Halloween party ideas 2015

Pernahkah melihat kayu tua rusak, bolong-bolong dan terbuang? Kebanyakan orang tidak akan mempedulikannya, kalau pun ada yang menoleh, itu pun paling hebat cuma dijadikan kayu bakar. Lain halnya jika yang melihat itu adalah Muchlis. Lewat tangannya, kayu tua terlantar itu disulap menjadi mebel yang bernilai seni tinggi dengan harga jual mencapai puluhan juta rupiah. 

Kisah hidupnya, apalagi perjalanan bisnis Muchlis mungkin layak digolongkan keajaiban. Pria buta huruf ini membiarkan kayu-kayu tua miliknya teronggok di pinggir jalan, tanpa manajemen pemasaran, tidak mengikuti training bisnis, jangankan bahasa Inggris, bahasa Indonesia saja masih bersusah payah, tapi orang-orang berdatangan dan rela menggelontorkan Rupiah, Yen, Riyal atau Dollar untuk memboyong kayu-kayu tua itu hingga ke Amerika, Eropa, Taiwan, Jepang dan berbagai negara lainnya.

Bagaimana bisa pria berusia 45 tahun ini menjual mebel sedangkan ia tidak pandai pertukangan? Apa yang membuat sosok yang hanya sempat mencicipi kelas dua SD ini mengerti kualitas kayu-kayu bagus? Bukankah di jagad raya ini kayu-kayu berserakan, mengapa orang bersusah payah membeli yang mahal dari seorang mantan buruh kasar? Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya, bahwa Allah yang Maha Agung dapat membuka pintu rezeki dari mana saja dan dengan cara apa saja. 

Keajaiban Rezeki

Awal mulanya pria kelahiran tahun 1967 asal Probolinggo ini bekerja menjual kayu bakar. Dia berkeliling memu­ngut sisa-sisa potongan kayu di penggergajian, atau berkeliling kampung mencari kayu-kayu yang tak terpakai lagi. Hasilnya lumayan, dengan modal Rp 2.000 di tahun 1993 itu, ia dapat menghasilkan Rp 10.000­. Itu sudah memuaskan baginya dibanding pengalamannya menjadi TKI 3 tahun di Malaysia. 

Muchlis hanya menumpuk kayu-kayu tua itu, hingga suatu kali seorang pengrajin mebel lewat dan berminat membeli salah satu kayunya. Muchlis tercengang melihat pengrajin itu bersedia membayar mahal untuk kayu yang sangat tua, yang sudah mengalami erosi alam atau kerusakan parah dihantam hujan panas. 

“Selanjutnya saya terus mencari kayu, dan dipilih ada yang untuk kayu bakar dan yang bagus untuk dijual sebagai bahan mebel,” kenangnya.

Muchlis tidak bisa membuat kayu menjadi perabotan. Tapi akalnya ber­gerak, ia pun mencari dan menyewa beberapa tukang kayu. Muchlis malah melakukan tugas bak manajer, dia yang mengarahkan tukang membuat model meja kursi atau perabot yang dikehendakinya. Lesung penumbuk padi dimodifikasi menjadi meja makan unik, bekas perahu karam diolah menjadi lemari hias yang indah.

Dia menyebut hasil karyanya sebagai mebel primitif yang tidak diukir tangan tapi natural atau secara alami diukir alam setelah dalam jangka waktu sangat panjang terkena hujan panas. Kayu-kayu tua dia tanam lagi ke tanah, hingga terjadi erosi, jadi sudah diukir langsung oleh alam. Hal ini dia ketahui dari orang yang mencari mebel yang banyak rusaknya. Semakin rusak kayunya, semakin mahal harganya, jadi Muchlis rusak saja sekalian. 

Produknya dijual tidak saja di Indonesia, juga ke mancanegara seperti negara-negara Timur Tengah, Yunani, Amerika Serikat, Jepang, Australia, Taiwan dan lainnya. Padahal cara marketing yang dilakukannya hanya dengan menumpuk kayu dan mebel di tepi jalan utama Probolinggo-Surabaya. Kepasrahannya membiarkan kayu-kayu itu bergeletakan menjadi pemasaran yang unik. Orang-orang yang melewati jalan utama itu, termasuk turis-turis mancanegara yang pulang mendaki gunung Bromo tertarik yang bukan saja melihat-lihat tapi juga memborong mebel-mebel uniknya. Di mata kita mebel itu harganya mahal, tapi bagi turis harga yang dinaikkan berkali lipat itu masih saja dibilang murah. Hotel-hotel berbintang di Indonesia juga tak ketinggalan memesan mebel primitifnya. 

Muchlis pun memperlihatkan satu album foto bule-bule yang pernah menjadi pelanggan setianya. Apabila turis itu datang bersama guide, Muchlis terbantu dalam transaksi bisnis. Kalau tidak ada pemandu, Muchlish diam saja karena tidak paham omongannya. “Tapi kalau dia menulis angka-angka saya paham berapa tawarannya,” katanya. Toh, dengan me­ngandalkan bahasa Tarzan itu pun bisnisnya berjalan dengan lancar. 

