Halloween party ideas 2015

Alkhusyu - Selain tetap jalan dengan kegiatan rutinnya membagi bagikan nasi bungkus setiap hari jumat buat kaum dhuafa di sekitar masjid masjid, serta menyantuni anak yatim sebulan sekali, Little Madinah Yogyakarta kini sedang  punya program besar dan jangka panjang untuk mendirikan Madina Islamic Boarding School. 
Menurut Banowo Setyo Samodra yang akrab dipanggil Mas Bonny ini, ide pendirian sekolah , “berawal dari pak Ustad Abu sangkan yang ingin ada sekolah unggulan, seperti pondok pesantren modern. Beliau melihat sekarang banyak murid pintar karena kursus di luar sekolah, jadi modelnya home schooling. Kalau home schooling guru datang ke rumah, kalau ini kita bikin pesantren dan gurunya datang ke pesantren,” ujar Mas Bonny saat di temui di kantornya kawasan Malioboro Yogyakarta.  

Dengan mendirikan sekolah ini diharapkan, akan ada percepatan belajar dimana SMP dan SMA yang biasanya 3 tahun, itu bisa menjadi dua tahun saja. Ka­rena menurut ketua shalat center Yogya ini, Ustad Abu sangkan berke­yakinan sa­ngat kuat sekali, bahwa kurikulum sekolah yang ada saat ini, bisa lebih disederhanakan dengan hasil yang jauh lebih optimal. Karena kuncinya belajar itu ada di matematika dan bahasa. Kalau matematika sudah di kuasai dan pintar, maka siswa akan mudah mempelajari fisika, kimia dan ilmu ilmu lain yang basis-nya adalah matematika. Sedangkan bahasa pengantar bahasa Inggris gunanya untuk memudah mengakses ilmu ilmu pengetahuan modern, sedangkan bahasa Arab untuk memahami bahasa ilham di dalam Al Qura’an dan hadits sebagai pedomannya, selain itu anak anak juga akan diajar untuk dekat dengan alam. 

Sementara lokasi sekolah ini, masih ada dua alternatif yang akan diambil sebagai tempat sarana belajar dan mengajar. Diantaranya tempat yang ditawarkan oleh seorang Jamaah Shalat Center, sedangkan yang satu lagi kemungkinannya menggunakan sebuah SD inpress yang sudah tidak lagi dipakai dan tinggal sedikit direnovasi. “kalau fisik itu insyaallah mudahlah, kalau seandainya bisa numpang di suatu tempat, juga tidak apa apa, toh nanti kalau sudah ada tempat kita bisa pindah. Sekarang yang pen­ting kita sedang persiapkan programnya,” kata mas Bonny. 

“Di Yogya mungkin beda dengan daerah lain, secara fisik kita tidak punya asset, tidak punya kantor, tidak punya hibah, tidak ada waqaf tanah dan sebagainya, karena kondisi jamaahnya berbeda. Kalau ada pun saya tidak bisa bayangkan, kemaren itu ada yang mau menawarkan tempat. Yang menjaganya siapa? Sementara orang yang mau mewaqafkan tanahnya, tentu berharap segera dimanfaatkan untuk kemaslahatan ummat. Sedangkan waktu yang bisa kita sisihkan untuk itu rata rata belum memadai untuk bisa pegang amanat sebesar itu. Tapi meski begitu program ini tetap jalan,” yakinnya.

Karena itu di tahun ajaran baru ini Mas Bonny berharap, cikal bakal sekolah ini sudah ada dengan tiga puluh orang murid sebagai pilot project, “tapi bukan untuk main main atau iseng. Kita ambil tiga puluh siswa itu agar mudah dan fokus, nanti kalau sudah punya tempat asset dan sebagainya kita akan berjalan seper­ti sekolah normalnya, setiap angkatan paling tidak seratus lima puluh muridlah. Ya harapan kita Madina islamic School ini kedepannya akan seperti Pondok Pesantren Gontor.”

Bahkan untuk tenaga pengajar pun beliau sepertinya sudah siap, “tenaga pengajar semua profesional dari luar, misalnya butuh tenaga pengajar bahasa Inggris, sempoa kita sewa mereka dan datangkan ke sana. Di  Yogya banyaklah tenaga pengajar, matematika, fisika, kimia kita ada MIPA UGM yang bisa mendukung dibidangnya. Tapi yang kita benar benar sedang siapkan saat ini adalah institusinya, legalitas,” tambahnya dan berharap jika sekolah ini berjalan akan tetap dengan ide awal, di utamakan bagi anak anak tidak mampu, namun sangat ingin bersekolah. Jadi mungkin inilah nanti yang akan menjadi sekolah unggulan pertama untuk anak anak tidak mampu. (Rafles)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.