Halloween party ideas 2015

Alkhusyu - Hadits Qudsi yang agung ini diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan Baihaqi yang bersumber dari Ibnu ‘Auf. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Khairithi dan Al-Khatib yang bersumber dari Abu Hurairah.

Hadits ini mengandung pesan betapa pentingnya menghubungkan tali silaturahmi. Karena itulah, cinta dan keridhaan Allah sangat dipengaruhi oleh sikap kita dalam memaknai arti silaturahmi. Ada dua sikap manusia terhadap makna silaturahmi ini. 

Pertama, washlul-rahiim, yaitu menghubungkan silaturahmi dengan cara berbuat baik. Berbuat baik ini semisal diwujudkan dengan membantu, menolong, membahagiakan, atau menyantuni kaum kerabat dan orang-orang yang ada di sekitarnya.


Kedua, qath’ur-rahiim, yaitu memutuskan silaturahmi dan tidak menyayangi kaum kerabat dan orang yang dekat de­ngan kita. Memutuskan tali silaturahmi misalnya bisa diwujudkan dalam bentuk tidak mau bertegur sapa, menahan kebaikan, atau menyakiti, baik dengan fisik maupun ucapan verbal.

Dalam hal ini, Rahmat Allah hanya akan mengalir untuk golongan pertama yang selalu washlul-rahiim. Sebaliknya, murka Allah akan teruntukkan bagi golongan kedua. “Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan silaturahmi,” demikian sabda Rasulullah SAW dalam Muttafaqun ‘Alaihi.

Kata ‘rahim’ diambil dari nama Allah, diciptakan-Nya dengan kekuasaan-Nya sendiri, dan kedudukannya ditempatkan pada kedudukan tertinggi. Kata rahim adalah kutipan asma’ Allah, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahiim, yang berasal dari kata rahmah yang bermakna kasih sayang. Dari sini terlihat bahwa rahim pada hakikatnya adalah ‘pecahan’ dari sifat Rahman dan Rahim Allah SWT yang terdapat dalam Asma’ul Husna.

Kekuatan Silaturahmi


Silaturahmi dapat menimbulkan kekuatan mental (mental power) yang berlipat-lipat, seperti halnya sebuah lidi yang tergabung menjadi satu yang dinamakan sapu lidi yang kuat dan kokoh. Di dalam silaturahmi, kekuatan ini diperkuat dengan kekuatan ‘rahmi’ dari masing masing individu yang menjalin silaturahmi. Sebagai contoh, seorang ibu yang memiliki pancaran kuat (‘rahmi’ yang kuat kepada bayi­nya) akan menyebabkan si ibu itu mampu memiliki kekuatan menggendong anak selama berjam-jam. Bandingkan dengan ketika menggendong anak tetangga, pasti kekuatannya berbeda. Kalau diibaratkan silatun itu adalah kabel dan ‘rahmi’ adalah arus listrik, maka dalam silaturahmi yang menentukan power bukanlah ‘pertemuan’-nya, tapi kasih sayangnya. Bukan kabelnya, tapi arus listriknya.

Bersilaturahmi kepada orang orang yang mengasihi dan menyayangi kita akan menimbulkan kekuatan yang lebih besar dibandingkan kepada orang-orang yang tidak memiliki kasih sayang kepada kita. Namun kepada mereka yang tidak memiliki kasih sayang kepada kita ini, kita bisa mengambil inisiatif terlebih dahulu. Kita bisa memulainya dengan memberikan kasih sayang dengan bersilaturahmi tanpa harus menunggu orang lain memberikan kasih sayangnya untuk kita.

Dengan terlebih dahulu memulai silaturahmi kepada orang lain, ini akan memberikan keseimbangan (balancing), yaitu orang lain pun akan mengasihi kita dengan sepadan sebagai balasan. Ketika akhirnya proses saling mengasihi itu terjadi, akan muncullah kekuatan-kekuatan baru yang saling susul-menyusul. Kekuatan-kekuatan baru ini tumbuh karena kita telah mengambil prakrasa (memulai atau menjadi inisiator) untuk memberikan kasih sayang kepada orang lain terlebih dahulu tanpa harus menunggu.