Muchlis pun bercanda, “Orang yang jago bahasa Inggris belum tentu bisa berbisnis dengan bule. Ini petunjuk Allah buat saya yang hanya sampai kelas 2 SD.” Cara berdagang bagi seorang buta huruf seperti dirinya hanyalah pasrah pada Allah­. “Saya tidak pernah belajar, tidak pernah berguru kecuali kepada Allah,” imbuhnya. Untuk tandatangan pun Muchlis memakai cap jempol.

“Walaupun tak bisa membaca, tapi menghitung uang saya bisa,” katanya ketawa. Dulu untuk urusan kwitansi dan surat menyurat, dia mempercayakan kepada karyawan kepercayaannya. 
Dari mebel yang dihasilkannya, Muchlis menjual Rp 200 ribu sampai Rp 50 juta. “Harga tinggi karena yang dijual bukan kayu tapi nilai seninya,” ujar Muchlis. Setiap bulan, paling minim ia mengantongi Rp 100 juta, tapi kalau sedang ramai dia dapat meraup Rp 600 juta. Uang itu terus diputarnya membeli bahan-bahan mebel berkualitas.

Selanjutnya dengan modal yang berhasil dikumpulkan, Muchlis sudah mempekerjakan tukang ukir, lalu CV. Pegon Madura Antique miliknya juga memasarkan mebel-mebel berhiaskan ukiran indah. Sekarang jumlah karyawannya mencapai 41 orang, dulu sempat 100 orang. 

Masa Perjuangan

Halangan dan rintangan tentu saja ada, barang-barang yang belum terjual menjadi beban, adakalanya ada orang yang tiba-tiba membatalkan order. Tapi ia berpikir positif saja, karena makin lama toh mebel miliknya akan semakin mahal. Di tengah kemajuan usahanya, sejumlah ujian berdatangan. Di Bali, ia sempat dikerjai seseorang yang berlagak pemilik modal padahal berniat menguasai usahanya. Di Probolinggo, barang-barang yang siap diekspor ke luar negeri malah dicuri orang. 

Pernah juga karyawannya keluar lalu membuat usaha serupa dengan menjual mebel lebih murah harganya. “Dia ingin menghancurkan saya, tapi malah dia yang tidak laku,” ungkapnya.
Muchlis menerangkan, “ Hikmahnya, saya lebih-hati-hati membuat barang. Saya selalu menjaga mutu kayu. Kalau orang memakai kayu jati baru, saya kayu jati lama. Sehingga pelanggan yang sempat pindah kembali lagi ke tempat saya.”

Bagi Muchlis, hidup bagai layang-layang yang harus menghadapi angin kencang untuk dapat terbang tinggi. Semua rintangan dihadapi dengan sabar, tetap ulet berusaha dan kepasrahan terhadap Tuhan. Atas kepasrahan itu pula ia membiarkan kayu-kayu tua bahan baku bisnisnya dibiarkan tergelatak di pinggir jalan. “Kalau pun dicuri orang, belum tentu mereka mampu menyulap barang bekas itu menjadi barang bernilai seni tinggi,” ucapnya.

“Kesulitan itu makanan saya,” ungkapnya. Dulunya Muchlis seorang kuli di penggilingan padi, sedangkan istri­nya pembantu rumah tangga. Pertama menikah, dia langsung memilih hidup mandiri walaupun dalam kesulitan dan kesempitan. Masa pengantin baru dilalui dengan tinggal di kontrakan sederhana, karena kasihan malah digratiskan oleh pemiliknya. Lalu, demi merubah nasib ia beralih menjual beras jagung, tapi malah bangkrut dan hanya punya sisa uang Rp 2.000 tahun 1993.

Masa-masa sulit itu 12 tahun lamanya menjadi kuli dan berjualan beras jagung. Saking sulitnya ia pernah menitipkan anak kepada tetangga, supaya si anak dapat makan. Pernah juga Muchlis merantau kerja kasar di Bali, malah tidak dapat mudik lebaran ke Probolinggo bertemu anak istri karena tak punya uang. Uniknya, saat uangnya pas-pasan, begitu ada yang membutuhkan Muchlis memberikan pada orang yang kesulitan. Lalu, ia paham ternyata Allah mengganti de­ngan yang lebih baik. 
Masa sulit telah berlalu, sekarang bisnisnya semakin lancar, apalagi ada anak dan menantu yang membantu. Saat rezekinya dilapangkan Allah, Muchlis ekstra waspada dengan menjelaskan, “Saya diberi amanat rezeki, jadi makin takut pada Allah. Saya takut tidak amanah. Ini tidak mudah, tetap dipertanggungjawabkan di akhirat.” 

Muchlis tidak mau karyawannya menderita seperti masa-masa sulit yang dilaluinya dulu. Dia pun sadar kesuksesannya tak terlepas dari kerja keras para anak buah. Dari itu, ia memberikan upah yang layak, melebihi standar daerah tersebut. Selain itu, ia juga rajin membagikan bonus-bonus. Muchlis mendorong karyawannya untuk terus belajar dan berkreasi agar dapat pula menjadi sukses. 

Dia memberi santunan fakir miskin, orang-orang tidak mampu dan yang paling penting menjauhi sifat sombong. Di halaman depan rumahnya yang berpekarangan luas terdapat mushala, tempatnya bersama keluarga dan karyawan bermunajat pada Allah. Dia sadar di mata manusia biasa bisnisnya tergolong ajaib, namun atas izin Allah apa saja dapat terjadi. (Yoli/foto Yoli)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.