Halloween party ideas 2015

Alkhusyu - KH. Salahuddin Wahid menyambut baik pelatihan shalat khusyu sebagai upaya mencapai tingkatan tertinggi dalam shalat. Secara pribadi, kyai yang juga teknokrat lulusan ITB (Institut Teknologi Bandung) ini berusaha melakukan shalat sebaik mungkin dan perkara apakah shalatnya khusyu atau tidak diserahkannya kepada penilaian Allah.

Uniknya, adik dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang pernah menjadi ketua PB NU dan wakil ketua Komnas HAM ini menilai kekhusyukan shalat tampak dalam amal perbuatan seseorang. Menurut pengasuh pondok pesantren Tebu Ireng di Jombang ini, tidak mungkin orang mendapat khusyu kalau masih bersifat sombong, suka menipu dan perbuatan buruk lainnya. Khusyu itu memang pengalaman pribadi, namun efeknya dapat terlihat dalam perbuatan sehari-hari. Berikut petikan wawancaranya dengan wartawan majalah Khusyu di kediamannya di Jombang,

Apakah khusyu itu?
Khusyu itu sifat dari shalat kita. Ini menjadi tujuan dalam melaksanakan shalat. Saya tidak tahu apakah shalat saya khusyu atau tidak, karena saya menjalani­nya saja dan biarlah Allah yang menilai. Saya sudah membaca buku Pelatihan Shalat Khusyu karya Ustad Abu Sangkan, ternyata tidak mudah juga khusyu itu. Saya melaksanakan shalat sebaik mungkin, terserah Allah menilai apakah sudah khusyu atau tidak. Saya kadang-kadang menangis dalam shalat. Tapi banyak juga orang yang menangis dalam shalat sementara masih berbuat jahat.

Seperti puasa yang tujuannya mencapai kemenangan, sebulan penuh kita menahan diri dari yang membatalkan puasa dan melaksanakan berbagai macam ibadah. Pada bulan Ramadhan itu ada juga nilai lebihnya yaitu malam Lailatul Qadar. Mungkin ini mirip dengan khusyu dalam shalat, karena ada yang merasa mendapatkan malam Lailatul Qadar. Itu bagian dari pengalaman pribadi. Ada orang yang mengklaim mendapatkan malam Lailatul Qadar, betul atau tidak itu merupakan rahasia Allah.

Setelah puasa Ramadhan ada yang mengaku mendapat Lailatul Qadar, tapi kalau prilakunya buruk maka tidak mungkin ia mendapatkan malam Lailatul Qadar. Begitu pula dengan khusyu, shalat mencegah perbuatan keji dan munkar, bagaimana mungkin orang mengaku sudah khusyu dalam shalat, sementara amal perbuatannya masih buruk.
Khusyu itu naik turun. Mestinya orang yang khusyu nampak efeknya dalam perbuatan, kalau tidak kelihatan maka tidak mungkin ia sudah khusyu. Ketika orang banyak berprilaku buruk, di mana letak khusyunya?

Apa makna positif shalat?

Sebagaimana yang kita ketahui, dalam shalat diajarkan hal-hal yang positif. Termasuk shalat berjamaah itu mengajar­kan berorganisasi yang baik. Kita bisa mengoreksi pimpinan atau imam. Kalau imam bacaan shalatnya keliru maka makmum dapat mengoreksi dengan mengucapkan subahanallah! Apabila imam batal wudhunya, maka salah satu makmum maju menggantikannya.  

Apa hukum khusyu?

Hukumnya orang berbeda pendapat. Prinsip saya, jalankan shalat dengan baik dan juga berbuat baik dengan tulus. Itu saja yang saya lakukan. Sejak kecil ayah saya sudah wafat. Jadi kakek saya, KH. Bisri Samsuri yang mengajarkan saya shalat tapi praktek shalat dalam dimensi fikih. Sementara khusyu itu kondisi yang di atas fikih, yaitu batiniah. Tetapi kakek saya orang yang jujur, bersih, kalau yang benar ia benarkan dan yang salah ia salahkan.
Selama ini pelajaran shalat cenderung pada kegiatan fisik saja tapi pengalaman batin tidak dapat diukur karena itu sa­ngat pribadi. Silahkan saja orang mengaku khusyu, saya tidak menyalahkannya. Khusyu itu tandanya dalam prilaku, tidak mungkin orang yang sombong atau jahat sudah mencapai khusyu dalam shalat.

Bagaimana cara mencapai khusyu?

Cara khusyu dengan melaksanakan shalat hanya tertuju kepada Allah. Usahakan dalam shalat itu pikiran kita tidak tertuju kepada yang lain. Sayangnya ini yang sering terjadi. Orang-orang yang bergerak-gerak terlalu banyak dalam shalat, itu tidak khusyu. Salah satu cara supaya hanya tertuju kepada Allah dengan memahami makna bacaan dalam shalat. Pelajari ayat-ayat atau surat-surat yang dibaca dalam menunaikan shalat.

Khusyu adalah tingkatan yang ter­tinggi dalam shalat. Karena kita diperintahkan meminta tolong pada Allah de­ngan shalat yang khusyu. Tidak pada semua orang materi khusyu disampaikan, hanya kepada orang-orang yang siap dengan khusyu. Orang yang tidak butuh, tidak akan nyambung dengan khusyu.

Nabi Muhammad tidak mengajarkan melainkan mencontohkan khusyu, kare­na tidak mudah, jadi disampaikan pada orang-orang tertentu saja. Di pesantren-pesantren, shalat pasti diajarkan dan khusyu meski belum bagian kurikulum tapi tentu diberitahukan pada santri. (Yoli/foto Yoli)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.