Halloween party ideas 2015

Alkhusyu - TIba di Surabaya senja hari selalu menjadi momen mengesankan karena suhu mulai turun, terlebih keindahan kota pahlawan ini semakin mengagumkan berkat pertumbuhan taman-taman kota yang kian pesat. Sedianya wartawan majalah Al-Khusyu’ hendak bertemu ketua Shalat Center (SC) Surabaya, Ustadz Abdul Azis. Sayang yang bersangkutan ada keperluan di Palu, dan alhamdulillah Iman Irikora yang menjabat wakil ketua berkesempatan mendampingi. Sembari berkeliling kota, maka tersingkaplah kegiatan seru serta berbagai hal-hal menarik di SC Surabaya.

Memulai Khusyu’

“Awal mulanya, sebelum mengikuti pelatihan shalat khusyu’, saya masih buta aksara Al-Qur’an. Lalu saya mulai belajar mengenal huruf hijaiyyah dengan marbot masjid. Alhamdulillah empat kali pertemuan sudah bisa pindah langsung membaca Al-Qur’an. Lalu saya memutuskan belajar sendiri. Saya merasakan Al-Qur’a­n itu hidup. Allah memberi hidayah dengan memberikan keinginan untuk belajar,” ungkap Iman Irikora membuka percakapan.

Pada tahun 2004, Iman Irikora ingin naik haji, tapi yang terpikir justru pertanya­an yang muncul di benaknya, adakah panduan untuk shalat khusyu’? Awaluddin ma’rifatullah, pangkal pertama dalam beragama adalah mengenal Allah, tapi selama ini yang diajarkan fikih amalan tanpa dikenal siapa yang disembah. Kegamangan itulah yang lebih dulu dicarinya jawaban yang menenangkan.

Tuhan memang sudah membimbingnya ke jalan yang tepat. Pas, ketika pergi ke toko buku ia melihat sebuah buku bersampul biru dengan judul Pelatihan Shalat Khusyu’ karya Abu Sangkan. Riko, begitu ia akrab dipanggil, mengatakan pelatihan shalat khusyu’ pertama kali di Surabaya digelar pada bulan Mei 2005. Pelatihan yang diperuntukkan bagi kelas eksekutif itu digelar pada sebuah hotel. Pada pelatihan yang kedua, dia pun mengikuti training shalat khusyu’. “Saya malah tidak paham penjelasan Ustadz Abu Sangkan, tetapi saya merasakan indah­nya melaksanakan shalat. Lalu saya juga melatih diri puasa sunnah, juga lancar tanpa rasa lapar,” kenangnya. 


Sejak itu pula Iman Irikora menjadi dekat dengan komunitas Shalat Center, karena dia berkali-kali menjadi panitia pelatihan shalat khusyu’. “Saya ikut pelatihan yang kedua di Masjid Nurul Iman. Usai pelatihan, manajer Abu Sangkan yang juga teman lama saya mengajak terlibat terus dalam pelatihan-pelatihan berikutnya.”

Gelar Kegiatan

Berikutnya, pelatihan-pelatihan shalat khusyu’ menjadi rutin diadakan dengan mengandalkan trainer-trainer lokal asal Surabaya. Mereka tentunya sudah aktif di Shalat Center.  Contohnya, pelatihan rutin di setiap minggu ke tiga di masjid Pertamina. Rata-rata pelatihan shalat khusyu’ tersebut berlangsung sehari penuh dengan jumlah peserta berkisar 100-200 orang. Shalat Center (SC) Surabaya tampaknya mulai kebanjiran order, dan dengan bersemangat meladeni masjid-masjid maupun instansi-instansi yang meminta pelatihan shalat khusyu’, seperti pelatihan di masjid Bank Indonesia, Surabaya.

Di samping itu, untuk syiar yang bertujuan mencapai jangkauan lebih besar, juga diselenggarakan acara tabligh akbar di Masjid Agung Surabaya dengan peserta mencapai 8.000 orang pada tahun 2008. Acara-acara yang diadakan SC Surabaya semakin semakin semarak dan bervariasi, bahkan kini juga diadakan pelatihan haji kepada Allah. Sebuah model pelatihan yang bukan saja tentang kegiatan berhaji tetapi menangkap hakikat makna haji mabrur.

Kegiatan rutin lainnya pengajian halaqah tiap minggu di Masjid Sier Rungkut. Halaqah itu lebih kepada pertemuan untuk berbagi pengalaman tentang apa yang dirasakan atau yang dialami. De­ngan halaqah ini, sama-sama merasakan betapa lebih mudah berbagi tentang khusyu’. Dialog maupun diskusi yang akrab dan terbuka akan sangat membantu dalam mencapai khusyu’ yang berkualitas. Halaqah juga amat berguna dalam menjaga silaturahmi alumni peserta pelatihan shalat khusyu’, anggota maupun pengurus SC Surabaya.

Tentu saja kegiatan demi kegiatan itu belum membuat pengurus SC Surabaya berpuas diri. Mereka berniat melakukan sesuatu yang lebih menyentuh ke dalam prikehidupan masyarakat umum. Insyallah ke depan akan berkembang kepada kegiatan kemanusiaan seperti bakti sosial, karena sejauh ini hal-hal macam itu lebih dilakukan secara pribadi saja, tentu akan lebih bagus kalau dilaksanakan secara terorganisir.

Memikat Peserta

Apabila sejumlah organisasi berupaya mengikat anggotanya, maka SC Surabaya lebih menekankan usaha memikat para peserta. Setiapkali pelatihan shalat khusyu’, maka panitia akan menyebar kuisioner kepada seluruh peserta. Tetapi setelah dihubungi lagi, rata-rata mere­ka tidak bisa datang atau malah enggan mengikuti kegiatan SC Surabaya berikutnya. Relatif sedikit saja para peserta yang mau datang lagi memenuhi undangan.

Riko bersama rekan-rekan SC Surabaya berinisiatif mendatangi mereka satu persatu dan bertanya apa masalahnya? “Rasanya sama saja dengan pelatihan lain. Saat training ada rasa, tapi begitu di rumah rasa itu malah hilang,” jawab merek­a.

Mereka berpikir khusyu itu harus selalu gemetar dan menangis dalam shalat. Padahal afek khusyu’ akan lebih terasa khususnya adalah perubahan dalam sikap seseorang. Dari itu, SC Surabaya lebih aktif melakukan aksi jemput bola, satu persatu ditemui lalu diarahkan supaya mereka tidak terpesona hanya dengan rasa. “Yang terpenting ada tidak perubahan dalam diri? Apakah dulu suka marah, apa sekarang sudah berkurang?” ungkap Riko.

“Ya, ada perubahan,” jawab mereka. Pemahaman itulah yang membuat mereka dapat terpikat dalam kegiatan berikutnya. Soal rasa dalam shalat khusyu’ atau apapun akan berbeda-beda pada setiap orang. Namun dengan memahami efek perubahan diri, maka akan terasa manfaat yang lebih besar terhadap pola hidup. Dan itulah perubahan yang paling baik.

Saat menutup percakapan, Riko menyadari hingga mengatakan, “Mereka yang rajin shalat menjadi orang yang istiqamah dalam kegiatan-kegiatan Shalat Center.” (Yoli)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.