Halloween party ideas 2015

Alkhusyu - Sebagai pengasuh pondok pesantren Ibnu Cholil di Bangkalan-Madura, sekaligus keturunan langsung ulama kharismatik Syaikhona KH. Muhammad Cholil, dari itulah KH. Imam Buchori Cholil, SH merupakan sosok menarik untuk dimintai penjelasan perihal shalat khusyu’. Kyai yang ramah ini menegaskan urgensi kekhusyukan yang berkorelasi erat dengan pahala shalat. Intinya, kita harus mencapai khusyu’ agar shalat bukan sekedar pelepas kewajiban yang tidak mempunyai nilai di mata Alla­h. Bahkan ia dapat membuka tabir hikmah, mengapa khusyu’ belum menjadi mata pelajaran atau bagian kurikulum dari jenjang pendidikan. Berikut petikan wawancaranya,

Apa pentingnya khusyu’?
Khusyu’ adalah terciptanya kondisi ketenangan yang ada di pikiran, perasa­an hingga seluruh sel-sel tubuh. Tidak mudah juga mendeskripsikan apa itu khusyu’, karena khusyu’ merupakan pengalam­an spiritual yang dirasakan mukmin. Khusyu’ sangat mungkin dicapai bagi orang-orang yang ingin dan mau. Sangat mungkin karena khusyu’ itu perintah Allah, tidak mungkin sesuatu yang disuruh Allah itu tidak ada. Khusyu’ itu juga keniscayaan yang “harus” dimiliki orang yang shalat. Kata harus tadi berada dalam tanda petik karena soal hukum khusyu’ terdapat perbedaan ulama.


Apa hukumnya?
Hukum khusyu’ menjadi “harus” kare­na menurut Imam Ghazali orang yang tidak khusyu’ dalam shalat, gugur kewajiban melaksanakan shalatnya tetapi amalannya itu tidak berpahala dan tidak pula berdosa. Tidak dapat pahala shalat karena dia tidak khusyu’. Khusyu’ menjadi syarat untuk mendapatkan pahala shalat. Itulah shalat yang sebenarnya. Itulah shalat yang dikerjakan para nabi, rasul, dan sahabat-sahabatnya. Selain itu, hanya shalat khusyu’ pula yang dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.
Menurut Imam Ghazali, khusyu’ itu harus mudawamah. Maksudnya khusyu’ haruslah berlangsung dari awal hingga akhir shalat. Tetapi jika khusyu’ itu terputus, maka pada bagian shalat yang tidak khusyu’ itu, ia tidak mendapatkan pahala.

Mengapa itu tidak diajarkan?
Sebagaimana pengalaman saya yang berasal dari pesantren, khusyu’ memang tidak diajarkan secara tekstual maupun praktikal. Ini yang tidak saya pahami menga­pa tidak diajarkan pesantren. Persepsi santri-santri tentang khusyu’ juga menjadi berbeda-beda. Kyai-kyai mengajarkan shalat dengan hati yang bersih, niat yang benar, syarat dan rukun. Tentu saja dibarengi anjuran khusyu’, tapi secara teori maupun praktik itu belum ada. 
Rasul tidak mengajarkan khusyu’ dalam bentuk kata-kata. Rasul mengatakan, “Shallu kama roaitumuni ushalli!” artinya, “Shalatlah kalian sebagaimana aku melaksanakan shalat!” Dengan begitu para sahabat meniru shalat Nabi. Di situ ada tata cara shalat dan sekaligus khusyu’ dalam shalat. Nabi mengajarkan shalat secara utuh dan diterima secara utuh pula oleh sahabat-sahabatnya.
Tingkatan khusyu’ berbeda-beda, kare­na ini menyangkut pengalaman spiritual. Nabi tidak memberi aturan yang hitam putih. Islam itu fleksibel. Nabi mengajar­kannya secara global, dan ada ruang bagi ijtihad umatnya.
Dari itulah tampak uniknya Islam yang sangat universal. Bukan hanya khusyu’ yang diajarkan secara global, tapi juga hal-hal lain. Para sahabat Nabi dan juga para ulama berijtihad tentang cara-cara khusyu’ dengan tidak melenceng dari Al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman. Teknis-teknis khusyu’ sudah dijabarkan oleh berbagai ulama, maka masyarakat yang memilih hendak ikut yang mana.

Bagaimana cara mencapai khusyu’?
Pertama, dengan menyiapkan hati kita untuk menerima khusyu’ yang diturunkan Allah. Kedua, hilangkan pikiran apapun yang dapat mengganggu. Khusyu’ tidak dengan teori, tapi kosongkan diri. Ketiga, setelah itu, khusyu’ akan turun atau tercipta dengan sendirinya.
Ilmu tentang khusyu’ itu memang tidak ada, karena khusyu’ itu lepas dari teori. Khusyu’ itu dicapai seseorang dalam kondisi zero dan dirasakan sendiri oleh yang bersangkutan.
Saya tidak klaim shalat saya khusyu’. Ada kalanya khusyu’ dan adakalanya pula tidak khusyu’. Itu sebuah pengalaman spiritual yang tidak mudawamah pada diri saya. Adakalanya kondisi khusyu’ itu terputus dari saya, belum seperti wali-wali Allah yang juga khusyu’ sampai dalam kehidupan sehari-harinya. Tapi kita usahakan khusyu’ dengan latihan dan terus mencobanya.

Adakah efek lain dari khusyu’?
Khusyu’ di luar shalat menciptakan suasana yang tenang dan damai. Kita tidak merasakan apapun tentang hidup ini karena pasrah pada Allah. Tidak pu­sing dengan kondisi apapun, karena apapun yang terjadi sudah yang terbaik dari Alla­h. Tolong sebutkan apa yang tidak diatur oleh Allah? Kenapa kita harus pusin­g? Dalam shalat khusyu’ kita mendapat ketenangan hidup. Sampai di tingkat ini, otomatis akan khusyu’ dengan sendiri di luar shalat. Kita jangan berputus asa dari rahmat Allah. (Yoli)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.