Dan, sesuatu yang menarik adalah bahwa kekuatan silaturahmi ini tidak hanya berupa kekuatan yang bersifat mental saja. Kekuatan ini bisa meluas menjadi kekuatan fisik, psikis, sosial, finan­sial (ekonomi), dan bahkan spiritual. Ada satu hadits yang relevan dengan laku silaturahmi ini, yakni: 

”Barangsiapa yang suka diluaskan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. Hadits ini membuktikan dengan sangat nyata bahwa kekuatan silaturahmi dapat memanjangkan umur (sehat fisik dan psikis) dan umurpun dipanjangkan (menarik rizki).

Silaturahmi dengan Oran­g Tua

Silaturahmi yang memiliki kekuat­an paling besar adalah silaturahmi kepada orang yang memiliki kasih sayang sangat besar kepada kita. Sosok yang memiliki kekuatan kasih sayang (rahmi) yang sangat besar kepada kita ––tentu, tidak lain adalah orang tua kita. Lebih khusus adalah ibu. Hubungan kita dengan ibu telah dimulai sejak dalam kandungan. Ketika kita belum lahir saja, energi silaturahmi ibu sudah dialirkan dalam diri kita. Ini membuat kekuatan silaturahmi dengan seorang ibu sangatlah kuat. Menjaga silaturahmi dengan orang tua, membuat kasih sayang ibu mampu meresonansi kehidupan kita, nasib kita, kebahagiaan kita, bahkan jumlah rizki yang kita terima. Semakin baik kita dalam menjaga silaturahmi dengan orang tua, maka akan semakin besar kebahagiaan yang kita rasakan dalam hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat.

Orang tua adalah prioritas utama yang menjadi target silaturahmi kita. Lantas, bagaimanakah caranya? Cara yang bisa kita lakukan adalah dengan selalu membuat hati orang tua kita senang. Semakin besar kita memancarkan kasih sayang kita kepada orang tua dengan berbuat baik kepadanya, maka pancaran kasih sayang yang kita terima pun akan semakin besar. Membawakan makanan kesukaan orang tua ketika berkunjung ke rumah orang tua, sebagai misal, akan mampu memancarkan the power of silaturahmi yang sangat dahsyat. Jika orang tua sudah tidak mampu bekerja lagi, maka jaminlah kehidupannya dengan mengirimkan uang dalam jumlah yang cukup. 

Sungguh, demi Allah, ini adalah sesuatu sangat luar biasa. Hidup kita akan berubah 180 derajat, nasib kita akan berubah, dan kebahagiaan hidup kita akan bertambah-tambah dan berlipat-lipat. Terutama sekali, rejeki untuk kita akan muncul dari sumber atau jalan yang tidak pernah kita sangka-sangka dan dengan jumlah yang tidak pernah kita duga.

Bagi  para ulama sufi, orang tua adalah keramat yang ‘status’ keramatnya melebihi ‘status’ wali manapun. Karena doa orang tua memiliki the power of silaturahmi yang sangat besar. Kekuatan kasih sayang orang tua inilah yang mampu menembus Rahman dan Rahiim Allah SWT, sehingga pintu langit akan terbuka dan apa yang dimintakan oleh orang tua kepada anaknya, pasti dikabulkan oleh Allah SWT.

Karena kedahsyatan energi dari silaturahmi ini, maka kekuatan kasih sayang ini sebaiknya kita besarkan ‘arus listrik’nya agar mampu menerangi jalan hidup kita. Dengan membuat hati orang tua kita bahagia, happy, maka kita telah memperbesar ‘arus listrik’ itu. Dengan arus yang besar itu, akan menyebabkan masalah-masalah kita selesai, rejeki menjadi lancar, hutang-hutang lunas, sial berubah menjadi beruntung, keluarga menjadi lebih bahagia dan harmonis. ‘Pesugian’ (harta/kekayaan, Jawa) yang bisa membuat kaya adalah orang tua. Karena itulah, beruntunglah jika kita diamanahi oleh Allah untuk merawat orang tua di masa tuanya.  [sp]

*Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Pemerhati pendidikan karakter berbasis spiritual islam

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.