Halloween party ideas 2015

Alkhusyu - Disini, saya ingin menjelaskan beberapa hal sederhana berkenaan dengan otak manusia. Otak manusia terdiri atas tiga lapis yang ber­evolusi. Strata pertama disebut otak purba atau otak reptilian, yang mengendalikan Five F. Otak ini melingkupi empat bagian: pons (jembatan), medulla oblongata (sum-sum sambung), hipotalamus, dan thalamus. Otak purba ini diselubungi oleh system limbic (otak paleomamalia). Strata otak paling luar dibentuk oleh kor­teks serebrum (otak neomamalia).

Manusia senang menyombongkan derajatnya lebih tinggi dibandingkan dengan primata lain dan seluruh makhluk hidup karena korteks serebrum menusia sangat maju. Meski demikian, dengan mengamati fungsi otak secara keseluruhan, tidak tepat jika kita menyematkan penilaian berlebihan ini hanya pada kor­teks serebrum. Sebanyak apa pun kita ingi­n menggunakannya, tidak banyak yang dapat kita raih dengan korteks serebrum saja, dan kebahagiaan hidup akan semakin merosot.

Jika berbicara tentang perbedaan fungsi-fungsi otak, manusia lebih suka mengarahkan perhatian pada korteks serebrum yang dimilikinya. Akan tetapi, tingkat kecerdasan manusia yang tinggi, serta derajatnya sebagai “hewan yang berpikir”, membuatnya hanya memanfaatkan maksimal 5% dari keseluruhan fungsi. Sisanya yang 95% berkutat pada inti pemuasan kebutuhan-kebutuhan naluriah: “Apa yang harus saya makan?” – “Bagaimana cara saya menarik perhatiannya?” – “Bagaimana cara saya memenangi persaingan?” Dari sanalah terlihat watak asli manusia.

Perilaku reptilian secara khusus dikendali­kan oleh otak purba. Jika memandang sesuatu sebagai mangsa, merek­a akan menyerangnya. Jika seekor  pejantan melihat seekor betina dari spesiesnya, mereka mulai berpasangan. Hal ini umumnya terjadi hampir dalam refleks bersyarat. Bentuk otak seperti ini juga ada pada manusia.

Otak mamalia sudah lebih maju. Mamalia memiliki otak khas hewan yang disebu­t “sistem limbik”. Dengan mengamati dunia anjing dan kucing dengan saksama, kita dapat mengenali bahwa seperti mengikuti sang  majikan, kembali ke kandang, atau bereaksi saat dipanggil. Manusia dan hewan sangat jauh berbeda, dan tidak diragukan lagi ini berkat korteks serebrum yang menjadikan manusia sebagai manusia. Akan tetapi, ketika kita mengamati fungsi otak dan kebutuhan-kebutuhan manusia umum­nya, kita akan mudah keliru apabila tidak memperhitungkan otak reptile atau sistem limbik.

Dari sana muncul pertanyaan. Kebutuhan-kebutuhan apa yang sesungguhnya memotivasi manusia? Apakah ia makhluk yang tidak begitu bisa dibeda­kan dengan hewan, jika menyangkut pengejaran nafsu? Atau, haruskah manusia malu akan “kebutuhan-kebutuhan reptilia”-nya? Dalam teori lima tingkat kebutuhannya, Maslow telah menjelaskan hal-hal yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Berdasarkan teori ini, berikut akan kita uraikan kebutuhan tersebut secara lebih mendalam. Maslow membagi keseluruhan kebutuhan ini dalam lima kategori (piramida kebutuhan Maslow) :

1.Kelima kategori kebutuhan ini memang seperti piramida, kita beranjak dari satu tingkat yang rendah menuju ke tingkat yang lebih tinggi. Pada piramida ini, kebutuhan dasar jasmani berada di posisi pertama dan terendah. Pada urutan pertama terdapat kegiatan bernapas, kehangatan, minum, makan, tidur, dan seks, yang biasanya muncul sebagai naluri, dorongan, atau ambisi. Kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dipuaskan untuk bertahan hidup. Titik asal dorongan ini adalah otak reptilia.

2.Ketika kebutuhan-kebutuhan dasar fisik ini dipenuhi, berikutnya muncul tuntutan akan keamanan. Ketika perut kosong kita mencari sesuatu yang bisa dimakan, tanpa menghiraukan rasa malu  atau perbuatan yang memalukan, dan agak tidak peduli bahaya. Namun, begitu tujuan tersebut tercapai, secara bertahap kita mulai memikirkan keamanan diri sendiri.

