Halloween party ideas 2015


Kalau kita tanya pada siapapun, apakah percaya dengan Allah? Bisa dipastikan semua orang akan menjawab percaya. Tapi tidak jarang percaya itu hanya sebatas retorika, di ucapkan dengan mulut dan di yakini oleh akal saja, namun tidak diikuti oleh sikap dan perbuatan dan hati. Misalnya tidak jarang ketika menderita sakit, seseorang mengantungakan harapan dan keyakinan yang sangat besar terhadap obat-obatan dan dokter sebagai penyembuh penyakitnya. Terkadang kita lupa kalau penyakit itu berasal dari Allah, dan Allah juga lah yang kemudian akan mengangkat penyakit tersebut, seperti pengalaman Eva Liza Lestari yang terbebas dari Kanker payudara stadium tiga hanya de­ngan mendekatkan diri pada Allah melalui shalat dan Zikir.

Sekitar tahun 2004 Ibu dari  empat orang anak ini, pada awalnya tidak me­ngalami rasa sakit apa apa, hanya saja pada daerah payudara muncul benjolan kecil yang agak sedikit mengganggu. Karena merasa tidak nyaman dengan benjolan itu, Ibu Lisa (demikian panggilan akrabnya), memeriksakan diri kedokter. Dari hasil pemeriksaan, benjolan tersebut belum dinyatakan sebagai tumor, atau kanker, tapi semacam getah bening. Dokter menyarankan benjolan itu sebaiknya diangkat (operasi) saja, “karena bukan tipe yang ganas, namun saya memutuskan untuk berobat jalan saja.” Kata Ibu kelahiran jakarta 1956 ini.  

Seiring berjalannya waktu setelah setelah dua tahun kemudian, barulah Ibu Lisa merasakan sakitnya. Meski benjolan tersebut tidak terlalu membesar, tapi rasa sakitnya luar biasa, rasanya perih dan panas sekali seperti dibakar dari dalam. Akhirnya Ibu Lisa konsultasi lagi ke dokter, tentu saja dokter menyarankan lagi untuk membuang benjolan tersebut dengan operasi. Karena menurut dokter tidak ada jalan lain untuk pengobatan benjolan itu yang sudah berubah menjadi kanker.  Karena berbagai pertimbangan dan kemungkinan, Ibu Lisa tetap memilih untuk tidak menjalan pembedahan. Padahal ketika itu dokter menyatakan dia sudah dalam keadaan kanker stadium tiga.

“Saya memang ingin sembuh tapi tidak dengan operasi, jadi saya berusaha mencari cara pengobatan lain, seperti herbal. Waktu itu saya meminum buah merah yang dari Irian Jaya itu, memang sedikit agak membantu meringankan rasa sakitnya. Tapi kalau obat obatan kimia saya tidak pernah minum, kalau pun dokter kasih resep saya tidak pernah tebus resepnya, saya selalu minum ramu ramuan saja,” tuturnya penuh keyakinan.

Dengan keadaan kanker yang dideritanya itu, Ibu Lisa memang masih bisa melakukan berbagai kegiatan sehari – seharinya sebagai ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Entah karena kebandelannya tidak mau operasi itu, cobaan yang datang rupanya tidak berhenti hanya sampai disitu. Entah akibat dari kankernya yang parah itu pula, tiba tiba dia juga mengalami vertigo pada saat yang sama, bahkan dokter sendiri juga sudah angkat tangan untuk mengatasi masalah vertigonya ini. “Karena vertigo inilah saya akhirnya tidak bisa beraktifitas, rasanya pusing dan dunia seperti berputar putar, hampir dua tahun saya kalau tidur itu selalu harus memakai bantal yang tinggi, agar bisa tidur dan pusingnya berkurang” ujarnya.

