Halloween party ideas 2015

Alkhusyu - Esa adalah pengakuan hamba terhadap keesaan Allah SWT tertuang dalam kalimat tauhid Laa ilaaha ilallah, yang berarti tidak ada sesuatu (tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah.
Dikisahkan dalam Hadis Riwayat Bukhari, dan Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Mu’adz bin Jabal ra,

 “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah “.
Satu sikap penting dalam ibadah shalat adalah pengesaan seorang hamba akan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah. Ungkapan ini dirangkum dalam dua kalimat syahadat yang selalu dibaca ketika dalam posisi tasyahud; baik tasyahud awal atau pun pada tasyahud akhir.

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui “. (QS. Al Baqarah [2]: 21-22).

Definisi ESA (tauhid) menurut bahasa adalah mengetahui bahwa sesuatu (Tuha­n) itu satu. Sedangkan secara umum, tauhid dipahami sebagai pengesaan Allah SWT. Agar dalam mengabdi kepada-Nya tidak menduakan-Nya.

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan jangan­lah ia mempersekutukan satu jua pun dalam beribadat kepada Tuhannya. “. (QS. Al Kahfi [18]: 110).


Pengesaan yang diungkapkan de­ngan kalimat Laa ilaaha ilallah (Tidak ada sesuatu yang kita cintai atau kita sembah selain Allah); dalam hal ini bisa saja berupa anak kita, pasangan hidup kita, ataupun pangkat, jabatan, materi berlimpah, maupun hobi, dan lain sebagainya, yang kemudian menghantui dan menguasai pikiran kita.

Rasulullah diutus Allah, untuk memperbaiki kembali tatanan kehidupan manusia dalam berketuhanan dan menyempurnakan syariat sebelumnya. Karen­a sepeninggal para nabi sebelumnya, masyarakat telah banyak merubah konsep ketuhanan yang murni (hanif) menjadi menuhankan para pendeta, rahi­b-rahib, bahkan menuhankan para nabi sang pembawa risalah. Masalah ini telah terungkap dalam Al qur’an:

Mereka itu menjadikan rahib-rahib dan pendetanya sebagai tuhan selain Allah ... [QS. At Taubah [9]:31)

Manusia menjadikan sesembahan selain Allah, dan mereka mencintai Tuhan seolah seperti mencitai Allah. Sedangkan orang-orang mukmin mencitai Allah lebih dahsyat lagi .... [QS. Al Baqarah [2]:165)

Kemudian Alqur’an meluruskan kembali dengan menurunkan surat Al Ikhlas, qul huwa Allahu ahad, Allahu ash shamad,.......

Keberhasilan Rasulullah untuk menciptakan kondisi kemurnian spiritual masyarakat Arab, ditandai dengan pembersihan berhala-berhala yang disimpan di dalam Ka’bah. Langkah ini menandakan agama tauhid telah tegak kembali. Sehingga didalam shalat, seorang hamba menyerahkan dirinya dengan tertuju langsung kepada Allah tanpa perantara. Sebagaimana didalam sebuah doa iftitah diungkapkan;

Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamawati wal ardh, hanifan musliman wama ana minal musyrikin, inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbail ‘alamin.

Aku hadapkan wajahku kepada Wajah Tuhan Yang Menciptakan Langit dan Bumi dengan lurus sebagai orang yang berserah diri dan tidak menyekutukan-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Sekalian Alam.

Konsep ini telah menjadi baku didalam ajaran Islam sampai sekarang. Oleh karenanya, Allah sangat keras ancamannya bagi orang yang melakukan dosa syirik (menyekutukan Allah). Hal ini untuk menegaskan bahwa Tuhan Sang Pencipta Alam semesta hanyalah satu adanya (monoteisme). Islam tidak mengakui dan menolak adanya perantara didalam beribadah shalat maupun berdzikir kepada Allah. Sehingga shalat merupakan ibadah yang sangat individual, walaupun dilaksanakan secara berjamaah.

Ketauhidan ini (mengesakan Allah) sanga­t penting dipelajari. Sebab jika tidak, arah spiritual seseorang akan terjebak keda­lam spiritual yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sehingga tersesat. Ketika ruhani seseorang mencari Tuhan, kemudian menemukan pendapat bahwa Tuhan adalah seorang laki-laki atau berwujud manusia, maka ruhani sang pencari Tuhan tersebut akan mengarah kepada persepsi apa yang dipikirkan. Apabila arah pikirannya berkonsentrasi kepada benda-benda seperti lilin, suara musik, patung dan lain-lain, maka jiwanya berhenti kepada benda-benda yang dipikirkan dalam samadinya. 

Sebagaimana seseorang yang sedang mencintai sebuah benda, misalnya mobil. Pikiran dan jiwanya pasti akan selalu teringat mobil tersebut, dan jiwanya tidak bisa keluar dari apa yang dipikirkan. Akan tetapi apabila seseorang yang mengarahkan jiwanya kepada yang bukan benda, yaitu Zat Mutlak Penguasa Alam Semesta, maka jiwa akan menembus dan meluas tak terbatas melampaui ruang dan waktu.

Pikiran manusia tidak mampu menghayalkan wujud Tuhan, karena mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarkan suaranya. Sehingga otak kita tidak pernah menerima informasi melalui reseptor indria kita. Ketika indria manusia tidak memberikan informasi tentang keadaan 

Wujud Tuhan, maka otak tidak akan bergetar memberikan persepsi tentang Tuhan. Akan tetapi kalau kita bertuhan dengan perantara benda-benda, indria kita akan memberikan informasi kepada otak melalui neurotransmiter dan disimpan dalam memori otak. Sehingga setiap kali mengingat Tuhan, pasti yang bergetar adalah impuls listrik pada temporal lobes.

Inilah yang diyakini oleh Michael Persinger sebagai Titik Tuhan (God Spot). Dalam penelitiannya, seseorang yang sedang membicarakan Tuhan atau mendengarkan tentang ketuhanan maka temporal lobes-nya akan bergetar. Persinger lalu tertarik untuk menciptakan ruangan laboratorium spiritual untuk membantu orang yang ingin menggetarkan titik Tuhan dalam otaknya. Caranya dengan membuat alat ukur elektromagnetik scranial yang ditempelkan pada otaknya agar ia bisa berjumpa 

Tuhan. Penelitian ini telah menghebohkan dunia spiritual klasik yang dilakukan para sufi dan ahli ketuhanan murni. Karena pendapat Persinger ini justru mengaburkan nilai ketuhanan Islam yang tidak bisa dipersepsikan oleh otaknya. Menurutnya, siapapun bisa berspiritual tanpa harus beragama formal. Karena itu spiritual yang dikembangkan oleh Persinger adalah spiritual digital, yang berasal dari getaran otak yang berspiritual dengan perantara benda-benda. Sehingga benda-benda (berhala) itulah yang menggetarkan impuls listrik pada temporal lobes si penyembah berhala yang dikirim melalui reseptor mata dan telinga. Berbeda dengan penyembah Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Tuhan yang tidak bisa ditangkap oleh reseptor mata, telinga, penciuman sehingga temporal lobes pada otak tidak bergetar.

Kerancuan ini menjadi masalah baru didalam berketuhanan, dan merusak tata­nan agama formal sehingga semua agama sama, atau berspiritual tidak haru­s berketuhanan. Maka semakin jelaslah, bahwa “keesaan” Allah menjadi kabur akibat pemahaman persepsi yang salah, karen­a konsep spiritual yang dikembangkan adalah spiritual digital. (Abu Sangkan)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.