Halloween party ideas 2015

Alkhusyu - Ada pertengahan Juni 2012 ini, Shalat Center pusat kedatangan tamu spesial, KH Imam Buchori Cholil yang merupakan cicit atau keturunan langsung dari ulama besar Syaikhona KH. Muhammad Cholil Bangkalan, Madura. Kesempatan itu tak disia-siakan untuk berbagi kisah sang ulama besar yang turut mewarnai jalan sejarah Indonesia. Berikut penuturan kisah hidupnya,

Sosok Menarik
Syaikhona KH. Muhammad Cholil merupakan seorang ulama kharismatik, di mana santri-santrinya banyak menjadi kyai-kyai besar se-Jawa Madura, seperti KH. Hasyim Asy’ari yang mendirikan organi­sasi Islam Nahdhatul Ulama (NU), KH. Ma’sum dari Lasem, KH. Syawal Arifin, KH. Wahab Hasbullah dari Jombang dan lain-lain. Rata-rata santrinya menjadi kyai besar yang disegani sekaligus pejuang Islam dan pejuang kemerdekaan.

Mbah Cholil, begitu salah satu panggilan akrabnya, mendirikan pesantren di desa Kademangan, Bangkalan, Madura sehingga dikenal dengan sebutan pesantren Demangan atau pesantren Syaikhona Cholil. Sampai sekarang pesantren itu masih berjalan dengan baik dengan santri mencapai 2.000 orang dari tingkat Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Syaikhona Cholil.

Syaikhona Cholil memang berasal dari Bangkalan, namun silsilahnya terhubung ke Sunan Gunung Jati, dan jika dirunut ke atasnya, maka silsilahnya sampai kepada Rasulullah. Dari silsilahnya dengan Rasul itu, Mbah Cholil adalah generasi yang ke 23.

Sejak muda, Mbah Cholil sudah menunjukkan karamahnya. Sewaktu nyantri di Bangil, Sang Kyai menugasi Cholil muda untuk membeli gula aren ke Bangkalan karena ada acara besar di pesantren. Anehnya, tiga hari menjelang acara Cholil muda belum juga pulang ke kampungnya.
Sehingga Kyai pun memanggil, “Kok belum berangkat juga ke Bangkalan?”
Cholil menjawab, “Kyai, gula arennya sudah ada!”

Kyai penasaran dan menyuruh santri-santri menggeledah kamar Cholil. Mereka bukan saja menemukan gula aren dalam jumlah banyak tapi juga mendapati keajaiba­n. Berapa pun gula aren diambil dari kamar Cholil, gula itu tidak pernah habis meski dapur sudah disesaki gula aren.

Pada kesempatan lain, Cholil mondok di pesantren Langitan. Di hari pertama­nya mondok sebagai santri, saat shalat berjamaah dia tertawa keras sekali sehingga menimbulkan kegusaran orang ramai.
Kyai bertanya, “Kenapa kamu tertawa?”

Cholil muda menjawab, “Tidak sengaja. Saya tertawa karena melihat di atas kepala Kyai ada nampan berisikan ikan dan nasi.”

Jawaban itu tidak membuat kyai marah. Dia malah berkata, “Kamu bukan anak sembarangan. Kamu tahu saya shalat sambil membayangkan nasi dan ikan yang akan saya santap.”

Berikutnya Cholil mondok di sebuah pesantren di Banyuwangi. Anehnya, kyai malah menugasi Cholil memanjat kelapa yang buahnya dijual. Dari tugasnya itu Cholil mendapatkan upah berupa uang yang disimpannya di dalam peti. Kemudian hari kyai menugasinya belajar atau ngaji ke Mekah. Upah memanjat kelapa yang ditabungnya itu yang menjadi ongkosnya menimba ilmu di tanah suci.


Pulang Mengabdi

Lima tahun lamanya Cholil menimba ilmu agama di Mekah. Tanah haram di Mekah itu memiliki batas suci dan uniknya, Cholil tidak pernah buang hajat di dalam batas tanah suci tersebut. Dia buang hajat selalu di luar garis batas suci itu. Begitu caranya menghormati tanah suci. Setelah dianggap cukup menimba ilmu, Syekh tempat Cholil berguru di Meka­h menyuruhnya pulang dan mendirikan pesantren di kampung halaman.

Mbah Cholil berhasil menyebarkan Islam dan mendirikan pesantren. Namanya langsung termasyhur karena santri-santri­nya menjadi ulama dan tokoh besar. Itu tak terlepas dari keunikannya dalam mendidik murid-murid.