Dalam keadaan sakit yang kian parah itu, datanglah adik kandungnya dari Ban­dung mengajak Ibu Lisa untuk ikut pelatihan shalat khusyu’, guna lebih mendekatkan diri kepada Allah. Kebetulan adiknya tersebut sudah lama ikut pelatihan shalat khusyu’. “Ketika itu ada pelatihan di salah satu hotel di Bandung bersama Ustadz Abu Sangkan. Ya, dia ajak, saya ikut saja. Pada awal ikut pelatihan saya tidak merasakan apa-apa dan biasa biasa saja. 

Tapi setelah pulang kerumah, saya baca bukunya, saya coba praktekan setiap hari. Saya merasakan ada yang berubah dalam shalat saya, lebih tenang, lebih nyaman. Lha yang hebatnya rasa sakit saya juga terasa berubah (red: berkurang). Akhirnya saya menjalankan apa yang sudah saya dapatkan, saya praktekan, alhamdulillah saya berkesinambungan dengan Allah. Pada waktu itu saya hanya diam, pasrah total kepada Allah, Saya juga tidak meminta untuk kesembuhan, saya total ke Allah itu saja. Entah kenapa setelah sekian bulan saya jalankan kesambungan ke Allah, shilatun, kian lama kian berkurang rasa sakitnya, hingga akhirnya hilang sama sekali.” Tutur ibu Lisa yang hingga saat ini keliahatan segar bugar.

Pada hal ketika melakukan shalat, Ibu Lisa mengaku tidak membaca doa khusus atau permintaan khusus, dia hanya mem praktekan apa yang diajarkan oleh Ustadz Abu Sangkan. “Ya, cuma kesambungan dengan Allah itu saja yang total. Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan pelatihan shalat khusyu’. Barangkali Allah memberikan jalan untuk kesembuhan saya seperti itu,” ujarnya yakin.

Setelah beberapa lama melakukan shilatun keadaannya kian hari pun kian membaik. Tahuan 2008 Ibu Lisa kembali melakukan check up ke dokter, stelah di scanning, biopsi dan menjalan semua test yang disarakankan, dokter menyatakan kalau kankernya saya sudah sembuh dan tubuhnya bersih dari semua sel sel kan­ker. Bahkan vertigonya pun ternyata sudah hilang lenyap dan tak pernah kambuh lagi. 

Banyak sekali hikmah yang dia dapat­kan dengan pelatihan shalat khusyu, selain kesembuhan, rasa puji syukur yang besar kepada Allah yang tiada henti hentinya, “dalam menjalankan hidup saya juga jauh lebih tenang saat ini.  Hidup rasanya seperti tidak ada persoalan apa apa, karena semuanyanya sudah tergantung pada Allah,” kata Ibu Lisa.
“ Selama ini kan kita menghadap Allah waktu shalat, namun tidak merasakan apa apa. 
Pada hal kita ini menghadap Allah, berbicara kepada Allah, tapi kok tidak merasakan respon Allah, tidak di jawab? Tapi sekarang ini, setelah mengalami. Saya baru sadar,  ini lah jawaban dari Allah, ini yang dikatakan bahwa Allah itu Maha Mendengar, bahwa Allah itu ada dan menjawab semua doa doa kita. Seper­ti yang difirmankan kan Allah kepada Rasulnya; Katakan hai Muhammad, bahwa aku ini dekat bahkan lebih dekat dari urat nadi di leher mu. Itu sekarang sabenar benar saya rasakan,” tambahnya yang kini juga mulai melakukan syiar.

Setiap kali bertemu teman teman atau siapapun juga, dia selalu menyampaikan syiar seperti yang pernah dia dapatkan dari pengajaran pengajaran Ustadz Abu Sangkan. “Saya mendapatkan ini, kenapa juga saya tidak mau berbagi dengan orag lain.” Katanya, meski tidak melakukan syiar dengan berdakwah didepan orang banyak. Terkadang dia juga suka mendapat, tanggapan yang kurang menyenangkan. Seringkali orang mengatakan bahwa, tanpa mengikuti pelatihan itu mereka juga sudah dekat dengan Allah. Namun Ibu Lisa tidak begitu perduli dengan tanggapan itu, dia tetap menyampaikan apa yang diyakini dan dialaminya.  Rafles Rasyidin

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.