3.Ketika jenis kebutuhan pertama dan kedua sudah dipuaskan, tingkat selanjutnya adalah hubungan sosial. Tahap ini melibatkan kebutuhan individu untuk hidup sebagai anggota suatu kelompok, yang dapat digambarkan sebagai tuntutan untuk hidup bermasyarakat. Cinta termasuk ke dalam katego­ri ini karena cinta memerlukan objek dan  berlandaskan hubungan sosial.

Sekarang, telah tercapai tiga kebutuhan: lambung yang kosong telah terisi, keamanan telah terjamin, dan sebagai anggota bermasyarakat kita telah diterim­a sebagai anggota kelompok. Namun demikian, menurut Maslow, manusia yang telah meraih ketiga tingkat kebutuhan awal itu belumlah puas. Kebutuhan selanjutnya adalah pengakuan sosial dan aktualisasi diri.

4.Kebutuhan ini adalah tentang pengakuan dari orang lain, yang juga berkaitan dengan harga diri. Di dalamnya termasuk, antara lain, kepercayaan diri bahwa lebih hebat daripada orang lain, keyakinan yang kuat terhadap kemampuan diri sendiri, hasil nyata kinerja diri, dan penegasan kemandirian. Di baliknya tersimpan hasrat untuk membuat diri bangga lewat hal-hal tersebut, dan harapan bahwa prestasi ini diakui orang lain.

Bukti pengakuan khalayak berupa medali, gelar, kemasyhuran, dan julukan, adalah perwujudan hasrat ini. Akan tetapi, manusia belum puas dengan bentuk pengakuan sosial seperti itu; di samping dia juga ingin mewujudkan harapan untuk mendapatkan penghargaan sesungguhnya dari orang lain.

5.Ketika manusia sudah mencapai titik ini, sebenarnya dia telah agak maju, meski belum sampai pada tujuan. Di sinilah kebutuhan kelima dan terakhir, yakni aktualisasi diri, berperan. Manusia, yang telah mencapai tingkat keempat, seperti kata Maslow, “berkeinginan memanfaatkan sepenuhnya peluang untuk mencapai tingkat eksistensi tertinggi.” Maslow menyebut hal itu sebagai kebutuhan akan aktualisasi diri atau transenden, sebuah kondisi mental, yang membimbing menuju ranah ketuhanan.

Ranah ini telah diungkapkan dengan baik oleh Konfusius dalam kutipannya yang terkenal, “pada usia tujuh puluh, aku mengikuti kata hati tanpa menyalahi aturan.” Artinya, batas antara orang lain dan diri sendiri menghilang dan kita langsung mengikuti kata hati dalam berbuat. Jika kita kaji perbuatan sendiri, kita menyadari bahwa hal itu terjadi demi kebaikan seluruh manusia dan seluruh dunia.

Menurut Maslow, kelima tingkatan piramida kebutuhan ini telah meliputi kebutuhan-kebutuhan esensial manusia. Menurut teori Maslow, tuntutan selanjutnya selalu mengemuka begitu tuntutan sebelumnya terpuaskan sampai derajat tertentu: Ketika kebutuhan pertama terpenuhi, muncullah kebutuhan kedua; ketika kebutuhan kedua terpenuhi, muncullah kebutuhan ketiga, dan seterusnya. Mungkin Anda tertarik untuk sesekali memikirkan: sekarang, Anda berada pada tingkatan mana di piramida Maslow.

Maslow menyusun teori terkenalnya lebih dari lima puluh tahun lalu. Saya menanggapi pentingnya tesis Maslow di sini karena baru-baru ini telah terbukti bahwa fungsi otak dan kebutuhan bersesuaian secara menakjubkan. Saat Maslow mengembangkan teorinya, fungsi-fungsi otak belum terjelajahi secara luas. Berdasarkan tingkat pengetahuan dewasa ini, teori Maslow dianggap sangat memenuhi syarat untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dari sisi fisiologi otak.

Jika pengetahuan ini memang akan diterapkan pada manusia normal, kita tidak harus menunggu sampai semua mencapai tingkat kebutuhan kelima. Tidak banyak orang yang meraih tujuan aktualisasi diri, sementara hampir semua berhasil sampai pada tingkatan ketiga – kebutuhan akan kelompok dan cinta. Namun, kebanyakan orang bertahan di tingkat ini atau tingkat berikutnya: perjuangan demi pengakuan.

Hal penting apa yang diajarkan hormon kebahagian kepada kita tentang fungsi otak? Secara tersirat, hormon ini menuntut manusia untuk mencapai tingkatan kelima serta berupaya meraih tujuan aktualisasi diri. Bagi mereka yag ingin menggunakan otaknya secara cerdas dan menyeluruh, ikuti penjelasan nya di edisi depan. Dr.Shigeo Haruyama, Spesialis Bedah Saluran Pencernaan

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.