Halloween party ideas 2015

Alkhusyu - Ru’yah Shodiqoh merupakan bagian dari kenabian. Sebagaimana pernyataan Nabi SAW: “Ru’yah shodiqoh adalah bagian (juz) dari empat puluh enam bagian dari kenabian”.
Sesungguhnya permulaan wahyu (yang turun kepada Nabi Muhammad) itu dimulai dari Ru’yah shodiqoh (mimpi yang benar). Ini terjadi selama setengah tahun. Kemudian beralih kepada wahyu dalam keadaan terjaga selama 23 tahun. Dimulai dari awal kebangkitan diutus sebagai Nabi sampai meninggal.

Mimpi merupakan permulaan wahyu. Kebenarannya, bergantung pada kejujuran orang yang bermimpi. Orang yang paling benar mimpinya ialah orang yang paling jujur bicaranya. Pada akhir zaman dan jauh dari masa Nabi, mimpi menjadi semacam petunjuk bagi orang Mukmin. 

Sebagaimana sabda Nabi SWA:  “Demikian ini karena jauhnya masa dan pengaruh kenabian”.
Sedangkan pada masa masih kuatnya cahaya kenabian, maka petunjuk melalui mimpi, bagi orang Mukmin, tidak butuhkan.

Menurut Imam Ahmad, perban­dingan karomah (melalui mimpi) yang muncul setelah masa sahabat, dan tidak muncul pada masa sahabat, karena pada zaman sahabat, imannya masih kuat sehingga tidak membutuhkan lagi petunjuk­-petunjuk mimpi. Sementara, ummat belakangan sangat memerlukan petunjuk mimpi karena iman mereka sangat lemah.

Ubadah bin Shomid berkata: “Mimpi­nya orang mukmin itu, merupakan Kalam Tuhan yang disampaikan kepada hamba-Nya melalui mimpi.” Nabi SAW bersabda: “Tidak ada kenabian (setelah aku) kecua­li mubash-sharoot”. Sahabat bertanya: “Apakah mubash-sharoot itu?” Beliau menjawab: “Mimpi yang baik yang diperlihatkan kepada seorang Mukmin”.

Jika mimpi itu terjadi kepada orang Muslim, itu bukan kebohongan. Nabi bersabda kepada sahabatnya ketika me­reka bermimpi tentang terjadinya lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka Nabi mengatakan: “Aku juga bermimpi seperti yang kamu liat bahwa lailatul qadar terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Maka, barangsiapa yang mencari lailatul qadar maka carilah pada sepuuh hari terakhir itu”.

Mimpi itu juga seperti kasyaf (keter­singkapan), ada yang berasal dari Allah, dan yang muncul dari gejolak hatinya dan ada yang dari syaitan. Nabi SAW bersabda: “Mimpi itu ada tiga macam. Mimpi dari Allah, mimpi yang menyedihkan dari syaitan, dan mimpi dari hasil bisikan jiwa ketika dalam keadaan terjaga kemudian nampak dalam mimpi”.

Adapun mimpi yang menjadi sebab-sebab hidayah adalah khusus mimpi yang datangnya dari Allah. Mimpi para nabi adalah wahyu karena mereka terjaga dari syaitan. Ini merupakan kesepakatan ummat. Karena itulah, Ibrahim Kholilullah rela mempersembahkan anaknya, Ismail AS, untuk disembelih setelah mempero­leh wahyu melalui mimpi.

Sedangkan mimpi selain dari para nabi, harus dipertimbangkan dengan wahyu yang shohih. Jika cocok, ya, diamalkan. Jika tidak cocok dengan wahyu, ditinggalkan.

Barangsiapa yang menghendaki mimpinya itu benar, maka berusahalah jujur dan makan yang halal, menjaga perin­tah dan larangan, selalu menyempurnakan kesucian yang sempurna de­ngan menghadap kiblat dan berdzikir kepada Allah sehingga masuk sampai tidur. Maka mimpinya hampir-hampir tidak bohong.

Mimpi yang benar adalah mimpi di waktu sahur. Karena pada waktu itu lah masa turunnya Ilahi dan dekat dengan turun­nya rahmat dan pengampunan serta masa diamnya syaitan. Sebaliknya, mimpi waktu sore itu adalah waktu syaitan dan ruh-ruh syaitan bergentayangan.

Menurut Imam Malik, mimpi dari wahyu itu, ya wahyu dan melarang menafsirkan dengan tanpa menggunakan ilmu. Dan dia berkata, “Apakah kamu bermain-main dengan wahyu Allah?”
Untuk membicarakan tentang mimpi, hukum-hukumnya, rinciannya dan jalan takwilnya, itu hanya dugaan-dugaan khusus yang bisa mengeluarkan kita dari maksud yang sebenarnya. Wallahu ‘alam. (Sumber: Madaaridjus Salikin)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.