kalau tidak, disebabkan sejak dari kecil kita sudah dikenalkan dan dibiasakan untuk makan dan minum sepuas-puasnya, maka diri kita seakan-akan begitu melekat kuat dengan makanan dan minuman itu, termasuk juga lengket kepada perkataan, pendengaran, dan dorongan seksual yang muncul seiring dengan bertambahnya umur dan pengalaman kita.

Karena sudah lengket pada semua itu, maka kita sulit untuk menaikkan kesadaran kita bahwa sebenarnya kita adalah Ar Ruh yang sangat dekat dan sangat patuh kepada Allah. Setiap kita ingin menyadari bahwa sejati kita adalah Ar Ruh yang sangat dekat dengan Allah, kita jadi sangat kesulitan. Karena saat itu memang kita menyangka bahwa kita adalah perut, kita adalah mata, kita adalah telinga, kita adalah faraj. Ya…, kita menyangka bahwa kita adalah seluruh tubuh ini dengan berbagai alat dan instrumennya. Bahkan kita menyangka bahwa kita adalah pikiran, kita adalah perasaan. Sehingga siapapun yang mencoba untuk untuk mengusik makan dan minuman kita, tubuh kita, penglihatan kita, pendengaran kita, pikiran kita, dan perasaan kita, maka kita akan segera melawannya dengan mati-matian.

Nah, puasa sepertinya memaksa kita untuk melepaskan kemelengketan kita dengan naluri perut, pandangan, pendengaran, seksual, bahkan naluri pikiran dan perasaan kita. Proses pelepasan ketidak melengketan itu sangat terasa ketika jam 12 siang saat kita biasanya makan siang, dan sore hari saat kita sudah duduk menghadap sepiring hangat kolak pisang dan secangkir teh manis hangat yang siap minta dicicipi untuk berbuka puasa. Semuanya sudah tersedia dihadapan kita untuk segera kita santap begitu azan dikumadangkan.

Saat itu terasa sekali diri kita seperti ditarik-tarik oleh makanan dan minuman itu. Tapi ada yang kukuh berkata bahwa saya masih sedang puasa. Saat itu kita seperti lepas dari keterikatan kita dengan makanan dan minuman itu. Begitu juga saat siang hari tatkala muncul tarikan syahwat kita, walau kepada pasangan kita yang halal sekalipun, tetap ada yang ingin lepas dari tarikan nafsu seksual itu. Ada yang berkata saya sedang puasa.

Ketika itulah waktu yang paling tepat bagi kita untuk segera mengantarkan nafs, diri kita, untuk berubah dari yang tadinya wujud yang bersifat materi, menjadi wujud yang bersifat gelombang atau getaran. Kita hanya tinggal antarkan wujud getaran itu menuju arah yang tak terbatas, melampaui semua materi. Getaran nafs itu tidak perlu kita hantarkan dengan cara-cara penuh emosional. Kita cukup hanya menengadah rileks, dan getaran nafs itu akan bergerak dengan sendirinya menuju ujung getaran yang tiada ujung. Tak terbatas.

Lalu dengan santun, panggillah Ujung Yang Tiada Ujung itu dengan menyebut Allah… Cuma sayang tidak banyak orang yang menggunakan saat saat yang sangat sempurna itu, yaitu saat tengah hari, sesaat sebelum berbuka, dan saat munculnya nafsu seks kita disiang hari untuk mendekati istri atau suami kita, untuk melakukan proses tadzkiyatunnafs. Padahal saat itulah waktu yang sangat bagus untuk mengantarkan nafs kita untuk kembali menjadi ar ruh. Waktu yang paling bagus adalah ketika beduk atau azan mahgrib sudah berkumandang. Ketika kita sudah boleh makan dan minum. Makanan dan minuman itu terasa begitu kuat menarik diri kita untuk segera melahapnya. Kalaulah saat itu kita bisa menahan tarikan makanan dan minuman itu untuk beberapa detik atau menit lagi, maka saat itu kita seperti benar-benar terlepas, copot dari tarikan dahsyat makanan dan minuman itu. Ketika bisa menahan makan dan minum sejenak lagi, padahal kita sangat ingin makan dan kita sudah boleh pula makan, itulah salah satu waktu dimana kita sangat dekat dengan Allah. Itulah sebabnya saat itu disebutkan Nabi sebagai waktu yang makbul untuk berdoa. Karena waktu itu sang nafs yang sudah bermetamorfosis menjadi ar ruh yang begitu dekatnya dengan Allah.

Setelah menahan lagi beberapa detik, maka sebelum menyantap makanan dan minuman buka puasa itu, kita doakan dulu tubuh kita, anak kita, istri atau suami kita, ibu-bapa kita, seluruh muslimin dan muslimat. Lalu dengan mengucapkan bismillahi allahu akbar dan doa berbuka yang lainnya, baru kita santap hidangan yang sudah tersedia didepan kita.

Tapi lihatlah, saat bersantap itupun makanan dan minuman itu seperti menarik nafs kita untuk makan dan minum sepuas-puasnya. Nah, saat itulah kesempatan lagi buat kita untuk mengajak nafs kita agar berbuka sekedarnya dulu. Lalu kita shalat dulu. Setelah semua itu selesai barulah kita makan. Dan percaya atau tidak saat itu kita hanya ingin makan dan minum sekedarnya saja. Saat itu nafs kita seperti lepas dari tarikan makanan, minuman yang selama ini begitu kuat menguasai kita.

20 hari pertama puasa kalau kita ikuti proses seperti itu, ditambah dengan shalat, sedekah, amalan amalan sunnah lainnya, maka dalam salah satu malam di akhir ramadhan, sang nafs sudah bermetamorphosis menjadi semurni murni­nya Ar Ruh. Kita sudah kembali berubah menjadi Fitrah al Munazzalah. Dan sampai disini saya sudah kehabisan kata-kata.

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.