Suatu hari Mbah Cholil berpesan kepada santri-santrinya, “Sebentar lagi akan datang macan. Bersiap-siaplah!”

Para santri yang memahami karamah Syaikhona Cholil langsung bersiaga. Namun sekian lama menanti tak seekor pun macan yang mendatangi mereka. Justru yang datang seorang anak muda bernama Wahab Hasbullah dari Jombang yang hendak belajar agama. Mendapat laporan kedatangan anak itu, Mbah Cholil berkata keras pada para santrinya, “Itu macannya. Mengapa kalian biarkan masuk!”

Kemudian hari para santri menjadi paham maksud perkataan Syaikhona Cholil, KH. Wahab Hasbullah terkenal sebagai macannya Nahdhatul Ulama (NU). KH. Hasyim Asy’ari memang pendiri NU, tapi KH. Wahab secara teknis organisasi yang menjadi tulang penyangga.

Syaikhona Cholil mahir mengajarkan kitab Matan Alfiah karya Ibnu Malik sehingga menjadi pelajaran yang disukai murid-muridnya. Semasa muda sewaktu belajar di Mekah, Syaikhona Cholil menulis dengan tangannya kitab Matan Alfiah, lalu dijual. Itulah yang menjadi penopang biaya hidupnya selama belajar di tanah suci. Kitab itu sesungguhnya berisikan ilmu Nahwu/bahasa Arab. Uniknya, persoalan atau kesulitan apapun yang di­alami para santri dapat dijawab Mbah Cholil berdasarkan Matan Alfiah.

Ada kejadian menarik, suatu ketika ada orang yang minta barokah karena rumahnya sering dimasuki maling. Mbah Cholil menulis dalam bahasa Arab qoma zaidun yang dalam bahasa Indonesia artinya Si Zaid berdiri. Kalimat qoma Zaidun adalah suatu model yang biasa dijadikan contoh dalam belajar mengajar bahasa Arab. Namun Mbah Cholil menyuruh tulisan qoma Zaidun itu dipaku di pintu rumah.
Esok harinya, orang itu kaget melihat seseorang yang terus berdiri di depan pintu rumahnya. Orang itu minta maaf karena semalam berniat mencuri tetapi malah tak bisa pergi. Dia hanya dapat angkat kaki apabila dimaafkan oleh si empunya rumah.

Ketika muridnya KH. Hasyim Asy’ari hendak mendirikan organisasi Nahdhatul Ulama (NU),  Syaikhona Cholil mengutus seseorang untuk mengantarkan tongkat dan tasbih. Selama perjalanan, utusan Syaikhona Cholil itu terus membaca Ya Jabbar! Lalu tongkat dan tasbih tersebut diserahkan kepada KH. Hasyim Asy’ari. Tongkat itu menjadi simbol perjuangan NU. Pada masa perjuangan, NU itu ibarat tongkat Nabi Musa. Untuk melawan kezaliman maka ia dapat berubah menjadi ular yang besar. Itu dibuktikan semasa melawan penjajah, kyai-kyai dan anggota NU tampil bersama mengobarkan semangat jihad. Sementara di masa damai, tongkat itu dipergunakan untuk urusan sosial kemasyarakatan.

Dia mendidik santri-santrinya untuk melawan kezaliman penjajah. Itu membuat Belanda berang lantas menangkapnya, lalu dijebloskan ke penjara. Ketika itu santri Syaikhona Cholil belumlah banyak, sehingga pendukungnya tak dapat membela secara maksimal. Berikutnya terjadi hal yang aneh, seluruh sipir penjara sakit perut. Mereka berak-berak dan tak kunjung sembuh. Akhirnya mereka minta maaf kepada Syaikhona Cholil, lantas melepaskannya dari terali besi. Itu dilakukan daripada celaka terkena karomahnya. 

Saat ini, di Bangkalan, Madura ada sekitar 10 buah pesantren yang semua nya dimiliki keluarga Mbah Cholil. Di luar daerah itu juga ada keturunan Syaikhona Cholil yang mendirikan pesantren, seperti di Pamekasan, Jember dan lainnya. Kalau kita berjalan sampai ke pelosok-pelosok Madura, akan ditemukan sekitar 100 masjid yang dibangun atau dibina oleh Syaikhona Cholil. Orang semakin kagum karena tiap mendirikan masjid ia mampu menunjukkan arah kiblat, seolah ia dapat langsung melihat Ka’bah. Akhirnya, Syaikhona Cholil wafat 29 Ramadhan 1925, ia meninggalkan murid-murid tangguh yang mewarnai sejarah Indonesia. (Yoli)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.