Halloween party ideas 2015

Alkhusyu -

Pertanyaan:
Ustadz Abu Sangkan yang saya hormati. Saya adalah seorang awam yang menganut thariqah (aliran sufisme) tertentu. Sabagai anggota thariqah, saya pernah menjalankan ritual baiat (sumpah dan janji setia) di hadapan sang mursyid (guru thariqah). Salah satu mukaddimah baiat yang telah saya lakukan adalah mengucapkan satu ayat dari surah Qaf; wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil warid (dan Kami lebih dekat dari pada urat lehernya). Yang ingin saya tanyakan, adakah korelasi antara redaksi surah Qaf yang saya baca dengan konten ajaran sufi (tasawuf)? Bagaimana pandangan ustadz tentang thariqah, mursyid dan tasawuf?
Budi Santoso dari Batam (BudiS@thmulti.com.sg)

Jawaban:
Redaksional ayat “wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil warid (dan Kami lebih dekat dari pada urat lehernya)” memang sangat berkolerasi sekali dengan ajaran tasawuf yang mengedepankan kedekatan seorang hamba dengan Rab-nya. Ayat dari surah Qaaf tersebut senada dengan ayat berikut.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)


Pada ayat pertama, Allah menyatakan diri-Nya “dekat”, sedangkan pada ayat kedua terdapat isim tafdhil, yakni salah satu bentuk struktur kalimat Arab untuk menjelaskan sesuatu lebih dari yang lain atau “lebih dekat”. Maksudnya Tuhan “berada” setelah Anda mengetahui hakikat diri; siapakah diri ini sebenarnya? Bagaimana kita akan tahu tempat Allah sementara kita saja belum paham tentang diri sendiri? Tentu saja, kalau kondisi kita seperti itu, tidak selaras dengan ajaran sufi yang menyatakan, “Man `arafa nafsahu faqad `arafa rabbahu; barang siapa yang mengetahui dirinya, pasti dia akan mengetahui Tuhannya”

Kalimat “Aqrabu min hablil warid” memberikan pengertian bahwa Allah ada di atas hakikat diri manusia, bukan dalam hati manusia, juga bukan dalam jiwa manusia. Namun dia ada  di dalam dan di luar sekaligus. Dia meliputi segala sesuatu (baca QS. Fushilat; 54).

“Ingatlah bahwa Sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa Sesungguhnya dia Maha meliputi segala sesuatu.” (QS. Fushilat; 54)
Jadi untuk memandang Allah atau menyebut nama-Nya, jangan keliru dan salah mempersepsikannya. Jangan sampai ada anggapan kita bahwa Allah seolah-­olah sedang bersemayam di dalam rongga dada manusia, masuk dan lebur di dalamnya.

Tentang thariqah menurut saya, sah-sah saja, asal tidak menyimpang dari ketentuan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Saya setuju berthariqah. Tapi jangan sampai kita menklaim bahwa thariqah adalah satu-satunya jalan mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai kita mengatakan bahwa yang tidak ikut thariqah tertentu tidak akan diterima Allah amalnya. Yang arif dan bijaksana adalah kita menjadikan Al-qur’an dan As-Sunnah sebagai sandaran utama kita.

Mengenai mursyid (guru spiritual dalam thariqah), selama Anda tidak mengang­gapnya sebagai penghubung ruh Anda atau wasilah menuju Allah, tentu itu boleh saja. Sepanjang mursyid Anda ajarannya selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah, Anda berhak menjadikan dan memposisikan ia sebagai anutan sejati.

Saya sarankan kepada Anda, jangan juga sampai berlebihan dalam menyikapi sang guru hingga Anda menkultuskannya, baik dalam kondisi sadar maupun tidak. Sebab menkultuskan selain Allah itu bagian dari perbuatan dosa syirik (menyekutukan Allah). Saat Anda berzikir, jangan sampai Anda membayangkan sang guru (mursyid). Hilangkan atau nafikan siapa saja selain Allah.

Posisi mursyid tak lebih dari sekedar manusia biasa yang mengemban amanah membina jamaahnya agar dapat beribadah dengan baik dan benar. Bila mursyid berlaku lurus, maka perannya adalah sebagai pewaris risalah para Nabi. Para Rasul merupakan abdi Tuhan dan pemberi peringatan, bukan pemberi hidayah. Ingat, seberapa pun kuatnya tekad Nabi kita Muhammad mendakwahi paman kesayangannya AbuThalib, namun akhir­nya Beliau tak kuasa mengislamkannya. Begitu pula seorang Nabi Nuh as yang tidak mampu memberi hidayah kepada anaknya yang kafir. Cerita ini dapat Anda simak lebih dalam lagi di QS. Al-Qashash ayat 56.

Karena itu, kita harus menggarisbawahi bahwa hak kita hanya berupaya mendoakan terbukanya pintu hidayah. Selanjutnya, serahkan semua urusan kepada-Nya. Sebab, Dia-lah Sang Pembuka hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Memberi hidayah adalah hak mutlak (preogratif Sang Khalik (Sang Maha Pencipta).

Alangkah baiknya Anda menyimak kembali bacaan surah Al-Fatihah yang biasa dibaca dalam shalat sehari-hari. Secara substansial, surah Al-Fatihah sangat sarat dengan nilai-nilai akidah dan keyakinan. Misalnya saja, dalam redaksional kalimat ihdinash shiraathal mustaqim; tunjukkan Kami jalan yang lurus, mengandung ajara­n asasi tauhid. Artinya, Allah-lah Sang Pemberi Hidayah yang menuntun kita ke jalan yang lurus.

Menurut saya, thariqah yang paling tertinggi adalah thariqah Nabi Muhamma­d saw. Seluruh ajarannya sempurna dan paripurna, tak ada sedikit pun kekurangannya. Ibadah shalat yang merupakan salah satu syariat yang diajarkan Rasulullah saw adalah ajaran thariqah tertinggi dan sempurna. Tak ada satu pun thariqah lain di dunia ini yang mampu menandingi thariqah shalat.

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.