Halloween party ideas 2015

Pertanyaan :
Ustadz Abu Sangkan yang dilindungi Allah. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas pe­ngajaran yang selama ini Ustadz berikan kepada saya. Alhamdulillah, saya telah menjalankan beberapa saran Ustadz Abu Sangkan berkenaan dengan tata cara melakukan zikir. Setiap tengah malam saya bangun. Kemudian mengambil air wudhu, lalu melakukan shalat tahajud beberapa rakaat. Setiap dua rakaat di­selingi zikir istighfar. 

Tak lupa pula saya pun memperbanyak bersyahadat, bershalawat, kemudian bertahlil seraya memejamkan mata.
Sebagaimana biasa saya duduk di atas sajadah, di ruang tamu. Namun di tengah suasana hening ibadah malam saya, saya merasakan seperti ada keanehan. Saya merasa seakan sedang berada di suatu alam yang sangat luas dan tak terbatas. Saya merasa sangat kecil. Sementara ta­ngan kanan dan kiri saya terasa begitu berat. Kondisi seperti ini berlangsung hanya 5 menit saja. 

Ketika saya memelekkan mata, semua kembali biasa. Saya anggap ini kejadian yang aneh dalam hidup saya. Pertanyaan saya, kenapa bisa terjadi demikian? Satu hal lagi, bagaimana caranya menghadirkan kekhusyu’an dalam beribadah kepada Allah? Ingin rasanya saya menangis pada saat bermunajat kepada Allah.
Mohon bimbingan Ustadz Abu Sangkan. Terima kasih. Muaz Junaidi (ennu0000@yahoo.com)

Jawaban :
Memang demikian, biasanya Allah menunjukkan kekuasaannya terhadap kita untuk membuktikan firman-Nya dalam Al-Qur’an itu benar. Bahwa Al-Qur’an merupakan panduan dalam setiap perjalanan umat menuju kehadirat-Nya. Dengan demikian diharapkan keyakinan dan akidah kita semakin kuat. Insya Allah­ iman Anda tidak bisa diubahkan oleh siapapun, karena menyaksikan sendiri dengan kasyaf sebagian kecil dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Itulah iman yang benar karena dilandasi penyerahan dan kepasrahan diri kepada Allah. Kaum mukmin percaya dan yakin adanya perkara ghaib dan cerminan iman itu pun bisa terlihat dari implementasi amaliyah kesehari­an dalam bentuk baiknya akhlak terha­dap Allah, Rasul-Nya, keluarga, kerabat, para tetangga, teman dan handai taulan, bahkan baik terhadap dunia sosial secara umum dengan menampakkan kesalehan sosial.

Allah SWT berfirman:
“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)

(Keterangan tafsir: iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu. Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang ghaib adalah dengan mengi’tikadkan adanya sesuatu yang maujud (diadakan) yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada ada­nya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari kiamat dan sebagainya.

Shalat menurut bahasa Arab bermakna doa. Menurut istilah syara’, shalat berarti ibadah yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dilakukan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun, dan adab-adabnya, baik secara lahir maupun batin atau khusyu’, dan memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.

Rezeki: segala yang dapat diambil manfaatnya. Menafkahkan sebagian rezeki, ialah memberikan sebagian harta yang telah dikaruniai Tuhan kepada seke­lompok orang-orang yang disyari’atkan oleh agama untuk menafkahinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain).

Keteguhan iman itu akan menghujam lebih dalam. Karena anda bisa berjalan melalui iman dan jiwa, bukan dengan pikiran. Karena Tuhan juga tidak pernah memanggil dengan berujar “Wahai pikiran! Wahai perasaaan! Wahai badan!” Akan tetapi Dia memanggil kepada jiwa yang tenang seraya menyeru, “Wahai jiwa yang tenang, datanglah kepada-Ku de­ngan rela dan diridhai. Masuklah kalian ke dalam surga-Ku.”

Mengapa hal ini tidak diupayakan lebih dari sekedar retorika dan kepura-puraan dalam beragama? Mengapa kita tetap dalam kubangan permainan kata yang tak berujung? Padahal setiap ayat adalah jalan yang bisa ditempuh dan dirasakan, bukan omong kosong, Kita menuju kepada Yang Maha Hidup dari Maha Berbicara. Mengapa kita hanya berdiri di pintu syariat padahal di baliknya ada hakikat (kebenaran) syariat itu sendiri? Tentu saja, Anda adalah salah satu yang membenarkannya.

Tak ada alasan untuk mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah yang tak terbatas. Menafikannya sama halnya dengan merendahkan diri sendiri karena keterbatasan kesempitan pengetahuan yang miliki. Ilmu Allah itu Maha Luas. Tidaklah manusia diberikan kepahaman kecuali hanya sedikit dan segelintir saja. Semuanya dimengerti hanya dengan petunjuk Allah.

Anjuran saya, teruslah beribadah dengan sungguh-sungguh. Insya Allah, Anda termasuk golongan hamba-hamba Allah yang selalu diberikan petunjuk dan hidayah-Nya, sebagaimana Allah lukiskan dalam salah satu firman-Nya:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Berdirilah dengan tenang seperti hendak shalat. Selain shalat khusyu’ de­ngan tata cara yang telah disyariatkan, berkomunikasilah selepas shalat dengan bahasa jiwa yang mampu menghubungkan perasaan Anda. Hadirkan diri dan kepasrahan Anda serta ketundukkan anda hanya kepada Allah Zat Yang Merajai segala-galanya.

Istirahatkanlah pikiran Anda. Biarkan rasa spiritual mengalir dengan perlahandi sekujur jiwa Anda. Sebutlah nama Allah, “Wahai Allah, ya Allah, ya Allah.” Berzikirlah dengan lafzul jalalah (lafaz Allah) secara terus menerus, perlahan dan nadanya agak diperpanjang, “Ya Allaaaaaah, ya Allaaaaaah.” Dan seterusnya sambil Anda merasakan jiwa Anda melayang menuju Allah.
Biasakan zikir seperti itu pada setiap selesai shalat atau pada waktu senggang sampai anda mendapatkan sambutan Allah­. Serahkan segenap diri Anda hanya kepada Allah semata dan bermunajatlah seraya memohon segala tuntunan dan bimbingan-Nya. Semoga Anda mendapatkan getaran sambutan dari Allah itu ada. (Abu Sangkan)     

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.